Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Peresmian Vihara Karuna Dipa, Jadi Inspirasi Generasi Muda Tebarkan Cinta dan Kedamaian

Mugni Supardi • Minggu, 16 November 2025 | 13:11 WIB
JADI SIMBOL SPRITUALITAS: Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) dr. Reny Lamadjido saat menandatangani prasasti peresmian Vihara Karuna Dipa, Minggu (16/11/2025).
JADI SIMBOL SPRITUALITAS: Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) dr. Reny Lamadjido saat menandatangani prasasti peresmian Vihara Karuna Dipa, Minggu (16/11/2025).

RADAR PALU - Setelah penantian panjang selama 30 tahun atau setelah peletakan batu pertama Vihara Karuna Dipa dilakukan pada 20 Juli 1995, akhirnya Vihara di atas lahan seluas 3.358 meter persegi ini diresmikan pada Minggu 16 November 2025. 

Acara peresmian ini ditandai penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh Ketua Umum (Sanghanayaka) Dewan Pimpinan Sangha Theravada Indonesia (STI) Bhikkhu Sri Subhapanno Mahāthera dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) dr. Reny Lamadjido, didampingi Ketua Yayasan Karuna Dipa Wijaya Chandra, para bhikkhu Sangha Theravada Indonesia, tokoh agama Buddha, tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, serta umat Buddha dari Kota Palu dan sekitarnya.

Ketua Yayasan Karuna Dipa, Wijaya Chandra, dalam sambutannya menyampaikan peresmian ini adalah puncak dari perjalanan panjang selama 30 tahun.

 Baca Juga: Keluarga Korban Penganiayaan Toraranga Soroti Proses Penanganan Perkara, Polisi Sebut Tersangka Bersikap Koperatif

Saat itu kata dia, peletakan batu pertama Vihara Karuna Dipa dilakukan pada 20 Juli 1995 yang dihadiri Menteri Agama RI, Dr. H Tarmizi Taher, Gubernur Sulawesi Tengah Abdul Aziz Lamadjido. 

Selain itu, Yayasan Karuna Dipa juga berperan dalam pembangunan Sekolah Karuna Dipa yang telah berdiri sejak tahun 80-an. 

"Sejarah Vihara Karuna Dipa ini bermula dari semangat olahraga. Dari lapangan basket, berdirilah Vihara Karuna Dipa," ungkapnya.

 Baca Juga: Progres Laporan Oktober 2025 Polres Poso Ungkap Tiga Kasus Pencurian

Ketua Umum (Sanghanayaka) Dewan Pimpinan Sangha Theravada Indonesia (STI), Bhikkhu Sri Subhapanno Mahāthera, dalam sambutannya menyoroti bahwa umat Buddha di Palu memiliki keunggulan tersendiri. Sebelum mendirikan Vihara, terlebih dahulu mendirikan Sekolah Karuna Dipa.

"Ini keistimewaan dari umat Buddha Palu. Padahal mendirikan sekolah tidak mudah, mendirikan Vihara lebih mudah," ujarnya.

Menurutnya, langkah ini menunjukkan komitmen umat Buddha Palu terhadap pendidikan generasi muda. Dengan adanya Sekolah Karuna Dipa, generasi emas dapat memperoleh pendidikan Buddhis sejak dini.

 Baca Juga: Berbasis Ekonomi Biru, APINDO Sulteng Dorong Penguatan Regulasi dan Kawasan Budidaya Sidat di Sulawesi Tengah

Selain itu, Bhikkhu Sri Subhapanno Mahāthera juga memuji fasilitas Vihara Karuna Dipa yang lengkap dan memadai. Hal ini memungkinkan Vihara menjadi pusat berbagai kegiatan, mulai dari pendidikan, meditasi, kegiatan sosial keagamaan, hingga puja bakti.

 

"Vihara Karuna Dipa bisa menjadi pusat segala kegiatan, bukan saja kegiatan pendidikan karena terkait dekat dengan Sekolah Karuna Dipa, tapi juga kegiatan meditasi, kegiatan sosial keagamaan, atau sosial lintas iman untuk mempererat moderasi beragama," jelasnya.

Dengan adanya sekolah dan Vihara yang representatif, Bhikkhu Sri Subhapanno Mahāthera meyakini bahwa umat Buddha di Palu memiliki kualitas unggul dalam hal keyakinan, kedermawanan, dan pengembangan batin mental spiritual. Hal ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat luas.

Dalam kesempatan tersebut, Bhikkhu Sri Subhapanno Mahāthera juga mengenang jasa para pendahulu, termasuk ayah dari Wijaya Chandra dan ayah dari Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reni Lamadjido, yang telah meletakkan batu pertama pembangunan Vihara Karuna Dipa.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), dr. Reny Lamadjido, menyampaikan harapannya agar Vihara Karuna Dipa menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk menumbuhkan nilai-nilai cinta kasih, toleransi, dan perdamaian. 

Reny Lamadjido mengungkapkan rasa syukur atas peresmian Vihara Karuna Dipa setelah 30 tahun proses pembangunan. Ia juga menyoroti kekompakan umat Buddha di Sulawesi Tengah, khususnya generasi muda.

"Walaupun dalam waktu 30 tahun baru bisa diresmikan, tapi luar biasa bangunannya. Saya lihat di depan dan betul-betul bisa digunakan oleh seluruh umat muda yang khususnya ada di Sulawesi Tengah," ujarnya.

 Baca Juga: Noesis Coffee, Bukti Bahwa Ide Spontan Bisa Jadi Bisnis Serius

Dia menjelaskan, Sulawesi Tengah dikenal sebagai daerah yang majemuk dengan beragam suku, bahasa, dan agama.

Olehnya itu, dr Reny menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan kedamaian yang telah terjalin selama ini. Nilai-nilai luhur dalam ajaran Buddha, seperti welas asih, kesederhanaan, dan cinta kasih tanpa batas, sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal di Sulawesi Tengah.

"Momentum peresmian ini juga menjadi refleksi bagi kita semua bersama kerukunan antaragama. Bukan sekedar slogan, melainkan tanggung jawab bersama kita harus terus merawat harmoni ini agar tidak mudah goyah oleh perbedaan," tegasnya.

 Baca Juga: Bappenas Soroti Sawit sebagai Teknologi Hijau Masa Depan, Pilar Indonesia Emas 2045

Reny Lamadjido juga mengingatkan bahwa perbedaan adalah rahmat yang memperkaya kehidupan. Ia berharap Vihara Karuna Dipa dapat menjadi tempat suci yang membawa kedamaian bagi umat Buddha dan masyarakat di sekitarny.(acm)

Editor : Mugni Supardi
#Wakil Gubernur Sulawesi Tengah #Gubernur Sulawesi Tengah Abdul Aziz Lamadjido #Vihara Karuna Dipa #Tarmizi Taher #Ketua Yayasan Karuna Dipa #Dewan Pimpinan Sangha Theravada Indonesia