Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Irwan Lapatta Akhiri Dua Periode, Estafet Kepemimpinan IPSI Sulteng Berlanjut ke Abcandra Akbar

Muchsin Siradjudin • Minggu, 7 Desember 2025 | 13:14 WIB
ESTAFET: Kepemimpinan IPSI Sulteng bergeser, dari Muh. Irwan Lapatta (kanan) kepada Abcandra Muhammad Akbar Supratman.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).
ESTAFET: Kepemimpinan IPSI Sulteng bergeser, dari Muh. Irwan Lapatta (kanan) kepada Abcandra Muhammad Akbar Supratman.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).

RADAR PALU – Setelah memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sulawesi Tengah selama dua periode penuh dinamika, Muh. Irwan Lapatta resmi mengakhiri masa jabatannya dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada tokoh muda, Abcandra Muhammad Akbar Supratman.

Pergantian tersebut ditetapkan melalui Musyawarah Provinsi (Musprov) VIII IPSI Sulteng yang berlangsung pada 6–7 Desember di sebuah hotel di Kota Palu.

Dalam penyampaian akhir masa tugasnya, Irwan tidak menutupi bahwa selama dua periode memimpin IPSI, banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari bencana hingga minimnya dukungan anggaran olahraga.

“Program IPSI sangat terbatas karena minimnya dana dari Pemda dan KONI. Program sirkuit yang idealnya tiga kali setahun menjadi sangat sulit direalisasikan karena keterbatasan anggaran,” katanya.

Irwan berharap kehadiran Abcandra dengan jaringan luas di pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dapat memperkuat pergerakan IPSI ke depan.

“Harapan kami, komunikasi yang baik dengan pusat dapat memperkuat pembinaan dan meningkatkan fasilitas IPSI ke depan. Ini bukan keinginan personal, tetapi aspirasi seluruh perguruan. Makanya 11 perguruan dan 5 Pemkab memberikan dukungan kepada beliau,” tutupnya.

Irwan juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan dalam organisasi olahraga. Menurutnya, dukungan luas dari berbagai perguruan dan pemerintah kabupaten/kota kepada Abcandra menunjukkan bahwa IPSI Sulteng memerlukan energi baru untuk melompat lebih jauh dan memperkuat posisi pencak silat sebagai olahraga kebanggaan daerah.

Musprov kemudian menetapkan Abcandra Muhammad Akbar Supratman sebagai Ketua IPSI Sulteng masa bakti 2025–2030.

Ia terpilih secara aklamasi setelah menjadi satu-satunya calon yang memenuhi seluruh syarat verifikasi Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP).

Abcandra memperoleh dukungan kuat dari 11 perguruan serta 5 pemerintah kabupaten/kota, menjadi salah satu proses pemilihan paling solid dalam sejarah IPSI Sulteng.

Dalam arahan perdananya, Abcandra menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan seluruh perguruan dan pemerintah daerah.

Ia menegaskan bahwa amanah ini merupakan panggilan sebagai putra asli Sulawesi Tengah untuk mengembangkan olahraga pencak silat di daerah.

“Saya dipercayai dan diminta langsung oleh perguruan dan Pemkab untuk bersama-sama membangun IPSI Sulawesi Tengah. Sebagai putra daerah, ini menjadi panggilan untuk saya,” ujarnya.

Ia juga mengutip pesan Ketua Umum IPSI yang sekaligus Presiden RI, Prabowo Subianto, bahwa mengurus olahraga merupakan wujud nasionalisme dan patriotisme.

“Mengurus olahraga adalah panggilan cinta tanah air. Ini bentuk komitmen kita membesarkan IPSI di daerah masing-masing, termasuk di Sulawesi Tengah,” tutur Abcandra.

Abcandra menjelaskan bahwa fokus kepemimpinannya akan diarahkan pada penataan organisasi, penguatan sumber daya manusia, dan pembinaan atlet secara berkelanjutan. Menurutnya, fondasi organisasi yang kuat akan berpengaruh langsung pada kualitas pembinaan atlet.

Ia secara tegas meminta komitmen penuh dari tim formatur untuk memberikan ruang gerak sepenuhnya dalam penyusunan dan penataan kepengurusan.

“Saya juga menyampaikan kepada teman-teman bahwa untuk formatur, karena saya diminta untuk mengurus ini, maka saya meminta komitmennya untuk memberikan kewenangan sepenuhnya kepada saya dan jangan diintervensi. Kita perlu penataan yang betul-betul bisa menjadi gerbong bersama,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menargetkan agar Sulawesi Tengah bisa mengajukan diri sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencak Silat dalam masa kepemimpinannya.

“Ke depan, saya akan fokus kepada sumber daya manusianya — pengurus, perguruan, dan atlet sebagai ujung tombak IPSI. Saya juga sudah berkomunikasi dan berusaha agar Sulawesi Tengah bisa menjadi tuan rumah Kejurnas,” katanya.

Ia menilai potensi pencak silat di Sulteng sangat besar, baik dari sisi bakat atlet maupun kontribusi para senior yang pernah mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional.

Untuk pembinaan atlet, Abcandra memastikan segala kebutuhan akan dipertimbangkan secara matang, termasuk opsi menghadirkan pelatih dari luar daerah.

Ia juga menyebut telah bertemu dengan Menteri BUMN Erick Thohir untuk membicarakan dukungan sarana dan prasarana olahraga di Sulawesi Tengah.

“Hal-hal yang menyangkut kebutuhan atlet akan menjadi pertimbangan. Kontrak pelatih dari luar akan kami diskusikan dengan para senior dan perguruan. Kami ingin pembinaan berjalan optimal,” tegasnya.

Selain itu, ia berencana mendorong perubahan format Piala Menpora menjadi Kejurnas Pencak Silat, terlebih setelah ajang tersebut secara nasional kini diganti menjadi Piala Presiden.

“Karena kebetulan Presiden juga Ketua Umum IPSI, maka ini menjadi salah satu target kita, sebelum target-target lainnya,” ungkapnya.

Abcandra juga menegaskan bahwa IPSI Sulteng tidak akan menjadi arena kepentingan politik.

“Untuk IPSI ini, saya tegaskan tidak ada kepentingan politik. Fokus kita adalah diplomasi budaya dan memperkenalkan Sulawesi Tengah di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.(gel)



Editor : Muchsin Siradjudin
#IPSI Sulawesi Tengah #Segala kebutuhan dipertimbangakan secara matang #Datangkan pelatih dari luar #Estafet kepemimpinan