RADAR PALU - Proyek preservasi dan pelebaran Jalan Nasional ruas Tagolu–Tentena di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menuai perhatian serius masyarakat.
Bukan hanya soal lambannya progres, tetapi lebih pada ancaman keselamatan pengguna jalan, terutama di tengah arus Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Pantauan di lapangan pada Jumat (26/12) menunjukkan aktivitas proyek bernilai Rp101 miliar tersebut nyaris tak bergerak.
Di kawasan Pandiri, hanya terlihat dua alat berat tertutup terpal, sementara sebuah grader dan mesin pemadat terparkir tanpa aktivitas di bahu jalan.
Tidak tampak pekerjaan konstruksi berlangsung sepanjang jalur yang dipantau.
Kondisi jalan justru memperlihatkan potensi bahaya.
Sejumlah titik badan jalan terlihat telah digali dan dilubangi, namun belum ditutup kembali dengan aspal.
Galian terbuka dan permukaan jalan yang tidak rata menjadi ancaman nyata bagi pengendara, khususnya roda dua dan kendaraan malam hari.
Situasi itu diperparah dengan minimnya rambu keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Hampir di sepanjang lokasi proyek, rambu peringatan, pembatas jalan, maupun penanda galian sangat terbatas. Padahal, ruas Tagolu–Tentena merupakan jalur strategis Trans Sulawesi yang menghubungkan Poso dengan Tentena, Makassar, dan sejumlah daerah lain di Sulawesi Tengah.
Warga setempat menilai, jika pekerjaan belum dapat dipercepat, maka aspek keselamatan seharusnya menjadi prioritas utama.
Penambahan rambu, lampu peringatan, serta penutupan sementara galian dinilai mendesak untuk mencegah kecelakaan.
Proyek multiyears 2025–2027 ini dikerjakan PT Toreloto Battu Indah, kontraktor asal luar Sulawesi Tengah.
Sejumlah titik memang telah tersentuh pekerjaan tambal sulam aspal, seperti di Desa Pandiri, Tampemadoro, Kuku, dan Sangira.
Sementara pekerjaan pelebaran jalan mulai terlihat di Desa Sulewana dan Saojo.
Pelaksana proyek, H. Enday Dasuki, sebelumnya menyebut progres pekerjaan telah mencapai 3–4 persen pada pertengahan Desember.
Namun, di mata warga, capaian tersebut belum sebanding dengan kondisi lapangan, terutama pada jalur vital yang setiap hari dilalui kendaraan logistik dan pemudik.
Masyarakat berharap Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah bersama kontraktor pelaksana segera melakukan evaluasi lapangan, agar proyek tidak hanya berjalan di atas kertas, tetapi juga menjamin keselamatan publik. ***
Editor : Talib