RADAR PALU - Sebanyak 37 penulis asal Sulawesi Tengah menerima penghargaan dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah atas keberhasilan mereka menulis dan menerbitkan buku cerita anak dwibahasa menggunakan bahasa Indonesia dan terjemahan bahasa daerah Sulawesi Tengah sebagai upaya pelestarian dan perlindungan bahasa lokal.
Mereka juga diajak berdialog bersama perwakilan Balai Bahasa Provinsi Sulteng, Kemenkum Sulteng dan Bunda Literasi Kota Palu, Diah Puspita dalam kegiatan Diseminasi Produk Penerjemahan Buku Cerita Anak Dwibahasa yang digelar di Hotel Santika Palu, Jumat (24/10).
Kasubag Kasubag Umum Balai Bahasa Sulteng, Abdul Rahim Husin mengungkapkan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, dan turunannya yaitu PP Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa dan Sastra menganjurkan kepada Balai Bahasa di Provinsi untuk melakukan perlindungan bahasa, termasuk di dalamnya kegiatan literasi.
Baca Juga: Harga Emas Mulai Turun, The Palace Palu Sebut Waktu yang Tepat Berinvestasi
“Kegiatan ini mulai dari tahapan penjaringan penulis, dan Alhamdulillah dari 37 judul produk yang dihasilkan, semuanya merupakan karya penulis asal Sulawesi Tengah sendiri, putra-putri daerah kita,” ungkapnya.
Saat proses penjaringan minat dari para penulis di Sulteng cukup tinggi, pasalnya dari 37 naskah yang terpilih, ada sekitar 59 orang yang mendaftar sebagai calon penulis. Hal ini kata Abdul Rahim animo masyarakat untuk menulis cukup besar.
Untuk itu, kedepan mereka akan melihat lagi apakah target 37 judul ini bisa dinaikkan menjadi 40 buku atau lebih, agar semakin banyak penulis daerah yang bisa ikut berkontribusi.
Baca Juga: OJK Sulteng Ajak Generasi Muda Waspadai Kejahatan Keuangan Digital
“Kami membuka ruang selebar-lebarnya bagi penulis lokal untuk berkarya.
Produk buku yang dihasilkan juga merupakan produk dwibahasa, yakni menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, sebagai bentuk implementasi dari amanat undang-undang yang saya sebutkan tadi,” tambahnya.
Dari hasil evaluasi Balai Bahasa Sulteng, Abdul Rahim menyebut keterlibatan ilustrasi lokal Sulteng masih sangat sedikit. Dari total 37 judul buku cerita anak hanya ada 10 ilustrator lokal asal Sulawesi Tengah yang turut berpartisipasi.
Baca Juga: Banjir di Kabupaten Tolitoli Sudah Seatap Rumah, BPBD Masih Mendata Jumlah Korban
“Kami menyadari jumlah ilustrator masih terbatas, namun ruang partisipasi tetap kami buka karena program ini merupakan Program Prioritas Nasional dan ada perhatian khusus melalui APBN nya maka kami berharap semakin banyak anak muda yang tertarik menjadi ilustrator buku-buku literasi daerah,” bebernya.
Produk buku yang dihasilkan dari 37 penulis ini nantinya akan bisa digunakan oleh pegiat literasi, komunitas, perpustakaan, hingga pemerintah daerah sebagai bahan literasi di berbagai kegiatan. Serta dijadikan bahan ajar muatan lokal (mulok) di tingkat pendidikan dasar.
“Saat ini kami sudah mendistribusikan buku-buku tersebut kepada sejumlah mitra, termasuk pemerintah daerah dan para penulis yang mewakili berbagai wilayah di Sulawesi Tengah,” pungkasnya.
Sementara itu seorang penulis dwibahasa yang juga berprofesi sebagai guru, Retno sangat mengapresiasi program dari Balai Bahasa Sulteng ini. Menurutnya, dengan program ini bisa menyalurkan hobinya menulis.
Baca Juga: Influencer Gen Z Bagikan Cara Lawan Hoaks dan Deepfake di Media Sosial
“Tahun 2025 ini sudah tahun ketiga saya bersama Balai Bahasa dan sudah melahirkan tiga buku. Dan masih ada saya liat teman-teman penulis lain yang masih bertahan sampai ditahun ke tiga ini,” ujarnya.
Ia bahkan mengibaratkan Balai Bahasa Sulawesi Tengah sebagai sebuah “bengkel”, karena menurutnya, banyak penulis yang memiliki hobi menulis secara autodidak, namun belum memiliki wadah yang tepat untuk memperbaiki, mengembangkan, serta mendistribusikan karya mereka.
“Yang tadinya kami (penulis) tidak tau kemana arah dan tujuan dan posisinya kami penulis apa ?. Tapi dari balai bahasa kami ditempa. Jadi menurut saya balai bahasa ini melahirkan penulis-penulis yang hebat. Harapanya semoga lahir penulis-penulis muda yang baru,” harap Retno(***)
Editor : Mugni Supardi