RADAR PALU - Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Tadulako terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan melalui kegiatan diseminasi hasil penelitian dengan judul “Edukasi dan Implementasi Vermikompos: Pemanfaatan Cacing Tanah dalam Pengolahan Sampah Organik di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Palu.”
Kegiatan yang digelar Jumat 29 Agustus 2025 ini
berlokasi di TPS3R Huntap Duyu, dan dihadiri oleh petugas TPS3R, warga sekitar, serta perwakilan pengelola RTH.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam memperkenalkan solusi pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan kepada masyarakat.
Dengan memanfaatkan teknologi vermicomposting, yakni teknik pengomposan menggunakan cacing tanah seperti Lumbricus rubellus, peserta diperkenalkan pada metode pengolahan sampah organik yang cepat, murah, dan menghasilkan pupukorganik berkualitas tinggi.
Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan Kota Palu untuk mengurangi beban sampah organik yang saat ini mencapai porsi terbesar dari total timbulan sampah rumah tangga.
Ketua tim pegabdian Dr. Ir. Rizaldi Maadji, S.T.,M.T mengaku selama kegiatan berlangsung, tim pengabdian memberikan edukasi mengenai konsep dasar vermikompos, manfaatnya bagi lingkungan, hingga potensi ekonomi yang dapat diperoleh masyarakat jika teknologi ini diadopsi secara mandiri.
Tidak hanya teori, peserta juga diajak mengikuti sesi demonstrasi pembuatan vermikompos, mulai dari proses pemilahan sampah organik, penyusunan media, penambahan cacing tanah, hingga cara memantau kelembapan dan memastikan kondisi media tetap ideal.
“Antusiasme peserta terlihat tinggi, khususnya saat praktik langsung. Banyak pertanyaan terkait cara merawat cacing, pemilahan sampah yang benar, serta ciri-ciri vermikompos matang,” ujarnya.
Beberapa petugas TPS3R bahkan kata Rizaldi menyampaikan rencana untuk mulai memproduksi vermikompos di area hanggar persampahan maupun memanfaatkan wadah tidak terpakai sebagai tempat kompos.
Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mendorong keinginan peserta untuk menerapkan teknologi tersebut secara nyata.
Di akhir kegiatan, peserta menerima cenderamata berupa pupuk vermikompos hasil penelitian sebagai contoh nyata kualitas pupuk yang dapat diproduksi.
“Pupuk ini diharapkan dapat digunakan untuk tanaman hias, taman lingkungan, maupun area Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Palu,” ungkapnya.
Dia juga berharap melalui kegiatan ini, Program Studi Teknik Lingkungan kembali menegaskan peran aktifnya dalam menghadirkan solusi inovatif berbasis penelitian untuk menjawab permasalahan lingkungan lokal.
“Harapannya, praktik vermikompos dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan masyarakat, sehingga mampu mengurangi volume sampah organik, meningkatkan kualitas tanah, menekan pencemaran, serta mendukung pertanian dan penghijauan kota,” harapnya
Program Studi Teknik Lingkungan berkomitmen untuk terus melakukan riset dan pengabdian yang berdampak langsung, memberikan edukasi praktis, serta mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah organik sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan Kota Palu yang lebih bersih dan berkelanjutan. (*)
Editor : Taswin