Satu diantara pembiayaan inovatif berbasis lingkungan itu yakni penerapan insentif fiskal berbasis ekologis EFT di daerah. Seperti Transfer Anggaran Provinsi Berbasis Ekologis (TAPE), Transfer Anggaran Kabupaten berbasis Ekologis (TAKE) serta Alokasi Anggaran Kelurahan berbasis Ekologis (ALAKE).
“Karena dampak program itu pada ketahanan bencana dan meningkatkan daya dukung lingkungan. Sebab Indonesia adalah negara peringkat 12 dari 35 negara di dunia dengan resiko tinggi terjadinya korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat dampak berbagai jenis bencana data Bank Dunia tahun 2018,” kata Ahlis dalam pemaparannya di Sriti Convention Hall, Palu, Senin (3/11/2025).
Dia memaparkan, angka deforestasi hutan di Sulawesi Tengah dalam 10 tahun terakhir rata-rata per tahun mencapai 14.841 hektar yang setara dengan 18.000 lapangan sepak bola akibat alih fungsi lahan, pertambangan dan sebagainya.
Selain itu, berdasarkan hasil studi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) April 2023 dibandingkan April 2024 dan 10 tahun terakhir terus terjadi peningkatan suhu.
“Satu tahun saja suhunya bisa naik 0,4 derajat celcius. Sulawesi Tengah 10 tahun terakhir itu suhunya naik 1,2 derajat Celcius di bawah pemanasan global selama satu tahun 1,45 derajat Celcius,” katanya.
Dampaknya sambung dia, di Banggai Kepulauan misalnya, Ikan Kakatua pemakan Alga hilang. Akibatnya, 400 hektar lebih terumbu karang memutih menuju kematian. Dan masih banyak dampak lainnya.
Oleh karena itu, Ahlis mendorong pemerintah daerah melahirkan program-program proteksi lingkungan baik di darat maupun di laut. (ril)
Editor : Nur Soima Ulfa