RADAR PALU - Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk menjadikan kawasan terdampak likuefaksi Balaroa sebagai Memorial Park, bukan lagi sebagai kawasan hunian.
Hal tersebut disampaikan Gubernur saat menerima audiensi Forum Likuefaksi Balaroa di ruang kerjanya, Jumat (9/1/2026).
Audiensi tersebut dipimpin Ketua Forum Likuefaksi Balaroa Abdul Rahman Kasim dan dihadiri tokoh agama Husen Habibu serta perwakilan masyarakat korban bencana likuefaksi Balaroa.
Gubernur Anwar Hafid menyampaikan bahwa kawasan Balaroa memiliki nilai sejarah dan kemanusiaan yang sangat tinggi, sehingga perlu ditata secara khusus sebagai ruang memorial dan edukasi kebencanaan bagi masyarakat luas.
“Saya sepakat, kawasan itu tidak lagi digunakan untuk hunian. Balaroa sangat tepat dijadikan taman memorial, sebagai tempat mengenang, berziarah, sekaligus pembelajaran kebencanaan untuk generasi mendatang,” ujar Anwar Hafid.
Menurut Gubernur, penataan Memorial Park harus dilakukan secara tertib, humanis, dan berkeadilan, dengan tetap menghormati hak kepemilikan tanah masyarakat yang terdampak bencana.
Untuk itu, ia mendorong masyarakat korban likuefaksi membentuk yayasan atau ikatan persaudaraan sebagai badan pengelola kawasan. Pemerintah, kata Anwar, siap memberikan dukungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Tanahnya tetap milik masyarakat. Namun pengelolaannya dilakukan bersama melalui yayasan agar tidak dikuasai secara pribadi. Dari situ bisa disusun konsep Memorial Park yang matang dan diajukan ke pemerintah,” jelasnya.
Gubernur menambahkan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga tengah merancang pembangunan museum kebencanaan sebagai bagian dari upaya jangka panjang penguatan edukasi dan mitigasi bencana.
Museum tersebut direncanakan mulai dibangun pada 2027 dan akan mendokumentasikan peristiwa gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi Palu 2018.
“Ini bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi bagaimana kita belajar agar tragedi serupa dapat diminimalkan di masa depan,” kata Anwar Hafid.
Pemerintah Provinsi berharap kolaborasi antara masyarakat korban bencana dan pemerintah dapat melahirkan kawasan memorial yang bermartabat, berfungsi sosial, serta menjadi simbol ketangguhan dan pembelajaran kebencanaan di Sulawesi Tengah. ***
Editor : Talib