Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ketika Matahari Mengambil Alih Pekerjaan Berat Petani, Menggunakan Sistem Fertigasi Otomatis Bertenaga Surya

Muchsin Siradjudin • Sabtu, 29 November 2025 | 17:15 WIB
SURYA : Ponindi memperlihatkan panel energi surya gerobaknya, Desa Binangga, Kabupaten Sigi. Sulawesi Tengah.ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).
SURYA : Ponindi memperlihatkan panel energi surya gerobaknya, Desa Binangga, Kabupaten Sigi. Sulawesi Tengah.ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).

RADAR PALU - Pagi itu, sekitar pukul 07.00 WITA, Ponindi memacu motor gerobak kayu sederhananya, kendaraan kecil yang tampak telah melewati banyak musim tanam.

Goresan-goresan di badan gerobak itu seperti menjadi catatan perjalanan panjangnya sebagai petani. Roda-rodanya bergetar pelan di atas jalanan berbatu yang masih licin oleh sisa embun.

Ia menyusuri jalur setapak yang tak rata, lalu perlahan menyeberangi sungai kecil berkerikil.

Airnya jernih, dingin, dan memantulkan cahaya pagi yang menembus sela pepohonan.

Di kejauhan, siluet pegunungan mulai tampak, seolah ikut menyambut rutinitas Ponindi menuju kebunnya di Desa Binangga, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi.

Di gerobaknya tersusun panel surya hitam serta deretan pipa kecil, perangkat sistem pemupukan otomatis yang kini menjadi andalannya.

Baru satu bulan terakhir ia mengenal alat itu, menggunakannya untuk pemupukan sekali setiap pekan.

Setelah 13 tahun bertani dengan cara tradisional, Ponindi mulai merasakan perubahan yang benar-benar nyata.

Dulu, setiap musim tanam berarti bekerja di bawah terik matahari berjam-jam. Ia harus mengaduk pupuk, memompa manual, lalu berjalan dari satu bedengan ke bedengan lain. Semua dilakukan sendiri, tanpa jeda.

Kini, pekerjaan itu diringankan oleh sistem fertigasi otomatis bertenaga surya, panel 300 watt yang menggerakkan pompa berdaya rendah, dilengkapi timer otomatis dan jaringan irigasi tetes yang menyalurkan pupuk langsung ke akar tanaman.

Alat sederhana itu mengubah banyak hal. Keringanan yang dirasakan Ponindi bukan hanya dari cara kerjanya, tetapi juga dari efisiensi waktu dan biaya.

Biasanya, pemupukan memakan waktu hingga tengah hari.

"Dulu, kalau dikerjakan sendiri bisa sampai tengah hari. Sekarang tinggal satu jam sudah selesai, tinggal duduk santai, "ujarnya sambil tersenyum.

Sisa waktu yang dulu terkuras habis kini bisa ia pakai untuk pekerjaan lain. Penghematan air mencapai 50 persen, pupuk turun 40 persen, dan kebutuhan tenaga kerja tambahan yang dulu harus ia bayar harian hampir hilang sama sekali.

"Biasanya kita juga membayar orang untuk membantu, biayanya sekitar Rp100 ribu per hari, tapi dengan alat ini, biayanya bisa ditekan," lanjutnya sambil menunjukkan cara kerja alat itu.

Bagi Ponindi, energi surya bukan sekadar menggerakkan pompa. Ia seperti memberi ruang bernapas di tengah padatnya musim tanam.

Sistem fertigasi tenaga surya ini lahir dari kolaborasi tim dosen lintas disiplin Universitas Tadulako. Bagi mereka, teknologi bukan hanya alat, tetapi sarana pemberdayaan agar petani lebih mandiri.

"Teknologi ini mampu menghemat air hingga 50 persen dan pupuk mencapai 40 persen, "jelas Ryfial Azhar, salah satu anggota tim.

Sistem tersebut memanfaatkan panel surya 300 watt yang menggerakkan pompa untuk menyalurkan pupuk cair melalui jaringan drip irrigation.

Lebih dari itu, penggunaan tenaga surya membuat sistem menjadi mandiri, petani dapat memangkas biaya operasional hingga 70 persen tanpa bahan bakar dan tanpa ketergantungan pada tenaga kerja tambahan.

Dukungan terhadap inovasi energi terbarukan juga datang dari pemerintah daerah. Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenai, menyatakan komitmennya mendukung inovasi lokal.

Ia merencanakan pemasangan PLTS di Kantor Bupati serta menyambut kehadiran lima proyek PLTA baru berkapasitas total 1.130 MW.

Ia memastikan bahwa manfaat pembangunan energi bersih harus dirasakan hingga masyarakat di tingkat akar rumput, termasuk para petani seperti Ponindi, yang kini merasakan langsung bagaimana teknologi dapat meringankan langkah mereka menapaki musim tanam.


PLTA Poso Peaker: Energi Bersih untuk Sulawesi

Jika inovasi di kebun Ponindi adalah pondasi, maka PLTA Poso Peaker, sekitar 150 kilometer dari Sigi, adalah arsitek jaringannya.

Pembangkit Listrik Tenaga Air berkapasitas 515 MW ini merupakan salah satu PLTA terbesar di Indonesia.

Turbin-turbin raksasa itu berputar setiap hari, mengalirkan listrik ke jutaan rumah dan industri, menjangkau Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Selatan dan Tenggara.

"Energi bersih bukan hanya program pemerintah, tetapi gerakan global yang harus didukung. Kami berharap proyek PLTA yang kami kembangkan dapat menjadi tulang punggung energi masa depan Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah," ujar Ismed Rahmad Kartono, Business Development Manager PT Poso Energy.

Dengan teknologi run-of-river dan kolam tampungan, PLTA Poso memasok listrik stabil pada jam-jam puncak, antara pukul lima sore hingga sepuluh malam, dialirkan melalui transmisi 275 kV sepanjang 209 kilometer.

Dengan aliran listrik bersih dari PLTA, ide sederhana seperti panel surya untuk pemupukan otomatis di kebun Ponindi menjadi mungkin, menghadirkan perubahan nyata dalam keseharian petani.

Turbin besar dan panel kecil itu berjalan dalam ritme yang sama: energi bersih yang dihasilkan pada skala makro memberi ruang bagi inovasi lokal.

Energi dari Poso bukan hanya menstabilkan jaringan, tetapi juga menjadi fondasi yang memungkinkan pengembangan energi intermiten seperti PLTS di kebun Ponindi maupun PLTB di wilayah lain.

Energi bersih ini sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat yang terus tumbuh.

Sulawesi Tengah memiliki potensi EBT yang luar biasa, energi surya sekitar 6.000 MW dan hidro lebih dari 3.000 MW, menjadikannya calon laboratorium energi bersih Indonesia Timur.

Sinergi Lokal dan Skala Besar

Menurut akademisi UIN Datokarama Palu Dr. Mohammad Djamal, tantangan terbesar dalam transisi energi berkelanjutan bukan pada potensi alam, melainkan pada ekosistem pendukungnya, termasuk literasi energi dan kelembagaan lokal.

"Seperti kasus kincir angin di Sidondo yang tidak dimanfaatkan karena tidak ada perawatan menunjukkan bahwa masalah kita bukan teknologi, tetapi pemeliharaan dan manajemen pasca-pembangunan," katanya.

Ia menegaskan bahwa proyek EBT akan gagal jika masyarakat hanya dijadikan objek.

Sementara keberhasilan PLTA Poso Energy dalam menyediakan listrik stabil di Sulawesi adalah langkah infrastruktur krusial, keberlanjutan transisi energi, terutama untuk ketahanan pangan dan dekarbonisasi industri, memerlukan replikasi model seperti yang ditunjukkan Ponindi.

Tanpa keterlibatan, kepemilikan, dan kemampuan mengelola teknologi di tingkat desa, proyek-proyek energi kecil berpotensi mangkrak.

Jika proyek kecil gagal, kepercayaan masyarakat terhadap program energi bersih, termasuk proyek PLTA skala besar yang rawan isu sosial dan lingkungan, akan menurun, menghambat cita-cita Sulawesi Tengah sebagai pemimpin EBT.

"Peran komunitas lokal adalah fondasi keberhasilan energi bersih. Teknologi bisa gagal tanpa masyarakat, tetapi dengan masyarakat yang terlatih, merasa memiliki, dan terlibat dalam pengelolaan, proyek energi bersih akan hidup dan memberi manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan," ujar Dr. Djamal.

Ponindi, petani cabai sederhana, membuktikan bahwa teknologi modern dapat memberikan efisiensi luar biasa. Ia menjadi representasi komunitas lokal yang siap menjadi subjek utama dalam transisi energi.

Dari panel surya 300 watt yang menyalurkan pupuk di kebun Ponindi hingga turbin raksasa 515 MW yang mengalirkan listrik ke jaringan interkoneksi, Sulawesi Tengah menunjukkan wajah transisi energi yang nyata, di mana inovasi lokal dan infrastruktur berskala besar saling menopang.

Perjalanan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat, pemerintah, dan pelaku industri bergerak bersama untuk memanfaatkan potensi energi terbarukan sebaik mungkin.

Keberhasilan transisi energi di wilayah ini akan diukur bukan hanya dari jumlah listrik yang dihasilkan, tetapi dari bagaimana manfaatnya dirasakan secara adil dan merata, dari desa-desa di Sigi hingga pusat-pusat industri.

Sulawesi Tengah tengah menapaki jalan yang memungkinkan setiap inovasi, sekecil apapun, menjadi bagian dari sistem yang lebih besar, sebuah perjalanan menuju energi bersih yang berkelanjutan, inklusif, dan realistis.

Di sisi lain, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Sulawesi Tengah melihat perjalanan transisi energi di daerah ini dari sudut yang berbeda.

Bagi mereka, semangat energi bersih belum sepenuhnya selaras dengan realitas pembangunan di lapangan.

Koordinator JATAM Sulteng, Taufik, menyebut bahwa kebijakan energi daerah masih memuat keberlanjutan PLTU berbasis batu bara, meski pemerintah menggaungkan komitmen menuju energi hijau.

"RUED Sulteng masih memasukkan PLTU dalam rencana energi hingga 2050. Ini menunjukkan komitmen meninggalkan batu bara belum sungguh-sungguh," ujarnya.

Ia mengingatkan kembali dampak PLTU Panau sebelum rusak akibat gempa dan tsunami 2018. Keluhan warga kala itu terutama nelayan yang kehilangan ruang tangkap dinilainya sebagai bukti bahwa energi fosil membawa konsekuensi sosial dan ekologis yang berat.

"Jika PLTU masih dipertahankan, sulit bagi kita bicara transisi energi yang adil," kata Taufik.

JATAM juga menyoroti risiko deforestasi yang meningkat akibat ekspansi tambang nikel untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik.

Dorongan pasar global, jelasnya, mengubah tata ruang dan membuka kawasan yang sebelumnya berstatus lindung.

"Transisi energi yang digenjot pemerintah justru berpotensi mempercepat deforestasi di Sulteng. Kebutuhan nikel membuat izin tambang terus meluas," tegasnya.

Menurut JATAM, narasi energi bersih perlu dikritisi karena implementasinya sering kali menguntungkan industri, bukan masyarakat.

Pembangunan PLTA pun dikhawatirkan lebih banyak menyuplai energi bagi kawasan industri nikel di Morowali dan Morowali Utara ketimbang memenuhi kebutuhan publik.

Dalam lima tahun ke depan, JATAM memprediksi dua kawasan paling rentan, yakni hutan yang menjadi habitat satwa endemic, dan wilayah pesisir laut yang menjadi zona ekspansi industri.

Keduanya, kata Taufik, "berpotensi menjadi tumbal atas nama pembangunan."

JATAM merekomendasikan penyusunan kebijakan energi yang melibatkan publik, terutama warga terdampak, agar arah pembangunan lebih transparan dan berkeadilan.

Mereka juga mendorong pengembangan energi komunitas berbasis desa seperti PLTS, mikrohidro, dan biomassa kecil.

Menurut Taufik, model energi komunitas jauh lebih adil karena dibangun berdasarkan kebutuhan, tanpa menumbalkan ruang hidup masyarakat.

Di tengah beragam pandangan itu, satu titik temu mulai tampak: transisi energi di Sulawesi Tengah tidak bisa hanya mengandalkan mesin, turbin, atau panel-panel surya yang berdiri sendiri.

Ia membutuhkan keterlibatan masyarakat, kejujuran dalam perencanaan, serta komitmen untuk menjaga ruang hidup dari desa hingga kawasan pesisir.

Suara JATAM menjadi pengingat bahwa inovasi harus berjalan beriringan dengan keadilan.

Sementara di sisi lain, kisah Ponindi menunjukkan bagaimana teknologi sederhana mampu mengubah keseharian petani ketika ditempatkan pada ruang yang tepat.

Baca Juga: Polres Touna Ringkus Pelaku Pengedar Narkoba di Desa Toliba, Perempuan Berinisial T

Di antara optimisme pembangunan dan kritik masyarakat sipil, Sulawesi Tengah kini menapaki jalan yang menentukan: apakah transisi energi akan menjadi peluang bagi semua, atau justru meninggalkan mereka yang paling dekat dengan sumber daya alam.

Masa depan energi bersih bergantung pada pilihan hari ini pilihan untuk mendengar, melibatkan, dan melindungi.(gel).

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Sistem fertigasi otomatis #Mengambil peran #Energi matahari #Pekerjaan petani