RADAR PALU – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) memaparkan hasil kajian dan rekomendasi strategis dalam kegiatan Diseminasi Hasil Riset dan Rekomendasi Kebijakan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro Tahun 2025.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia dan berlangsung pada 23 Desember 2025 di Gedung LPPM Universitas Diponegoro, Semarang, pada Selasa (23/12/2025).
Diseminasi ini menjadi forum penting untuk menyampaikan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kawasan transmigrasi sekaligus merumuskan arah pengembangan Kawasan Transmigrasi (KT) Palolo yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi investasi.
Dalam pemaparan hasil riset, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP menilai KT Palolo memiliki potensi strategis sebagai kawasan penyangga pangan regional. Selama ini, Palolo berperan sebagai lumbung padi bagi Kabupaten Sigi dan Kota Palu.
Dukungan lahan produktif yang luas, posisi strategis pada jalur logistik Napu–Palolo–Palu, serta tumbuhnya embrio industri kecil menengah (IKM) dan UMKM transmigran menjadi modal utama pengembangan kawasan.
Selain itu, tingkat kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana dinilai cukup baik sebagai prasyarat pembangunan kawasan yang tangguh.
Meski demikian, hasil kajian juga mengungkap sejumlah tantangan struktural yang masih menghambat percepatan pembangunan kawasan.
Tantangan tersebut meliputi konflik penguasaan lahan usaha, lemahnya kelembagaan ekonomi lokal, pemasaran produk pertanian tanpa merek lokal, serta lambatnya transformasi tata ruang pada satuan permukiman transmigrasi.
Keterbatasan infrastruktur dasar kawasan dan ancaman bencana alam dinilai berpotensi menurunkan minat investasi apabila tidak ditangani secara sistematis.
Selain persoalan internal, tim peneliti juga menyoroti adanya distorsi pasar, seperti praktik monopoli dan ketergantungan petani pada tengkulak, khususnya pada komoditas kakao.
Produk lokal Palolo kerap mengalami misbranding sehingga kehilangan identitas dan nilai tambah, bahkan dipasarkan dengan merek dari daerah lain.
Ketidakpastian dan tumpang tindih penguasaan lahan, serta belum sinergisnya kebijakan lintas sektor, turut memperkuat persoalan agraria di kawasan transmigrasi.
Sebagai respons, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP KT Palolo merekomendasikan strategi investasi kawasan yang dibagi ke dalam tiga tahapan.
Pada jangka pendek, fokus diarahkan pada peningkatan kualitas infrastruktur dasar untuk mendukung pelayanan publik dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Pada jangka menengah, pengembangan sentra pengumpul dan produksi hasil pertanian berbasis agroindustri serta penguatan ekosistem pasar lokal dinilai penting untuk mendorong transformasi kawasan.
Sementara pada jangka panjang, penguatan mitigasi bencana dan strategi branding produk unggulan lokal—seperti beras Sigi, bawang garing, dan produk olahan khas Palolo—dipandang krusial dalam meningkatkan daya saing daerah.
Diseminasi ini juga menekankan pentingnya penerapan manajemen lahan integratif sebagai fondasi pengembangan kawasan transmigrasi.
Tim merekomendasikan integrasi kebijakan lahan, tata kelola penguasaan dan pemanfaatan lahan, serta pengembangan sistem informasi lahan yang memuat data nilai lahan, penggunaan lahan, penguasaan lahan, dan informasi pasar.;Baca Juga: Libur Nataru, Millenium Waterpark Palu Bagi Diskon Rombongan hingga 10%
Pendekatan ini dinilai mampu mendukung penyusunan dokumen perencanaan pembangunan, seperti RTRW dan RPJMD, agar lebih pro-investasi sekaligus meminimalkan konflik agraria.
Lebih lanjut, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP KT Palolo juga mengusulkan penguatan konsep regionalisasi transpolitan melalui koridor KETT SIPOLU (Sigi–Palu–Poso–Parigi Moutong–Morowali Utara–Luwuk).
Koridor ini dinilai memiliki konektivitas distribusi komoditas yang kuat dengan Kota Palu dan Luwuk sebagai dua simpul ekonomi regional.
Regionalisasi transpolitan diharapkan mampu membentuk ekosistem investasi berbasis komoditas lokal yang terintegrasi dengan sistem pengolahan dan distribusi logistik lintas kabupaten/kota.
Dalam rekomendasinya, tim mendorong adanya kesepakatan regionalisasi transpolitan pada jangka pendek, pembentukan badan koordinasi regional pada jangka menengah, serta promosi investasi kawasan transpolitan secara berkelanjutan pada jangka panjang.
Dukungan RTRW nasional, RTRW provinsi, serta sistem logistik nasional dinilai menjadi faktor kunci keberhasilan konsep tersebut.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Transmigrasi RI, Velix Wanggai, menyampaikan bahwa setiap universitas peserta Ekspedisi Patriot memiliki kata kunci rekomendasi yang berbeda.
“Hasil akhir Universitas Diponegoro membawa kata kunci regional transpolitan sebagai arah baru pengembangan kawasan transmigrasi,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi RI, Iftitah Sulaiman Suryanegara, menegaskan bahwa transformasi transmigrasi telah mengalami pergeseran mendasar.
“Transmigrasi tidak lagi dimaknai sekadar memindahkan penduduk, melainkan membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui peningkatan produktivitas lahan dan kapasitas sumber daya manusia,” jelasnya.
Rektor Universitas Diponegoro, Suharnomo, berharap hasil Ekspedisi Patriot dapat menjadi rujukan kebijakan dan tidak berhenti sebagai dokumen kajian semata.
Ia menekankan pentingnya tindak lanjut dan keberlanjutan program agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
UNDIP, lanjutnya, siap mendukung penuh program pemerintah yang memberikan kebermanfaatan luas.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan para guru besar dalam program Ekspedisi Patriot merupakan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi agar ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi hadir dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Melalui Diseminasi Hasil Riset Ekspedisi Patriot ini, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah dalam menghadirkan rekomendasi kebijakan berbasis riset, sekaligus mendorong transformasi kawasan transmigrasi menuju pusat pertumbuhan ekonomi regional yang inklusif dan berdaya saing.(gel)
Editor : Muchsin Siradjudin