Keterbatasan akses listrik di Dusun Tiga Desa Waturalele, yang terletak di daerah terpencil dan sulit dijangkau, telah diatasi dengan adanya panel surya. Itu jadi salah satu contoh kecil yang memberikan harapan baru dari energi masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
LAPORAN : Mugni Supardi
EMPAT panel surya yang jadi sumber energi masing-masing berukuran sekitar 1 meter persegi, berdiri tegak di samping rumah panggung yang sederhana dan terlihat cukup usang.
Rumah panggung itu adalah pemberian swadaya masyarakat, tempat dimana 13 orang guru SD Negeri Waturalele di Dusun tiga Desa Waturalele, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, untuk menetap.
Dusun tiga Desa Waturalele sendiri berada terpisah jauh dari dusun-dusun lainnya dan berada di ketinggian 1.400 Mdpl. Untuk mencapainya hanya bisa diakses menggunakan motor yang dimodifikasi khusus atau berjalan kaki dengan jarak tempuh bisa sampai 7 jam.
Kondisi geografis yang sulit dijangkau dan minimnya akses jalan menuju dusun tiga membuat desa ini kesulitan untuk mendapatkan bantuan, salah satunya akses listrik. Tanpa listrik aktivitas seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi hingga komunikasi bisa sangat terbatas.
Wali Kelas Satu SD Negeri Waturalele, Anizar mengakui dengan panel surya ini sudah ada beberapa perubahan yang mereka rasakan. Seperti salah satunya pembelajaran siswa di kelas kini bisa menggunakan smart TV bantuan dari program Presiden Prabowo Subianto.
Untuk diketahui, bantuan smart TV ini untuk mendukung pembelajaran digital dan interaksi jarak jauh, memungkinkan siswa di daerah terpencil untuk mengakses pelajaran dari studio pengajaran terpusat di Jakarta dan berinteraksi dengan guru-guru terbaik secara live.
“Jadi bisa anak-anak manfaatkan TV nya, tapi ada kendala lainnya, jaringan internet. Kita sekarang juga sudah bisa nyalakan speaker, itu untuk pengetahuan pembelajaran musik ke siswa, seperti kenalkan lagu-lagu daerah,” jelasnya.
Sebelum ada panel surya pemberian PLN, SD Negeri Waturalele hanya mengandalkan satu buah aki yang memiliki kapasitas penyimpanan daya 50 ampere atau setara dengan aki mobil.
Dari aki itu mengalir listrik untuk 4 mata bola lampu dalam kondisi redup. 4 bola lampu menyinari bangunan SD, SMP Satu Atap Negeri 22 Sigi yang memang berada di satu lingkungan, juga toilet.
Untuk mengisi daya di aki bergantung pada panel surya 10 watt milik warga yang terpasang di atap rumah panggung tadi.
Sementara untuk telepon genggam milik guru-guru, tidak banyak berharap dari listrik yang dihasilkan dari aki, karena yang lebih dipentingkan adalah penerangan.
“Tapi setelah ada panel surya ini, HP tidak hanya aktif dua hari saja, sudah bisa bertahan seminggu lah,” kata Andi, tenaga administrasi SD Negeri Waturalele kepada Radar Palu Jawa Pos Group, Rabu (19/11/2025).
Berkat panel surya juga, guru bisa mengoperasikan laptop. Hal yang tidak pernah dilakukan saat mengandalkan kekuatan aki 50 ampere.
Selain laptop, penerangan lampu yang sebelumnya ditopang dari aki semakin terang dengan panel surya. Rise cooker dan speaker mini untuk senam para siswa juga bisa dinyalakan dari energi bersih tersebut.
Panel surya yang kini jadi penopang pembelaran di desa itu punya kisah epik saat pertama kali dipasang pada 12 Agustus 2025 lalu.
Empat orang warga memikul panel surya dari kaki gunung, bersama petugas PLN yang sempat bermalam di desa untuk memasang teknologi Energi Baru Terbarukan (EBT) ini.
Menyalakan harapan di Dusun III Waturalele jadi salah satu langkah PLN menjalankan sistem kelistrikan isolated (terisolasi) yang tidak terhubung ke jaringan utama PLN dan beroperasi secara mandiri, seperti di daerah terpencil.
Panel surya yang dipasang di area terbuka juga sebagai upaya mendapatkan sinar matahari langsung sepanjang hari. Panel surya ini akan mengaliri listrik menuju satu buah gardu yang dilengkapi dengan informasi untuk memantau jumlah energi matahari yang dihasilkan.
“Kalau ada matahari bisa cepat terisi energinya, jadi sebaliknya kalau mendung ya lambat,” Andi menjalaskan.
Bagi Andi, panel surya ini adalah secercah harapan di tengah keterbatasan yang dialami baik warga maupun bagi SD Negeri Dusun Tiga Waturalele. Bukan sekadar teknologi, tapi janji penerangan bagi mimpi-mimpi anak desa untuk maju, bahkan sumber energi bagi masa depan yang lebih cerah.
“Kalau malam hari itu warga desa ramai-ramai cas telepon genggamnya, bawa kabel roll, bisa tujuh sampai delapan orang duduk lesehan di teras bangunan SD sampai larut,” jelas warga Desa Pewunu ini.
Dusun Tiga Waturalele jadi contoh nyata bagaimana energi surya dapat dimanfaatkan di daerah pelosok. Hal ini sangat relevan di Sulawesi Tengah mengingat karakteristik geografisnya yang beragam bahkan menantang. Energi surya menjadi solusi ideal untuk menjangkau daerah-daerah terpencil yang sulit diakses jaringan listrik konvensional.
Dari data Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Tengah, luas daratan di provinsi ini mencapai 65.526,72 kilometer persegi.
Dengan luasan seperti itu Sulawesi Tengah menjadi provinsi terbesar di Pulau Sulawesi yang juga memiliki tantangan pemenuhan dan pemerataan energi.
Data Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Tengah di Palu, merujuk database desa/kelurahan Kemendagri tahun 2022, Sulteng memiliki 2017 desa/kelurahan.
Hingga oktober 2025, PLN telah berhasil mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) 95.79 persen, artinya 1932 desa/kelurahan telah teraliri listrik. Sisanya terdiri dari 59 desa/kelurahan berlistrik non PLN dan 26 desa/kelurahan yang bergantung pada Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) sebagai sumber penerangan.
“Untuk desa yang berlistrik non PLN itu contohnya mereka gunakan genset swadaya atau bantuan dari Pemerintah,” kata Perwakilan UP2K PLN UID Sulteng, Ulin.
Sistem kelistrikan Sulteng juga sudah terinterkoneksi dengan sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Hal ini berdampak pada komposisi energi primer yang digunakan, di mana EBT mencapai 39 persen.
Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Palu yang melayani 1 kota dan 7 kabupaten masih mengandalkan batu bara dan transfer dari sistem Sulbagsel sebagai sumber energi utama. Data terbaru menunjukkan bahwa kedua sumber ini mendominasi bauran energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah UP3 Palu.
Komposisi bauran energi di UP3 Palu untuk bahan bakar 14.94 persen, PLTA 12.22 persen, batu bara 36.19 persen, dan transfer Sulbagsel 36.66 persen. Sulteng memiliki potensi EBT yang tengah berkembang, terutama dari sumber air dan solar cell yang dapat menjangkau desa-desa belum terlistriki.
Akademisi UIN Palu, Dr Mohammad Djamil M Nur M PFIS mengakui pemerintah perlu menyusun roadmap transisi energi, yang menguraikan langkah-langkah untuk beralih dari energi fosil ke energi yang terbarukan.
Termasuk penerapan efisiensi energi di berbagai sektor seperti industri, bangunan, transportasi, bahkan mendorong penggunaan panel surya, turbin-turbin angin dan energi terbarukan lainnya di rumah penduduk.
Sistem energi berbasis fosil menuju energi yang bersih yang rendah emisi lebih efisien dan adil bagi masyarakat.
“Yang paling penting adalah agenda transisi itu harus adil, adanya perlindungan pada masyarakat yang rentan misalnya orang-orang desa, orang miskin harus dijamin untuk mendapatkan energi baru dan terbarukan,” harapnya.
Indonesia kata Djamil memiliki target untuk mencapai net zero emission (nol emisi bersih) pada tahun 2060. Dia berharap target ini dapat terwujud, bahwa nanti di 2060 Indonesia benar-benar netral karbon, artinya jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan itu sama dengan emisi yang diserap kembali.
“Nah, caranya apa? kurangi emisi, tambahkan energi terbarukan dan perkuat hutan, gunakan teknologi hijau seperti yang di PLTA Poso,” terangnya.
Sulteng memang memiliki potensi energi terbarukan yang signifikan, salah satunya dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso yang dikelola oleh PT Poso Energy.
Menjadi pengembang energi lokal yang berfokus pada energi bersih dan terbarukan, khususnya PLTA, PT Poso Energy berkomitmen untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap bauran energi nasional, dan berperan penting dalam mendukung transisi energi di Indonesia.
Menurut Business Development Manager and General Specialist Engineer PT Poso Energy Ismet Rahmat Kartono, salah satu proyek utama Poso Energy adalah PLTA Poso Peaker 515 megawatt. PLTA ini memiliki kapasitas gabungan lebih dari 515 megawatt dan menggunakan teknologi run-of-river dan reservoir-based (peaker).
Saat ini, PLTA Poso Peaker telah beroperasi dan terintegrasi dengan jaringan interkoneksi Sulawesi dan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), dengan transmisi sepanjang 209 kilometer dan tegangan 275 kilovolt. Proyek ini telah beroperasi sejak tahun 2021.
PLTA Poso Peaker merupakan PLTA terbesar nomor 3 di Indonesia. Lebih membanggakan lagi, PLTA ini dikenal sebagai ‘PLTA Merah Putih’ karena didesain, dikerjakan, dan dioperasikan sepenuhnya oleh anak bangsa.
“Poso Energy terus berkomitmen untuk mengembangkan energi bersih dan terbarukan demi masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan,” tambah Ismet.
PLTA kata Ismet memainkan peran krusial dalam transisi energi di Indonesia. Sebagai sumber energi bersih dan stabil (SRE/Stable Renewable Energy), PLTA menawarkan berbagai dampak positif, termasuk emisi yang rendah, ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pengelolaan air yang berkelanjutan.
PT Poso Energy sendiri memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan PLTA di Indonesia. "Kami memiliki PLTA IPP dengan kapasitas terpasang terbesar di Indonesia,” sebut Ismet.
PT Poso Energy juga aktif dalam menjalankan program keberlanjutan yang mencakup berbagai bidang, seperti CSR (rumah sakit), dukungan terhadap UMKM, serta konservasi lingkungan melalui Taman Konservasi Air. Peran PLTA juga dapat mendukung upaya Indonesia mencapai target energi bersih.
“Dengan memanfaatkan potensi air dari Danau Poso, kita dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi gas rumah kaca,” ujarnya.
Di sisi lain, komitmen Pemerintah Daerah dalam pemanfaatan energi bersih di Sulteng lewat surat edaran dengan Nomor 670/480/015.BSDM tentang pemanfaatan energi bersih di wilayahnya masih belum menuai hasil.
Inspektur Ketenagalistrikan Ahli Muda Dinas Energi Sumber Daya Alam (ESDM) Irnawati ST MM mengakui salah satu kendala pengembangan EBT di Sulteng karena sangat tinggi dan pesatnya penggunaan PLTU captive di kawasan industri Morowali dan Morowali Utara yang sekarang kurang lebih 5 gigawatt.
PLTU dengan daya 5 gigawatt setara dengan daya 5.000 megawatt, masih sangat jauh dibandingkan dengan PLTA Poso yang mengandalkan energi bersihnya 515 megawatt.
Peraturan daerah nomor 10 tahun 2019 tentang Rencana Umum Energy Daerah (RUED) tahun 2019-2050 menyebut Sulteng menghadapi tantangan signifikan dalam mencapai EBT pada tahun 2024.
“Hingga tahun 2024, realisasi EBT baru mencapai 10,33 persen dari target EBT untuk tahun 2025 30,5 persen,” ujarnya.
Sekarang pekerjaan rumah Pemda kata Irnawati bagaimana agar di kawasan industri itu juga menggunakan EBT. Untuk itu surat edaran Gubernur Sulteng tahun 2022 mensyaratkan penggunaan EBT sebanyak 10 persen dari total penggunaan energi di kawasan industri.
“Namun sampai saat ini belum jalan. Tapi sesuai data di kami PT Hengjaya Mineralindo itu sudah gunakan PLTS dengan kapasitas 396 kWp, info terakhir juga IMIP lagi proses pembangunan PLTS,” ujarnya.
Irnawati juga mengakui jika tatanan di tingkat rumah tangga atau perkantoran pemerintah dapat menggunakan EBT, karena memberikan sumbangsih terhadap bauran EBT di Sulteng.
“Kami punya PLTS di sini, penerangan jalan listrik kita tenaga surya, sebagian besar listrik yang kita gunakan juga dari PLTA,” terangnya.
Dampak positif keberadaan PLTA Poso juga disoroti Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi,
“Energi listrik kita ini mungkin sekarang sudah berimbang dengan adanya poso energy. Jadi kalau dulu sebelum ada poso energy, kita sama sekali tergantung dengan bahan bakar fosil dari PLTU,” kata Asep.
Asep juga menyoroti dampak signifikan dari pembangkit listrik fosil, terutama batu bara. Ia membandingkan antara Morowali yang memiliki aktivitas industri dengan PLTU batu bara dengan Desa Bariri di Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso yang relatif lebih bersih, menunjukkan perbedaan yang mencolok.
Pengamatan di kedua wilayah ini mengungkap perbedaan kadar ozon dan CO yang signifikan. Karbon monoksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, berkontribusi pada peningkatan pembentukan ozon di permukaan tanah. Semakin tinggi kadar CO, semakin tinggi pula kadar ozon.
Kondisi ini berdampak negatif pada kesehatan manusia. Pengukuran menunjukkan bahwa di wilayah yang terpapar polusi, kadar ozon bisa 10 kali lebih tinggi dibandingkan wilayah yang bersih seperti Bariri.
“Kadar ozon di Morowali tercatat sudah di atas 60 ppb (parts per billion), kita ukur rata-rata 90 ppb sampai dengan 100 ppb, sudah jauh dari ambang batas, berbahaya terhadap manula atau bayi di bawah 5 tahun,” ungkapnya.
Lebih jauh lagi kata Asep, penggunaan batu bara sebagai sumber energi juga berperan dalam peningkatan emisi gas rumah kaca, yang merupakan penyebab utama perubahan iklim global, terutama karena pembakaran batu bara menghasilkan emisi CO2 dalam jumlah besar.
“Nah, senyawa ini (CO2) jahat, dia mempunyai masa lifetime, masa tinggalnya di atmosfer sampai dengan 33 tahun. Satu molekul CO2 ini akan terurai selama 33 tahun,” terang Asep.
Menurut Asep, pemerintah perlu secara perlahan mengubah ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti dengan cara penggunaan kendaraan listrik, menyediakan sumber pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan.
"Pemerintah harus memikirkan dalam jangka menengah berikutnya harus segera mendesain sumber-sumber energi listrik terbarukan," jelasnya.
Jika seluruh wilayah di Indonesia telah beralih ke EBT kecuali Sulteng yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, maka Sulteng akan terkena imbasnya, baik secara positif maupun negatif, mengingat penggunaan bahan bakar fosil dan EBT bersifat global.
Asep menekankan bahwa polutan di sekitar PLTU akan tetap ada dan dampaknya akan cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar. Emisi dari kegiatan industri dan pembakaran batu bara, seperti sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan karbon monoksida, akan terus ada.
"Meskipun partikel padat dapat larut dalam air dan udara dapat kembali bersih saat hujan, pembakaran bahan bakar batu bara secara terus-menerus akan menyebabkan polusi yang berkelanjutan. Bahkan, polusi tersebut dapat terbawa ke tempat lain yang jauh," tutupnya.
Praktik baik pemerataan energi listrik di Dusun Waturalele yang memanfaatkan sinar matahari yang melimpah di Sulteng tak hanya mampu membuat anak-anak Dusun Waturalele mengejar ketertinggalan mutu pendidikannya. Lebih dari itu mereka saksi bahwa Energi Baru Terbarukan adalah solusi berkeadilan bagi mereka, yang dulu dilupakan.(*).
Editor : Mugni Supardi