RADAR PALU – Meski belum terdeteksi titik panas dengan kepercayaan tinggi, pemantauan BMKG menunjukkan puluhan hotspot masih muncul di wilayah Sulawesi Tengah, menandakan perlunya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Data satelit BMKG mencatat sebanyak 61 titik panas dengan tingkat kepercayaan rendah hingga sedang tersebar di Sulawesi Tengah berdasarkan pemantauan per 2 Februari 2026 dini hari.
Berdasarkan Peta Sebaran Titik Panas (Hotspot Map) yang dirilis BMKG, deteksi hotspot di Sulawesi Tengah dilakukan menggunakan satelit Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA20 dengan waktu pengamatan pada 02 Februari 2026 pukul 00.23 WIB atau 01.23 WITA.
Dalam data tersebut, tercatat 19 titik panas dengan tingkat kepercayaan rendah yang ditandai warna hijau, serta 42 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang yang ditandai warna kuning.
Sementara itu, tidak ditemukan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau warna merah.
BMKG menjelaskan, deteksi hotspot dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar.
Sistem ini bekerja dengan mendeteksi anomali suhu panas yang berbeda dari kondisi sekitarnya, yang menjadi indikasi awal terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Pengamatan hotspot dilakukan baik pada siang maupun malam hari.
Namun, BMKG juga menegaskan bahwa pada wilayah yang tertutup awan atau berada dalam blank zone, titik panas tidak dapat terdeteksi secara optimal.
Data hotspot ini bersumber dari BRIN dan diolah oleh BMKG sebagai bagian dari sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan.
Informasi tersebut menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan kewaspadaan dan langkah antisipasi di lapangan.(acm)
Editor : Mugni Supardi