Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Polusi Udara Meningkat, PM10 di Sulawesi Tengah Melonjak 68 Persen Sepanjang 2025

Mugni Supardi • Selasa, 27 Januari 2026 | 15:46 WIB
Kualitas udara di Kota Palu sepanjang tahun 2025 menunjukkan dinamika yang perlu menjadi perhatian serius.
Kualitas udara di Kota Palu sepanjang tahun 2025 menunjukkan dinamika yang perlu menjadi perhatian serius.

RADAR PALU - Kualitas udara di Sulawesi Tengah sepanjang 2025 menunjukkan tren memburuk. Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri kegiatan Kaleidoskop Iklim, Kaleidoskop Kualitas Udara Tahun 2025 dan Prakiraan Iklim Tahun 2026 mencatat lonjakan signifikan konsentrasi partikulat kasar PM10, khususnya pada Juli 2025.

Konsentrasi PM10 pada bulan tersebut mencapai 33,19 µg/m³, meningkat sekitar 68 persen dibandingkan Juli 2024 yang berada di angka 19,70 µg/m³.

PM10 sendiri adalah debu partikulat yang terutama dihasilkan dari emisi gas buangan kendaraan. Efek kesehatan dari paparan PM10 dalam waktu singkat dapat mempengaruhi reaksi radang paru-paru, ISPA (Infeksi saluran pernapasan atas) dan gangguan pada sistem kardiovasuler.

Sementara itu kenaikan juga terjadi pada partikulat halus PM1 dan PM2.5 yang masing-masing mencapai 25,16 µg/m³ dan 27,97 µg/m³. PM1 adalah materi partikulat berukuran kurang dari 1 mikron, jenis polutan udara paling halus dan berbahaya karena dapat masuk ke dalam aliran darah dan organ dalam. Sumbernya meliputi asap, jelaga, bakteri, dan debu rumah tangga yang sangat halus.

Sedangkan PM2.5 adalah partikel udara berukuran sangat halus, kurang dari atau sama dengan 2,52 mikron yang berbahaya bagi kesehatan karena mudah terhirup masuk ke dalam paru-paru dan aliran darah. Polutan ini berasal dari asap, debu, konstruksi, dan emisi kendaraan, serta merupakan ancaman kesehatan terbesar karena ukurannya yang lebih kecil dari sehelai rambut manusia.   

Dengan kondisi tersebut, SPAG Lore Lindu Bariri menjelaskan, peningkatan partikulat dipengaruhi oleh kondisi meteorologis kering, aktivitas manusia, serta dinamika angin yang memperlambat dispersi polutan di atmosfer. Periode September hingga Oktober 2025 bahkan menunjukkan tren polusi yang konsisten tinggi.

Kondisi ini berpotensi berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Paparan PM2.5 dan PM10 dalam jangka panjang diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit paru dan kardiovaskular.

SPAG Lore Lindu Bariri mendorong penguatan pengendalian kualitas udara, terutama menjelang musim kemarau. Edukasi publik, pengurangan emisi, serta pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan dinilai penting untuk menekan dampak kesehatan di masa mendatang.(acm) 

Editor : Mugni Supardi
#Musim kemarau dan kualitas udara #Partikulat PM10 dan PM25 #BMKG SPAG Lore Lindu #PM10 Sulteng #Dampak polusi udara bagi kesehatan #Pencemaran udara Palu #Data BMKG kualitas udara #Polusi udara Sulawesi Tengah #Kualitas udara 2025