RADAR PALU - Investigasi ilmiah mengenai kerusakan rumah warga di Desa Sulewana, Kabupaten Poso, memasuki tahap penting setelah tiga pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelesaikan pengambilan sampel lapangan selama dua hari, 18–19 November 2025.
Penelitian ini menjadi sorotan karena potensi kaitannya dengan aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dioperasikan PT Poso Energy—proyek strategis yang menopang pasokan listrik Sulawesi.
Tim yang terdiri dari ahli geodesi, geologi, dan perekaman getaran itu melakukan pemeriksaan intensif.
Sejak bertemu pemerintah desa hingga mendatangi 28 rumah terdampak, para peneliti menelusuri apakah kerusakan berkaitan dengan pergerakan tanah, kondisi batuan, atau getaran yang dihasilkan debit air berkecepatan tinggi dari outlet PLTA.
Dr. Teguh Purnama Sidiq, ahli geodesi ITB, menegaskan bahwa misi mereka bersifat independen.
“Kami hadir untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran. Tidak ada afiliasi selain pada fakta ilmiah,” ujarnya.
Di sisi lain, PT Poso Energy menyampaikan bantahan. Perusahaan menyebut debit air PLTA jauh lebih rendah dari batas regulasi, sehingga dianggap tidak berdampak pada permukiman.
Selain itu, mereka menyoroti kondisi vegetasi sempadan sungai yang dianggap menunjukkan faktor alam lebih dominan.
Namun, temuan awal warga menggambarkan cerita berbeda. Penurunan tanah berulang, retakan dinding, hingga kekhawatiran setiap musim hujan menjadi potret keseharian.
Kesaksian Dimas Tenggeli, warga yang mendapat bantuan Rp10 juta untuk memperbaiki lantai rumahnya yang kembali amblas, kembali memanaskan debat penyebab kerusakan.
“Keadilan sosial harus mendahului kepentingan bisnis,” tegasnya.
Langkah berikutnya, tim ITB akan melakukan pengeboran hingga 20 meter untuk memetakan sifat geoteknik bawah permukaan.
Hasil investigasi ini diperkirakan menjadi titik kunci untuk menentukan tanggung jawab dan langkah mitigasi jangka panjan, baik oleh pemerintah maupun Poso Energy, sebagai operator aset energi strategis di kawasan itu. ***
Editor : Talib