RADAR PALU - Sepanjang tahun 2025, Sulawesi Tengah mengalami dinamika iklim yang cukup menonjol, mulai dari suhu udara ekstrem, hujan sangat lebat, hingga peningkatan konsentrasi polutan udara.
Hal itu terungkap dalam Rekap Iklim dan Kualitas Udara 2025 yang disampaikan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Lore Lindu Bariri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepala GAW Lore Lindu Bariri, Asep Ilahi, mengungkapkan bahwa suhu udara tertinggi selama 2025 tercatat mencapai 39,63 derajat Celsius.
“Angka tersebut terjadi pada 15 Mei 2025 di wilayah Dolago, dan menjadi salah satu suhu tertinggi yang pernah tercatat di Sulawesi Tengah,” kata Asep Ilahi, Jumat (23/1/2026).
Selain suhu ekstrem, curah hujan juga menunjukkan intensitas yang tidak biasa. Berdasarkan data GAW Bariri, hujan harian tertinggi mencapai 340 milimeter yang terjadi pada 4 Mei 2025 di Gimpu.
Curah hujan tersebut berpotensi besar memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Dari sisi kualitas udara, GAW Bariri mencatat lonjakan signifikan partikulat PM10 pada Juli 2025. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi aktivitas manusia, cuaca kering, serta dinamika atmosfer yang kurang mendukung dispersi polutan.
Tak kalah penting, konsentrasi karbon dioksida (CO₂) sebagai gas rumah kaca utama juga terus menunjukkan tren tinggi. Sepanjang 2025, level dasar CO₂ tercatat berada di atas 433 ppm, angka yang mencerminkan tekanan serius perubahan iklim global.
Prakiraan Iklim 2026
Memasuki tahun 2026, BMKG melalui GAW Bariri memprakirakan curah hujan berada pada kategori normal hingga atas normal, terutama pada awal tahun.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan lebih terhadap potensi banjir dan tanah longsor.
Sementara itu, suhu udara diprediksi cenderung lebih hangat dari normal, khususnya di wilayah pesisir Sulawesi Tengah.
Imbauan dan Rekomendasi
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Sektor pertanian juga diharapkan menyesuaikan kalender tanam dengan distribusi hujan yang diprakirakan.
Selain itu, pengelolaan sumber daya air seperti waduk dan embung perlu dioptimalkan sebagai cadangan saat musim kemarau.
Dari sisi kesehatan, masyarakat diingatkan untuk menjaga asupan cairan tubuh, terutama saat suhu udara meningkat.
“Informasi iklim ini diharapkan menjadi dasar pengambilan kebijakan dan langkah mitigasi agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan iklim,” pungkas Asep.(acm)
Editor : Mugni Supardi