RADAR PALU – Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, kini telah memiliki Sekolah Sepak Bola Tunas Inti Parigi yang baru terbentuk.
Meski baru sebulan lebih terbentuk, Sekolah Sepak Bola Tunas Inti Parigi yang diketuai Mustafa dan Sekretaris Umum (Sekum) Mohammad Idrus, telah memiliki sebanyak 172 peserta didik.
Selain itu, sekolah sepak bola ini difokuskan melatih anak-anak usia dini. Mulai dari umur 9 hingga 16 tahun dengan pelatih berlisensi, yakni Yasir Mardani bersama asisten pelatihnya, Ariyanto dan Faisal.
Ketua Sekolah Sepak Bola Tunas Inti Parigi, Mustafa, mengatakan meskipun baru sebulan lebih berlatih, ratusan peserta didiknya sudah menjalani proses pelatihan secara bertahap dan terstruktur.
Pelatihan tersebut dirancang khusus untuk membangun dasar keterampilan, sekaligus menanamkan disiplin sejak dini.
“Banyak para orang tua yang mengaku senang dengan terbentuknya sekolah sepak bola ini. Karena, anak-anak mereka tidak lagi sibuk dengan bermain gadget di rumah. Setelah pulang dari latihan, mereka belajar kemudian beristirahat,” ujar Mustafa kepada Radar Palu, Rabu (19/11/2025).
Ia mengaku sekolah sepak bola yang dipimpinnya itu berkomitmen untuk mencetak bibit pesepak bola usia dini di Kabupaten Parimo. Sehingga, proses pembinaan para pesepak bola usia dini tersebut dilakukan secara intensif dengan jadwal latihan tiga kali dalam sepekan.
“Mereka juga dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan usia untuk memaksimalkan efektivitas latihan,” katanya.
Ia lantas mengaku optimistis para peserta didik Sekolah Sepak Bola Tunas Inti Parigi kelak dapat berkembang menjadi pemain profesional yang mampu bersaing. Sehingga, sekolah sepak bola ini, juga menerapkan program pembinaan yang menargetkan lahirnya generasi sepak bola Kabupaten Parimo berprestasi dan mampu mengharumkan nama daerah.
“Target kami memang difokuskan untuk menciptakan generasi pesepak bola berprestasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, khusus tahapan rekrutmen, setiap peserta diwajibkan mengisi formulir pendaftaran dan menyertakan akta kelahiran. Peserta didik juga dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp25.000 serta iuran bulanan senilai Rp10.000.
Iuran bulanan tersebut, kata dia, digunakan untuk kebutuhan pendukung pelatihan seperti tour, pemeliharaan lapangan hingga perlengkapan tanding.
“Nilai biaya pendaftaran dan iuran yang dibebankan kepada peserta didik memang diatur agar tidak terlalu membebani para orang tua mereka. Biaya tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan anak-anak juga, termasuk perlengkapan dan perawatan lapangan,” katanya.
Menurutnya, dengan terbentuknya sekolah sepak bola ini, semakin menambahkan upaya dalam memasyarakatkan olahraga. Khususnya cabang olahraga sepak bola. Terbukti, antusiasme ditunjukkan dari minat anak-anak terhadap olahraga sepak bola.
“Kami berharap, anak-anak yang kami didik di sekolah sepak bola ini menjadi atlet yang membanggakan bagi daerah dan mencapai level nasional,” tandasnya.(roy)