RADAR PALU - Kecamatan Pinembani menjadi salah satu pusat perhatian dalam kajian pengembangan kawasan transmigrasi yang dilakukan Tim Output 2 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) dengan Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si. sebagai ketua tim beserta 4 anggota meliputi Muhammad Naufal, Nafachani Timmu Nafsi, S.P., Sholikatul Azizah Nur Fitriani, S.P.W.K., dan Arla Disayna Azzahra Yuniaz, S.A.P.
Sebagai bagian dari rangkaian pendampingan wilayah oleh Kementerian Transmigrasi, tim melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) pada Kamis, 6 November 2025, di Kantor Kecamatan Pinembani untuk merumuskan komoditas unggulan dan arah pembangunan kawasan.
FGD tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Donggala, Camat Pinembani beserta perangkat kecamatan, Kepala BPP Pinembani, aparat desa, hingga kelompok tani.
Baca Juga: KWT di Palu Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga dan Urban Farming
Kehadiran mereka menjadi momentum penting untuk menyatukan pandangan terkait potensi dan tantangan pengembangan wilayah.
Dalam diskusi, peserta sepakat bahwa kakao merupakan komoditas paling strategis untuk dijadikan basis ekonomi kawasan transmigrasi Pinembani.
Kesuburan tanah dan tren peningkatan produksi menjadikan kakao memiliki prospek besar, meskipun sejumlah kendala masih menghambat optimalisasi, terutama pada infrastruktur jalan dan akses distribusi hasil panen.
Baca Juga: KWT di Palu Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga dan Urban Farming
Ketua Tim Output 2 Ekspedisi Patriot UNDIP, Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa penguatan kakao dapat mempercepat tumbuhnya pusat ekonomi baru di wilayah tersebut.
Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada pembenahan fasilitas dasar serta penguatan kapasitas petani.
Dalam forum tersebut, Camat Pinembani, Sukmawati, S.E., M.A.P., mengungkapkan bahwa pembangunan akses jalan menuju Pinembani telah masuk dalam rencana kerja Dinas PUPR Kabupaten Donggala dan ditargetkan mulai dikerjakan akhir tahun 2025.
Informasi ini disambut baik peserta FGD mengingat akses transportasi menjadi masalah paling mendesak.
Dukungan juga datang dari Kepala Disnakertrans Kabupaten Donggala, Drs. Moh. Ilham Yunus, M.Si., yang menegaskan bahwa pengembangan komoditas kakao sejalan dengan visi pemerintah untuk memperkuat kawasan transmigrasi berbasis potensi lokal.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat agar pembangunan tidak berhenti pada tataran perencanaan saja.
Baca Juga: TPK Hotel Bintang di Palu Turun, Wisatawan Asing Juga Menyusut
Melalui FGD ini, disimpulkan bahwa Pinembani memiliki peluang besar berkembang sebagai kawasan transmigrasi produktif berbasis kakao, dengan catatan diperlukan intervensi nyata pada pembangunan infrastruktur dan pemerataan sarana produksi.
Hasil diskusi ini diharapkan menjadi dasar penyusunan desain pengembangan kawasan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pencapaian sejumlah tujuan SDGs, terutama terkait ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan pengembangan wilayah terpencil. (*)
Editor : Taswin