RADAR PALU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah mencatat nilai ekspor daerah pada November 2025 mencapai US$1.756,53 juta. Meski turun US$84,12 juta dibandingkan bulan sebelumnya, kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Tengah masih menunjukkan surplus yang kuat.
Plt Kepala BPS Sulawesi Tengah, Imron Taufik J. Musa, mengungkapkan bahwa ekspor Sulawesi Tengah masih ditopang sektor industri berbasis sumber daya alam, terutama komoditas besi dan baja.
“Besi dan baja menjadi penyumbang terbesar ekspor dengan nilai US$1.403,14 juta atau 58,59 persen dari total ekspor November 2025,” ujar Imron dalam rilis resmi BPS.
Selain besi dan baja, ekspor Sulawesi Tengah juga disokong oleh pengiriman ke sejumlah negara mitra utama. Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$756,17 juta atau 43,05 persen dari total ekspor bulan tersebut.
Dari sisi pelabuhan, Pelabuhan Bahodopi memegang peranan dominan sebagai pintu keluar ekspor. Nilai ekspor melalui pelabuhan ini mencapai US$1.680,34 juta atau 77,56 persen dari total ekspor Sulawesi Tengah pada November 2025.
Secara kumulatif, selama periode Januari–November 2025, total nilai ekspor Sulawesi Tengah tercatat sebesar US$19.976,86 juta. Dari jumlah tersebut, US$19.238,68 juta dikirim melalui pelabuhan di dalam Provinsi Sulawesi Tengah, sementara US$738,18 juta melalui pelabuhan di provinsi lain.
Sementara itu, dari sisi impor, BPS mencatat nilai impor Sulawesi Tengah pada November 2025 mencapai US$847,73 juta, atau meningkat US$47,43 juta dibandingkan November 2024. Bahan bakar mineral menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai US$175,12 juta atau 20,66 persen dari total impor.
Tiongkok tercatat sebagai negara asal impor utama Sulawesi Tengah. Adapun Pelabuhan Morowali menjadi pintu masuk terbesar bagi arus impor sepanjang November 2025.
Dengan kinerja tersebut, neraca perdagangan Sulawesi Tengah pada November 2025 tetap mencatat surplus sebesar US$908,81 juta, meski mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Struktur perdagangan Sulawesi Tengah masih didominasi industri pengolahan berbasis sumber daya alam,” pungkas Imron.***
Editor : Muhammad Awaludin