Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Festival Teater Indonesia Hadirkan Lima Pertunjukan Teater di Gedung Kesenian Kota Palu

Taswin • Minggu, 7 Desember 2025 | 06:34 WIB
Salah satu pertunjukkan teater yang tampil di Gedung Kesenian Kota Palu, Sabtu (6/12) malam
Salah satu pertunjukkan teater yang tampil di Gedung Kesenian Kota Palu, Sabtu (6/12) malam

RADAR PALU - Sebanyak lima kelompok teater maupun seniman individu dari berbagai penjuru Indonesia akan tampil di panggung Gedung Kesenian Palu pada tanggal 6 - 8 Desember 2025.

Kota Palu menjadi kota kedua dari empat kota penyelenggara Festival Teater Indonesia 2025. Selain pertunjukan di atas panggung, pengunjung festival juga dapat mengikuti berbagai kegiatan, antara lain, bincang karya, diskusi, jelajah panggung, lokakarya, dan Teras FTI yang mewadahi berbagai komunitas setempat.

Festival Teater Indonesia (FTI) hadir sebagai titik pertemuan lintas kota serta ruang berekspresi bagi ekosistem teater tanah air. Kegiatan ini merupakan kolaborasi TITIMANGSA dengan PENASTRI (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia) serta didukung oleh Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI. 

Baca Juga: Dukung Pembinaan SSB di Kecamatan Mantikulore, PT CPM & Persipal Palu Gelar Coaching Clinic

“Tahun ini adalah perhelatan pertama Festival Teater Indonesia. Saya sangat bersemangat dan berharap semua berjalan dengan lancar, sesuai dengan apa yang dicita-citakan dan dirancang dari jauh hari oleh teman-teman Titimangsa dan Penastri.

Saya berharap kegiatan ini bukan hanya membuka ruang silaturahmi budaya dan kesusastraan, tetapi juga menjadi ruang untuk membuka diri, beradaptasi dengan satu sama lain dari seluruh Indonesia. Sebab setiap wilayah punya kebiasaan yang berbeda-beda.

Meski kita punya latar belakang yang berbeda, usia yang berbeda, bahkan interes yang berbeda, panggung bisa menyatukan. Di Festival Teater Indonesia, kita mempererat tali persaudaraan, utamanya dalam ekosistem seni teater tanah air,” ungkap Happy Salma, Penggagas Festival Teater Indonesia.

Baca Juga: Organisasi Media Siber Sulteng Salurkan Donasi Rp11 Juta untuk Lima Wartawan Korban Banjir Aceh

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra mengemukakan Festival Teater Indonesia sejak awal dirancang selaras dengan agenda besar Kementerian Kebudayaan, terutama penguatan ekosistem sastra dan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

“Pertama, selaras dengan program-program penguatan ekosistem sastra, FTI menjadi ruang penting untuk mendorong alih wahana karya sastra Indonesia ke panggung teater. Praktik silang-media seperti ini terbukti efektif menghidupkan ekosistem sastra.

Kedua, FTI juga sejalan dengan tujuan MTN Seni Budaya, yaitu membuka ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru untuk berkiprah di panggung nasional dan internasional. FTI memperkuat jalur perkembangan karier mereka di bidang sastra dan seni pertunjukan,” kata Ahmad Mahendra.

Di titik temu kedua, Festival Teater Indonesia bekerja sama dengan seniman dan pekerja seni setempat, yaitu Komunitas Lobo. Pemerintah dan Dewan Kesenian Kota Palu juga sangat mendukung kegiatan ini.

Baca Juga: Muh. Irfan, Juara 1 Nasional Fornas: Awal Bergabung, Dari Rasa Penasaran Jadi Rutinitas

Salah satu wujud nyatanya adalah percepatan penyelesaian pembangunan Gedung Kesenian Palu, yang menjadi lokasi seluruh program FTI - Palu.

“Terima kasih kepada Pemerintah dan Dewan Kesenian Kota Palu yang telah membantu percepatan penyelesaian Gedung Kesenian Palu ini. Saya kagum sekali dengan arsitektur dan keindahaan alam di sekitar kompleks gedung.

Senang sekali Festival Teater Indonesia bisa menjadi acara perdana yang dilaksanakan di sini. Semoga adanya FTI ini dapat menjadi pemantik bagi ekosistem teater di Kota Palu untuk terus berdaya dan bertumbuh,” lanjut Pradetya Novitri.

Baca Juga: Perempuan Sulteng Ini Tak Takut Peluru: Rismayati Mustamin Ukir Prestasi Nasional di Dunia Airsoft Gun

Pada edisi tahun perdananya, FTI mengangkat tema Sirkulasi Ilusi yang menyoroti pertemuan antara realitas dan representasi di tengah kehidupan kontemporer. Melalui tema tersebut, FTI berupaya memperluas sirkulasi gagasan, mempertemukan seniman lintas wilayah, serta memperkaya khazanah hubungan antara teks sastra dan panggung pertunjukan. FTI menjadi ajang perayaan untuk seni teater dan pertemuan bagi para praktisi, pendukung, juga penonton teater.

Dalam catatan kuratorial FTI, disebutkan “sirkulasi” merujuk pada bagaimana ide, wacana, dan karya seni bergerak atau digerakkan, yakni melintasi ruang, waktu, medium, dan komunitas, sehingga membentuk pengalaman bersama dan pengetahuan baru.

Kata “ilusi” ditambahkan sebagai strategi konseptual yang menciptakan lapisan makna untuk menata persepsi kritis atas hubungan antara panggung dan realitas sosial kontemporer.

Baca Juga: KM Harapanku Makmur Terbakar, Sembilan ABK Di evakuasi di Pelabuhan Rakyat Luwuk Kabupaten Banggai

Sebelumnya, Panggilan Terbuka telah dilaksanakan semenjak 25 Agustus hingga 19 September 2025. Kegiatan ini berhasil menjaring 213 pendaftar dari 95 kabupaten/kota di 25 provinsi se-Indonesia.

Pengumuman 16 kelompok/seniman terpilih dan 4 kelompok undangan disampaikan secara daring akhir September 2025. Mereka akan mementaskan naskah-naskah teater adaptasi dari karya sastra Indonesia.

“Prinsip dasar tim kurator dalam memilih penampil Festival Teater Indonesia adalah, pertama, apa tawaran konseptual karya secara estetika maupun pilihan karya sastra yang diadaptasi. Kedua, kesesuaian kontekstual antara gagasan dengan realitas di kota penyelenggara.

Baca Juga: Perempuan Sulteng Ini Tak Takut Peluru: Rismayati Mustamin Ukir Prestasi Nasional di Dunia Airsoft Gun

Dan terakhir, keadilan representasi, yaitu kami memastikan kesetaraan akses kewilayahan dan generasi. Keberagaman karya juga sangat penting, misalkan dalam gaya, medium, eksperimental, dan lainnya, sehingga penonton menyaksikan spektrum bentuk pertunjukan yang luas,” jelas Sahlan Mujtaba, Direktur Artistik Festival Teater Indonesia, dosen dan sutradara teater yang juga menjabat Sekretaris Umum Penastri.

Kelompok-kelompok teater terpilih itu mendapatkan pendanaan produksi serta pendampingan dari kurator festival. Pendampingan selama persiapan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana proses teater dijalani, bagaimana strategi menyiasati keterbatasan waktu, anggaran, dan sumber daya manusia yang ada.

“Tugas kami para kurator adalah memastikan kesiapan seniman agar dapat mementaskan karya terbaiknya di panggung Festival Teater Indonesia. Memang ada tantangan selama pendampingan, tetapi setiap kurator telah terlebih dahulu mempelajari latar belakang dan kecenderungan praktik berkarya si seniman.

Baca Juga: Program Gazebo Jadi Andalan SMPN 13 Palu untuk Saring Bakat dan Tingkatkan Prestasi Siswa

Dengan demikian, pendekatan kurator jadi lebih humanis dan kekeluargaan. Intinya menjadi pendengar yang baik dan teman ngobrol yang asyik,” ungkap Tya Setyawati, kurator Festival Teater Indonesia, yang berdomisili dan aktif berkesenian di Padang Panjang, Sumatera Barat.

Pentas teater alih wahana karya sastra Indonesia di panggung Festival Teater Indonesia titik temu Palu dilaksanakan di Gedung Kesenian Palu mulai tanggal 6 Desember 2025. Berikut jadwal pertunjukan FTI Kota Palu:

6 Desember 2025

7 Desember 2025

8 Desember 2025

Baca Juga: KM Harapanku Makmur Terbakar, Sembilan ABK Di evakuasi di Pelabuhan Rakyat Luwuk Kabupaten Banggai

“Festival Teater Indonesia terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak: seniman, komunitas teater, praktisi seni, dan pekerja seni pertunjukan baik yang di atas maupun di belakang panggung yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Sangat menyenangkan bertemu dan bekerja sama dengan teman-teman dari ragam latar belakang. Setelah berbulan-bulan mempersiapkan penyelenggaraan lima pementasan alih wahana karya sastra Indonesia dan program-program sayap, para pekerja seni dan tim kerja festival dengan senang hati siap menyambut penonton di Kota Palu,” ujar Pradetya kembali.

Panitia FTI di Palu juga menyiapkan berbagai program sayap, yaitu bincang karya, diskusi, jelajah panggung, lokakarya, dan Teras FTI.

Baca Juga: PT. Citra Palu Mineral: Kisah Kacang yang Melupakan Kulitnya

Ragam program ini dirancang untuk membuka akses bagi masyarakat umum agar dapat melihat teater bukan hanya yang tampak di atas panggung, tetapi juga sebagai perjalanan kreatif yang melibatkan refleksi, dialog, dan pertukaran gagasan.

Seluruh rangkaian kegiatan Festival Teater Indonesia akan dicatat oleh penulis/pengamat yang ditunjuk. Hasil pencatatan atau program arsip ini akan diterbitkan menjadi buku digital untuk disebarluaskan nantinya.

“Di banyak daerah, termasuk Palu, ekosistem teater sebenarnya kaya, tetapi sering kurang terdokumentasi. Oleh sebab itu, program arsip FTI menjadi penting untuk merawat jejak sejarah lokal agar tidak hilang dan tetap bisa menjadi sumber pembelajaran bagi generasi selanjutnya. Tradisi menulis tentang teater akan membantu ekosistem teater terus tumbuh dalam jangka panjang,” ucap Sahlan kembali. (*)

Editor : Taswin
#TITIMANGSA #PENASTRI #palu #Festival Teater Indonesia