RADAR PALU - Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Morowali Utara (Morut) menggelar pelatihan peningkatan kapasitas SDM pendamping program Bantuan Keuangan Khusus (BKK) untuk desa se-Morowali Utara.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga pendamping dan keterampilan kelompok penerima manfaat BKK.
Pelatihan dibuka Ketua TP PKK Morut sekaligus anggota DPD RI Dapil Sulawesi Tengah, Febriyanthi Hongkiriwang, di Hotel M-Regency Makassar, Sabtu (6/12/2025).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas PMD Morut Andi Parenrengi, Sekretaris PMD Charles N. Toha, Sekretaris Dinas Sosial Morut Titin Rositawati, Direktur Politeknik Pariwisata Makassar, Kepala Balai Diklat Industri Makassar, serta Direktur LPK AMY Tata Busana Makassar.
Peserta pelatihan dibagi menjadi tiga kelompok, yakni Pendamping BKK, Kelompok usaha olahan pangan dan kuliner, dan Kelompok pengembangan keterampilan menjahit.
Pelatihan ini bertujuan memperkuat kemampuan pendamping desa agar mampu memberi asistensi tepat, terukur, dan sesuai kebutuhan kelompok sasaran di desa.
Selain itu, kegiatan ini meningkatkan kapasitas kelompok pemberdayaan perempuan penerima manfaat BKK dalam mengelola usaha produktif, mengembangkan keterampilan, serta memperkuat manajemen kelompok.
Kegiatan pelatihan juga diharapkan mendorong inovasi desa yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga dan pemberdayaan perempuan.
Dalam sambutannya, Febriyanthi Hongkiriwang menegaskan pentingnya peningkatan keterampilan agar kelompok penerima manfaat BKK mampu melipatgandakan keuntungan dan memperkuat ekonomi desa.
"Sejak 2022 Pemda Morut meluncurkan program BKK sebesar Rp300 juta setiap desa untuk kelompok usaha perempuan, kelompok petani, nelayan, dan kelompok pemuda. Tujuannya meningkatkan ekonomi desa. Karena itu para pelaku usaha harus meningkatkan keterampilan agar memperoleh hasil maksimal," jelasnya.
Menurut Febriyanthi, perkembangan Morut sebagai daerah industri membuka peluang besar bagi UMKM untuk berkembang. Banyak kebutuhan pangan, bakery, hingga pakaian seragam selama ini masih didatangkan dari luar daerah.
"Melalui pelatihan ini, saya berharap para ibu-ibu bisa mengembangkan usaha di desa masing-masing," tambahnya.
Kadis PMD Morut Andi Parenrengi melaporkan pelatihan diikuti 90 peserta, terdiri dari 22 pendamping BKK,37 peserta kelompok olahan pangan dan kuliner, dan 31 peserta kelompok pengembangan usaha menjahit.
Pada pelatihan menjahit, peserta akan diajarkan menggunting ukuran pola memakai alat sekali potong, mendesain pola seragam sekolah, serta uji kompetensi.
Kemudian untuk pelatihan olahan pangan meliputi pengenalan keamanan peralatan, teknis membuat kue, roti dan masakan, serta edukasi cara pengemasan yang baik.
Sejak program BKK diluncurkan tahun 2022, telah terbentuk 1.658 kelompok ekonomi produktif di 122 desa dan 3 kelurahan di Morut.
Dengan jumlah tersebut, setiap pendamping BKK menangani sekitar 75 kelompok, sehingga peran mereka sangat strategis dalam pengembangan ekonomi desa.
"Pelatihan ini kami harapkan menjamin pelaksanaan BKK berjalan transparan, akuntabel, partisipatif, serta memberi dampak nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat desa," sebut Andi Parenrengi.(ham)
Editor : Muchsin Siradjudin