RADAR PALU – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sigi terus mendorong transformasi digital dalam layanan perpustakaan sebagai langkah adaptasi terhadap perubahan pola baca masyarakat yang kini semakin bergeser ke platform digital.
Kepala Dispusip Sigi, Imron Noor, menjelaskan bahwa digitalisasi koleksi buku menjadi strategi penting untuk memperluas akses literasi bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang akrab dengan teknologi.
“Transformasi digital di dunia perpustakaan sudah menjadi kebutuhan di era sekarang. Program digital itu mau tidak mau harus kita ikuti, karena generasi Z saat ini lebih banyak beraktivitas di gadget dan media sosial daripada membaca buku secara langsung,” ujar Imron saat diwawancarai Radar Palu di ruang kerjanya, Desa Bora, Kamis (13/11/2025).
Menurutnya, melalui digitalisasi, masyarakat dapat tetap membaca dan mengakses bahan bacaan kapan saja tanpa harus datang langsung ke perpustakaan. Ia menilai, minat baca masyarakat dapat terus tumbuh apabila layanan literasi disesuaikan dengan kebiasaan digital yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
“Ke depan, perpustakaan dan arsip di Sigi akan terintegrasi dalam satu sistem digital. Buku dan arsip akan tersedia dalam format digital sehingga mudah diakses oleh masyarakat,” katanya.
Imron juga mengungkapkan bahwa di Kabupaten Sigi terdapat banyak potensi penggiat literasi seperti pendongeng dan pegiat budaya yang belum banyak dilibatkan. Karena itu, Dispusip berencana menghidupkan kembali kegiatan literasi berbasis komunitas untuk menumbuhkan minat baca anak-anak.
“Kita ingin orang datang ke perpustakaan bukan hanya melihat buku fisik, tapi juga bisa membuka komputer untuk mencari referensi digital. Misalnya mahasiswa yang sedang menulis skripsi bisa mencari sumber dari koleksi digital tanpa harus datang langsung,” jelasnya.
Selain itu, Dispusip Sigi juga tengah menyiapkan inovasi edukatif berupa game sejarah lokal berbasis digital yang akan dirilis pada tahun 2026. Game ini akan menampilkan cerita rakyat dan sejarah daerah, seperti Kerajaan Lemba dan sejarah Danau Lindu, dalam format interaktif berbasis Roblox menggunakan kacamata permainan khusus.
“Dalam game itu, anak-anak bisa bermain sekaligus belajar. Saat mereka klik karakter atau lokasi tertentu, akan muncul kisah-kisah sejarah seputar Kabupaten Sigi. Tujuannya agar anak-anak kita tidak hanya mengenal tokoh nasional seperti Gajah Mada atau Malin Kundang, tapi juga memahami sejarah daerahnya sendiri,” terang Imron.
Imron menambahkan, kisah-kisah sejarah lokal akan dikemas menjadi cerita anak dengan pesan moral dan edukasi, seperti menjaga lingkungan dan melestarikan hutan.
“Saya ingin anak-anak di Sigi mengenal sejarah lokalnya, tokoh-tokoh daerahnya, serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Dari situ tumbuh rasa cinta terhadap daerah dan kepedulian terhadap lingkungan,” tuturnya.
Untuk mendukung program digitalisasi tersebut, Dispusip Sigi juga akan terus mengoptimalkan layanan perpustakaan keliling, terutama di wilayah pegunungan yang belum sepenuhnya merasakan manfaat teknologi digital.
“Perpustakaan keliling tidak akan mati. Justru di daerah-daerah terpencil, layanan itu menjadi jembatan agar anak-anak tetap mendapat akses baca. Kami juga akan menggandeng para penggiat literasi untuk mensosialisasikan program digital ini sekaligus menarik minat baca masyarakat,” ujar Imron.
Ia mengakui, masih ada sejumlah kendala dalam pelaksanaan transformasi digital, seperti keterbatasan jaringan internet dan perangkat komputer di beberapa wilayah. Namun, pihaknya berkomitmen mengatasinya secara bertahap.
“Harapan kami, seluruh masyarakat Sigi dapat menikmati layanan literasi digital tanpa terkendala jarak dan fasilitas. Melalui digitalisasi ini, kami ingin menghadirkan perpustakaan yang modern, mudah diakses, dan menjadi ruang belajar dinamis bagi semua kalangan,” pungkasnya.(gel)