RADAR PALU - Kabupaten Poso memiliki luas wilayah sebesar 24.197 km², dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, mulai Tanaman pangan seperti padi, ubi kayu, dan jagung, serta tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa, dan lainnya.
Kabupaten Poso juga memiliki tempat pariwisata salah satunya adalah, Danau Poso, yang merupakan danau terbesar ketiga di Indonesia dan berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan, serta agenda tahunan diberi nama festival Danau Poso.
Dengan potensi sumber daya alam yang besar, Kabupaten Poso memiliki peluang untuk meningkatkan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakatnya.
Baca Juga: Kurang Lebih 100 Proposal Masuk ke Bagian Kesra, Penyaluran Dana Hibah di Palu Masih Berproses
Atas dasar inilah, PT Poso Energy mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya alam berasal dari danau Poso dan sungai Poso yakni PLTA Sulewana atau PLTA Poso.
Proyek ini memiliki kapasitas 515 MW dan beroperasi secara komersial pada 7 Februari 2023. PLTA Poso dibangun dalam dua tahap, dengan tahap pertama mulai beroperasi pada Desember 2012 dan tahap kedua selesai pada Desember 2021.
Proyek ini diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada 25 Februari 2022. Dengan adanya PLTA Poso, Sulawesi Tengah dapat meningkatkan pasokan listrik dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Rp 13,3 Miliar di BPKAD Buol Menjadi Atensi Kejati Sulteng
Selain itu, PLTA Poso juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dan mendukung target pemerintah untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060.
Bak gayung bersambut. PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di wilayah Sulawesi, terutama dalam mendukung program transisi energi dan Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Baca Juga: Inspektorat Kabupaten Donggala Sebut Banyak Bumdes Gagal Mengelola Dana Penyertaan Modal
Swasembada Energi dari Hulu ke Hilir
PLTA Sulewana, atau lebih tepatnya PLTA Poso, adalah contoh nyata upaya swasembada energi listrik di Sulawesi Tengah. Berlokasi di Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, PLTA ini memiliki kapasitas 515 MW dan dikelola oleh PT Poso Energi.
PLTA Poso menggunakan sumber daya air Sungai Poso, membuatnya menjadi salah satu pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) terbesar di Indonesia Timur.
Dengan kapasitas 515 MW, PLTA ini dapat memenuhi kebutuhan listrik untuk empat provinsi di Sulawesi, yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Baca Juga: Dorong Penyerapan Anggaran, Bupati Pimpin Evaluasi APBD 2025
PT Poso Energy telah melakukan upaya konservasi lingkungan, seperti penanaman pohon dan rehabilitasi lahan kritis di sekitar area tangkapan air Danau Poso dan Sungai Poso.
Dengan menggunakan energi terbarukan, PLTA Poso dapat membantu mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mendukung target pemerintah untuk mencapai bauran EBT sebesar 23% pada tahun 2025 .
PLTA Poso telah memberikan kontribusi sekitar 10,69% dari total bauran EBT dalam sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan. Selain itu, sebagai proyek dengan kapasitas besar, PLTA ini berperan sebagai peaker dan follower dalam sistem kelistrikan Sulawesi.
Diretur Utama PT PLN, Darmawan Prasojo, kehadiran pembangkit yang memanfaatkan aliran air Sungai Poso ini sejalan dengan masuknya banyak industri smelter ke dalam sistem kelistrikan PLN di Sulawesi Bagian Selatan.
Keberadaan PLTA Poso membantu memenuhi kebutuhan industri akan listrik hijau, yang merupakan syarat penting untuk ekspor.
Katanya, PLN memiliki komitmen untuk terus mendukung perkembangan industri, khususnya industri pengolahan hasil tambang dengan memberikan pilihan energi bersih yang dapat diandalkan.
PLTA Poso yang tidak mengandalkan teknologi tinggi dapat diimplementasikan oleh tenaga kerja Indonesia sendiri, tanpa bergantung pada tenaga ahli dari luar.
Hal ini mengurangi biaya produksi listrik dan menunjukkan bahwa pengembangan EBT semakin kompetitif, serta bahwa teknologi ramah lingkungan dapat menjadi bagian integral dari kemajuan bangsa.
PLTA Poso sebagai pembangkit peaker didukung pembangkit memiliki live storage yang besar dari Danau Poso, dan regulating dam yang mengatur debit keluaran air.
Baca Juga: Pemkab Sigi Sinergikan NGO Menjadi Mitra Strategis Majukan Daerah
Hal ini memungkinkan pembangkit untuk beroperasi dengan kapasitas penuh sepanjang tahun. PLTA Poso katanya lagi, mampu start-stop dengan cepat, bahkan sinkronisasi dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 15 menit.
PLTA Poso menggunakan sistem pengelolaan run-off river (ROR). Sistem ini menjaga aliran sungai tetap berlangsung selama 24 jam dengan menggunakan bendungan atau tanggul kecil sebagai penahan atau gerbanga air.
Tanpa mengganggu aliran sungai Darmawan menyebut istilah, hanya pinjam air dari sungai lalu diversi sedikit ke sekitar sisi sungai, dan diterjunkan ke turbin, kemudian kembalikan lagi pada sistem sungai.
PLTA Poso terus memberikan manfaat signifikan bagi lingkungan sekitar dengan memastikan kualitas dan kuantitas air tetap terjaga.
Salah satu upaya PT Poso Energy dalam menjaga kualitas dan kuantitas air adalah dengan melakukan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Poso pada lahan kritis di sekitar area tangkapan air Danau Poso dan Sungai Poso, yang telah dimulai sejak tahun 2015.
Rahabilitasi DAS Poso umumnya dilakukan melalui kolaborasi dengan melibatkan masyarkaat sekitar dan pemilik lahan yang terindikasi kritis, mengacu pada peta lahan kritis dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Palu.
Baca Juga: Pemkab Sigi Gelar Rakor SAKIP Bersama Kemenpan-RB, Bahas Strategi Percepatan Kinerja Daerah
Pondasi Ekonomi, Pendidikan, dan Kesehatan Rakyat Wilayah 3T
Listrik sebagai energi berkeadilan saat ini sudah dirasakan masyarakat di penjuru Sulawesi tengah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus mengembangkan potensi energi baru terbarukan dan telah menandatangani nota kesepahaman dengan Indonesia Power untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik dan potensi energi baru terbarukan (EBT) di Sulawesi Tengah.
Pembangunan infrastruktur listrik, seperti jaringan transmisi dan gardu induk, juga penting untuk meningkatkan akses listrik di wilayah 3T Sulawesi Tengah.
Dengan upaya-upaya ini, masyarakat di wilayah 3T Sulawesi Tengah dapat menikmati listrik yang lebih andal, terjangkau, dan berkelanjutan, sehingga meningkatkan kualitas hidup dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca Juga: Yusuf Donggala Tersenggol dari LIDA, Netizen Hujat Juri Soimah Sampai Minta Disantet
Paryono- salah satu warga Poso yang berdomisili di Kelurahan Gebangrejo, Kabupaten Poso menceritakan kenangannya pada Radar Palu, Jawa Pos Grup. Sekira 22 tahun yang lalu, kata Paryono kondisi Kabupaten Poso tidak segemerlap seperti tahun ini.
Hampir semua wilayah di Poso saat itu, sering terjadi pemadaman listrik yang tidak jelas jadwalnya. Para pelaku usaha kata Paryono, banyak yang beralih menggunakan mesin generator guna mengantisipasi terjadinya pemadaman listrik secara tiba-tiba.
Namun kondisi saat ini berbeda jauh dengan kondisi sebelum hadirnya PLTA Poso. Saat ini, hampir semua jalan-jalan di Kota Poso terang benderang dengan lampu penerangan PLN hingga ke desa-desa.
Baca Juga: Gubernur Sulteng Anwar Hafid Pimpin Upacara HUT ke-12 Kabupaten Morowali Utara
Dampak lainnya kata Paryono, usaha warungnya yang diritis sejak bertahun-tahun baru bisa berkembang setelah jaringan listrik menyala normal alias 24 jam.
Alasannya cukup sepele karena usaha warung makan selalu mengandalkan bahan baku segar mulai, sayur-mayur, ikan dan daging ayam.
"Dulu mau menyimpan bahan baku rumah makan takut rusak alias busuk karena kulkas yang digunakan sering rusak akibat listrik sering padam,’’ ungkap Paryono ditemui awal Oktober 2025 lalu.
Baca Juga: Bupati Morut Serahkan Penghargaan Adhi Bakti kepada 22 Kader PKK di Puncak HKG ke-53
Bahkan kata Paryono, menggunakan jaringan listrik dan generator (genset) bedanya sangat jauh. Katanya, lebih hemat menggunakan listrik karena semua bisa direncanakanan sesuai kebutuhan.
Paryono yang berwiraswasta di Jalan Pulau Seram, Kota Poso, saat ini tidak gelisah lagi memikirkan jaringan listrik yang sering padam seperti dulu karena listrik sudah normal setiap hari. Yang dipikirkan saat ini potensi mengembangkan usaha atau cabang rumah makan miliknya.
Berdasarkan data Radar Palu, dampak dari listrik berkeadilan tersebut menjadi daya ungkit ekonomi di berbagai wilayah. Sesuai data dari Bank Indonesia (BI) bahwa, konstruksi, dan perdagangan juga tumbuh positif.
Baca Juga: Wabup Djira Resmikan Unit Donor Darah PMI Morowali Utara
Di sisi lain, seluruh komponen pengeluaran menunjukkan pertumbuhan baik dari sisi pertumbuhan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, PTMB, dan ekspor.
Tingkat Inflasi gabungan 2 (dua) kota di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2023 di prakirakan berada pada level titik tengah sasaran inflasi nasional.
Pada tahun 2024, Inflasi gabungan 2 (dua) kota di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2023 diprakirakan berada pada batas atas sasaran target inflasi nasional 2024, yakni 2,5% 1%.
Bahkan sejumlah industri di Wilayah Sulawesi Tengah terus mengalami pertumbuhan khususnya berkaitan pengelolaan sumber daya alam. Semua mengandalkan pasokan listrik yang memiliki suplai 24 jam.
Baca Juga: Permintaan Drainase, Jalan, dan Program Pertanahan Warnai Reses Imam Dermawan
Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meresmikan enam Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), yang merupakan bagian dari 37 proyek ketenagalistrikan di 18 provinsi se-Indonesia.
Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk mencapai swasembada energi secara penuh, sehingga dalam kurun waktu lima tahun Indonesia tidak lagi bergantung pada impor energi.
Prabowo juga menegaskan pentingnya penguatan sektor ketenagalistrikan untuk mendukung transformasi ke arah industrialisasi, membuka peluang ekonomi dan mampu melistriki hingga kawasan terpencil.
Baca Juga: Agar Perjalanan Tetap Nyaman, Honda Sulteng Berbagi Tips Gaya Berkendara Happy
Sementara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan komitmennya untuk mempercepat pembangunan jaringan transmisi listrik sebagai langkah strategis dalam mendukung pengembangan pembangkit listrik yang berkelanjutan di Indonesia.
Selain menghadirkan pembangkit listrik bersih di daerah 3T, infrastruktur transmisi dan gardu induk di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah juga turut diresmikan.
Kehadiran infrastruktur tersebut akan menyalurkan energi listrik bersih dari Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Luwuk, Kabupaten Banggai 40 megawatt (MW) yang menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sewa 40 MW, hal ini berpotensi menghemat penggunaan BBM sebesar 500 ribu liter setiap tahunnya.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberi mandat dalam ketenagalistrikan nasional, pihaknya akan terus berupaya mendukung pemerataan listrik sebagai kebutuhan dasar masyarakat.
Akselerasi Energi Hijau untuk mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan
Sulawesi Tengah memiliki potensi besar dalam mengembangkan energi hijau untuk mewujudkan masa depan berkelanjutan. Beberapa potensi energi hijau yang dapat dimanfaatkan adalah: Panas Bumi, dengan potensi 368 megawatt, panas bumi merupakan salah satu sumber energi hijau yang menjanjikan.
Sementara Potensi energi air di Sulawesi Tengah mencapai 3.095 MW, menjadikannya salah satu sumber energi hijau terbesar di daerah ini.
Sedangkan dengan pembangkit tenaga surya, Sulawesi Tengah dapat menghasilkan tenaga listrik sebesar 6.187 MW.
Baca Juga: Lapas Luwuk Terapkan Sistem Money Cashless Bagi Warbin
Potensi energi lain yakni, biomassa di Sulawesi Tengah dapat menghasilkan 326,9 MW dan Tenaga angin di Sulawesi Tengah dapat menghasilkan tenaga listrik sebesar 908 MW.
Namun, pengembangan energi hijau di Sulawesi Tengah masih menghadapi beberapa kendala, seperti banyak potensi energi hijau yang terletak di kawasan hutan konservasi atau hutan adat.
Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, diperlukan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk menciptakan kebijakan yang mendukung pengembangan energi hijau di Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Sudah Semakin Adaptif dan Berani Berinovasi, Pemkot Dorong Pelaku Usaha Lindungi Karya dengan HAKI
Dengan demikian, Sulawesi Tengah dapat mewujudkan masa depan berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Kabid EBT Dinas ESDM Sulteng, Sultanisah dalam suatu kesempatan menjelaskan, ada target 15 persen di tahun 2022, dan sudah dilewati, dan Potensi energi air paling banyak di Sulteng mencapai 3.095 MW.
Kemudian interkoneksi masih terbatas, pengembangan EBT skala besar jadi kewenangan pemerintah pusat, lemahnya koordinasi perizinan, hingga minimnya pelaporan dan informasi penggunaan energi oleh pelaku usaha.
Baca Juga: Dari Iuran Sampah, Kelurahan Pengawu Sukses Himpun Dana Rp206,2 Juta
PLN UIP Sulawesi juga berencana membangun jalur transmisi untuk menghubungkan Sulawesi Tengah dengan Gorontalo, guna meningkatkan keandalan pasokan listrik dan mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
Dengan upaya ini, PLN diharapkan dapat mendukung kedaulatan energi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah.
Program PLN di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) Sulawesi Tengah difokuskan pada peningkatan akses listrik dan pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan.
Baca Juga: Produk Ecoprint Diharapkan Jadi Souvenir Daerah dan Seragam Khas Instansi
Salah satu contoh adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan jaringan transmisi untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik di wilayah tersebut.
Selain itu, terdapat juga proyek kerja sama dengan mahasiswa melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang mengembangkan inovasi energi terbarukan dan sistem air bersih di desa-desa terpencil Sulawesi Tengah, seperti Desa Wuasa dan Watumaeta.
Inovasi ini menggunakan panel surya untuk menyediakan listrik stabil dan sistem reverse osmosis untuk menghasilkan air bersih layak minum.
Baca Juga: JPU Belum Siap Bacakan Tuntutan, Sidang Dugaan Penganiayaan Almarhum Bayu Ditunda
Dengan demikian, program PLN dan inovasi masyarakat dapat meningkatkan akses listrik dan kualitas hidup masyarakat di daerah 3T Sulawesi Tengah.
Langkah ini membuat PLN tidak sekadar perusahaan listrik, tetapi juga menjadi perusahaan teknologi berbasis inovasi.
Dengan upaya tersebut, PLN akan menjadi leading sector bisnis masa depan dan solusi kebutuhan bagi masyarakat.
Baca Juga: Dilalap Api, Kerugian Capai Rp150 Juta Akibat Kebakaran Kafe Kebun Kopi
Josua Simanungkalit, General Manager PT PLN UIP Sulawesi, mengatakan, upaya mendukung program transisi energi melalui NZE Moonshot, UIP Sulawesi membangun pembangkit dan jaringan transmisi yang ramah lingkungan.
Adapun dalam proses pelaksanaan pembangunan, UIP Sulawesi juga memaksimalkan penggunaan material Produk Dalam Negeri (PDN) dengan capaian sebesar 76% pada tahun 2023.
Untuk di wilayah Sulawesi Tengah kata Josua ada tiga proyek yang sementara dibangun. Ketiga proyek kelistrikan itu adalah Gardu Induk (GI) bertegangan 150 kilo volt (kV) yang terletak di Kecamatan Palu Utara, GI 150 kV di Kecamatan Sindue dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) bertegangan 150 kV sepanjang 24,8 kilometer sirkuit (kms) yang terbentang dari kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala sampai dengan Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Ketiga proyek strategis nasional (PSN) tersebut sudah dialiri tegangan listrik perdana untuk selanjutnya mulai beroperasi.
Keberadaan ketiga infrastruktur ini akan berfungsi untuk menyalurkan daya listrik dari pembangkit listrik Palu 3 berkapasitas 2x50 megawatt (MW) yang direncanakan beroperasi di tahun ini.
Pekerjaan ini merupakan lanjutan dari pembangunan GI dan SUTT 150 kV Tawaeli – Talise yang telah beroperasi lebih dulu pada bulan Januari 2024.
Baca Juga: Kasus Sapi Seruduk Ibu Paruh Baya di Layana, Pemilik Ternak Minta Maaf dan Bertanggung Jawab
Josua memastikan, setiap tahapan pembangunan dipantau secara ketat, baik kepatuhan terhadap standar keselamatan sejak tahap perencanaan hingga tahap akhir penyelesaian proyek pembangunan.
Terkait energi hijau, PT Befar Evergreen Industri menyatakan rencana strategis untuk berinvestasi di sektor energi bersih di Provinsi Sulawesi Tengah, dengan fokus pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di beberapa wilayah Kabupaten Sigi.
Rencana ini disampaikan langsung kepada Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid pada 15 Oktober 2025, dan akan memanfaatkan potensi aliran Sungai Lariang, Sungai Gumbasa, dan Sungai Bulili.
Baca Juga: Berprestasi, SDN 25 Palu Ungguli Kejuaraan Bidang Olahraga
Proyek besar ini mencakup lima titik utama, yaitu PLTA Panroe (200 MW), PLTA Lindu (143 MW), PLTA Tuare (175 MW), PLTA Banggaiba (312 MW), dan PLTA Rantewolu (300 MW).
Target utama proyek ini adalah memperkuat pasokan energi regional, memperluas elektrifikasi hingga ke desa-desa terpencil sebagai bagian dari program "Berani Menyala" dan visi "Sulteng Nambaso", serta mendukung fondasi pembangunan ekonomi daerah.
Kehadiran investasi energi ini diharapkan Gubernur Anwar Hafid dapat memperkuat sistem kelistrikan di Sulawesi Tengah khususnya Kabupaten Sigi dan sekitarnya, sekaligus mendukung kebutuhan energi secara nasional berdaulat menjadikan Indonesia kuat termasuk Sulawesi Tengah khususnya untuk kawasan industri, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu yang tengah berkembang. ***
Editor : Talib