RADAR PALU — Peringatan Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November dimaknai secara khusus oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah.
Lembaga ini menegaskan bahwa kerukunan sejati tidak lahir dari pengaburan keyakinan, melainkan dari pemahaman moderasi beragama yang kokoh, terbuka, dan penuh penghargaan terhadap perbedaan.
Ketua FKUB Sulteng, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., menyampaikan bahwa toleransi bukan tentang menyeragamkan ajaran agama, tetapi menciptakan ruang aman di mana semua pemeluk agama bisa beribadah sesuai keyakinan tanpa rasa takut.
“Kerukunan tidak memerlukan pengorbanan keyakinan. Yang harus kita bangun adalah sikap moderat, terbuka, dan tetap kokoh memegang ajaran masing-masing,” tegas Prof. Zainal, Sabtu (15/11).
Moderasi Beragama Jadi Fondasi Kerukunan
Prof. Zainal menekankan bahwa moderasi beragama bukan konsep baru, tetapi pedoman penting agar masyarakat mampu hidup berdampingan di tengah ragam keyakinan.
Menurutnya, dua sikap menjadi kunci yakni, Pertama, Iman yang kuat pada ajaran agama masing-masing, dan kedua, Keterbukaan untuk memahami keberagaman tanpa merasa terancam.
“Sikap terbuka dan apresiatif inilah yang membuat kita bisa saling mendukung sebagai sesama anak bangsa,” jelasnya.
Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, Prof. Zainal menilai bahwa toleransi harus menjadi prioritas bersama.
Ia menyerukan agar masyarakat lebih aktif membangun ruang kolaboratif yang mengedepankan kepentingan bersama di atas perbedaan.
“Kita harus menjadikan toleransi sebagai fondasi kehidupan sosial, bukan pilihan tambahan,” ujarnya.
Peran FKUB dan Kolaborasi Lintas Sektor
FKUB Sulteng selama ini aktif mengampanyekan moderasi beragama melalui berbagai kerja sama lintas institusi, di antaranya Satgas Madago Raya, Korem 132/Tadulako, Polda Sulteng, serta pemerintah daerah.
Salah satu kegiatan terbaru dilakukan bersama Pemkab Donggala dalam program penguatan kerukunan masyarakat.
Kolaborasi ini bertujuan memperluas ruang dialog dan mencegah munculnya paham ekstrem yang mengancam persatuan.
Peringatan Hari Toleransi Internasional disebut sebagai momen penting untuk kembali meneguhkan komitmen bersama dalam menolak ekstremisme dan segala bentuk intoleransi.
“Dengan pemahaman moderasi beragama yang baik, kita bisa menjamin umat manusia hidup berdampingan dengan damai, aman, dan rukun,” pungkas Prof. Zainal.
SUDUT PANDANG BERBEDA: “Toleransi Sebagai Investasi Sosial”
Jika biasanya toleransi dibahas sebagai kewajiban moral, perspektif lain melihatnya sebagai investasi sosial jangka panjang.
Toleransi memperkuat stabilitas daerah, meminimalkan konflik horizontal, dan menciptakan ruang kerja sama yang berdampak langsung pada pembangunan.
Daerah yang stabil dan harmonis cenderung lebih menarik bagi investasi, program pembangunan, dan kontribusi masyarakat lintas agama.
Dengan kata lain, moderasi beragama bukan hanya nilai spiritual, tetapi juga strategi pembangunan daerah yang efektif.***
Editor : Talib