Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Kisah Ina Tobani, Penjaga Kain Kulit Kayu Kulawi

Muchsin Siradjudin • Minggu, 4 Januari 2026 | 15:52 WIB
MENENUN: Ida Tobani, sedang fokus melakukan pekerjaan menenun kulit kayu yang sudah ditekuninya sejak lama.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).
MENENUN: Ida Tobani, sedang fokus melakukan pekerjaan menenun kulit kayu yang sudah ditekuninya sejak lama.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).

DI SEBUAH rumah sederhana di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, bunyi ketukan kayu masih sesekali memecah kesunyian.

Irama itu datang dari tangan Ina Tobani (84), perempuan purbaya yang hingga kini setia menjaga tradisi pembuatan kain kulit kayu warisan budaya yang diperkirakan telah ada selama ribuan tahun.

Ina Tobani menjadi satu dari sedikit, bahkan mungkin yang terakhir, perempuan Kulawi yang masih aktif membuat pakaian adat dari kulit kayu secara tradisional.

Keahlian itu ia pelajari sejak 1957, selepas menamatkan Sekolah Rakyat (SR), diwariskan langsung oleh ibu dan neneknya.

“Sudah lama saya belajar, dari tahun 57. Kalau nanti ada yang meneruskan, anak saya Zainab,” ujar Ina Tobani sambil tersenyum saat ditemui di kediamannya, Minggu (4/1/2026).

Meski usianya hampir satu abad, Ina masih bekerja setiap hari (jika ada pesanan). Memukul serat kayu hingga menjadi lembaran kain bukan pekerjaan ringan. Namun, dari aktivitas itulah ia bertahan hidup.

Sepasang kain kulit kayu buatannya dijual dengan harga mulai Rp1,5 juta, diminati pembeli dari dalam hingga luar daerah.

Seluruh proses pembuatan dilakukan manual sesuai tradisi leluhur. Bahan utama berasal dari kulit ranting pohon beringin. Untuk sepasang pakaian adat, dibutuhkan sekitar 20 batang ranting sepanjang 1,5 meter.

“Beringin seratnya kuat. Di hutan Desa Mataue banyak jenisnya. Ranting yang masih muda pun bisa dipakai,” jelasnya.

Kulit kayu dibersihkan, direbus dalam belanga tanah selama satu jam, lalu direndam selama empat hari.

Setelah itu, kulit ditempa berulang kali menggunakan alat tradisional seperti pola, Ike Tinahi, dan Ike Tiva hingga halus. Proses tersebut membutuhkan tenaga besar dan ketelatenan tinggi.

Kulit kemudian diratakan menggunakan Ike Pogea dan disambung tanpa jahitan dengan Ike Popapu hingga membentuk rok dan kain.

Setelah dijemur, kain kembali dihaluskan lalu diawetkan menggunakan buah Ula, tanaman khas Kulawi yang berfungsi sebagai pewarna sekaligus penguat serat kain.

“Satu pasang baju paling cepat satu bulan baru selesai,” tuturnya.

Menariknya, seluruh alat yang digunakan Ina Tobani merupakan peninggalan keluarga yang telah berusia ratusan tahun. Banyak alat serupa di Kulawi kini dijual atau dimuseumkan, namun Ina memilih mempertahankannya.

“Saya tidak mau jual. Ini alat orang tua dan nenek saya. Sampai sekarang masih dipakai dan masih kuat,” katanya.

Bagi Ina, bunyi ketukan palu memiliki makna lebih dari sekadar kerja. Dahulu, suara itu terdengar hampir dari setiap rumah di Kulawi.

“Kalau saya memukul kain, orang sering singah kerumah dan bilang teringat orang tua mereka dulu,” ujarnya.

Upaya pelestarian terus ia lakukan. Ina telah mengajarkan pembuatan kain kulit kayu kepada sejumlah anak muda dan membentuk kelompok pengrajin di Desa Mataue. Semua pelatihan dilakukan tanpa bayaran.

Namun, tidak banyak yang sanggup bertahan karena prosesnya berat dan memakan waktu lama.

Meski begitu, Ina tak menyerah. Lebih dari 72 tahun mengabdi, ia menjadi simbol keteguhan budaya lokal.

Dedikasinya mendapat pengakuan negara dengan menyabet gelar Maestro Seni Tradisi pada ajang Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025.

Penghargaan itu menegaskan peran Ina Tobani sebagai penjaga warisan kain kulit kayu yang diperkirakan telah ada selama 4.000 tahun.

Di tangannya, identitas budaya Kulawi tidak hanya bertahan, tetapi terus diwariskan.

“Harapan saya, anak-anak muda jangan malu belajar. Supaya kain kulit kayu ini tidak hilang,” pungkas Ina.(**)



Editor : Muchsin Siradjudin
#Penjaga warisan kulit kayu #Ina Tobani #Dedikasinya mendapatkan pengakuan negara #Simbol keteguhan budaya lokal