Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Hari Gizi Nasional 25 Januari, Potret Tantangan Gizi Warga Sulteng

Muhammad Awaludin • Minggu, 25 Januari 2026 | 10:33 WIB
ILUSTRASI Aktivitas keluarga saat menyiapkan makanan di rumah, mencerminkan pesan Hari Gizi Nasional bahwa kualitas gizi dimulai dari meja makan.
ILUSTRASI Aktivitas keluarga saat menyiapkan makanan di rumah, mencerminkan pesan Hari Gizi Nasional bahwa kualitas gizi dimulai dari meja makan.

RADAR PALU– Setiap 25 Januari, Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional. Di Sulawesi Tengah, momentum ini menjadi pengingat bahwa persoalan gizi masih menjadi pekerjaan rumah bersama, meski kesadaran hidup sehat perlahan meningkat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah menunjukkan pola konsumsi masyarakat masih belum sepenuhnya seimbang. Dalam publikasi Konsumsi Kalori dan Protein Penduduk Sulawesi Tengah 2024, BPS mencatat bahwa asupan energi penduduk masih didominasi kelompok karbohidrat, terutama dari padi-padian.

 

 

 

Sementara itu, konsumsi dari kelompok pangan lain seperti protein hewani, sayur, dan buah belum merata di seluruh kelompok masyarakat. Padahal, keragaman pangan menjadi kunci penting dalam menjaga kualitas gizi jangka panjang.

BPS juga mencatat bahwa ikan dan hasil laut masih menjadi sumber protein utama masyarakat Sulawesi Tengah. Namun, kontribusi protein dari daging, telur, dan susu relatif terbatas dan dipengaruhi oleh faktor ekonomi serta kebiasaan konsumsi rumah tangga. 

Kondisi tersebut beririsan langsung dengan status gizi masyarakat. Berdasarkan data sektor kesehatan, Sulawesi Tengah masih menghadapi tantangan gizi ganda, yakni gizi kurang dan kelebihan gizi yang terjadi bersamaan.

Salah satu indikator yang masih menjadi perhatian adalah stunting. Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat, prevalensi stunting berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencapai 27,2 persen.

Angka tersebut menunjukkan perbaikan pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, yang mencatat prevalensi stunting Sulawesi Tengah turun menjadi 26,1 persen. Meski menurun, capaian ini masih berada di atas rata-rata nasional yang tercatat sebesar 19,8 persen. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan gizi di Sulawesi Tengah tidak hanya berkaitan dengan kecukupan makanan, tetapi juga kualitas dan keragaman asupan, terutama pada ibu hamil dan anak-anak di masa awal kehidupan. 

Di sisi lain, persoalan kelebihan gizi juga mulai mengemuka, khususnya di wilayah perkotaan. Konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta rendahnya aktivitas fisik, menjadi pola yang semakin umum seiring perubahan gaya hidup.

BPS mencatat kemudahan akses terhadap makanan siap saji dan minuman berpemanis turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Sebaliknya, konsumsi sayur dan buah segar masih tertinggal dibandingkan anjuran gizi seimbang.

Melalui peringatan Hari Gizi Nasional, pemerintah terus mendorong edukasi pola makan beragam, bergizi seimbang, dan aman. Pesan untuk membatasi gula, garam, dan lemak, serta meningkatkan konsumsi protein, sayur, dan buah, menjadi bagian dari kampanye kesehatan berkelanjutan. 

Upaya perbaikan gizi juga diarahkan sejak usia dini sebagai investasi kualitas sumber daya manusia Sulawesi Tengah di masa depan.

Momentum 25 Januari menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak dibangun secara instan. Dari pilihan menu di meja makan hingga kebiasaan keluarga sehari-hari, perbaikan gizi dimulai dari rumah dan membutuhkan peran semua pihak.***

Editor : Muhammad Awaludin
#gizi Sulawesi Tengah #kesehatan masyarakat #Radar Palu #data BPS gizi #stunting Sulteng #hari gizi nasional