Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

PLTA Poso, Cahaya Hijau dari Jantung Sulawesi

Syahril. • Kamis, 23 Oktober 2025 | 18:09 WIB
PLTA Poso di  Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
PLTA Poso di Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Di antara kabut pagi yang menggantung di Danau Poso, gemuruh turbin terdengar bagai nafas baru bagi bumi. Air yang dulu hanya mengalir ke laut, kini disulap menjadi energi listrik yang masuk ke sendi-sendi kehidupan warga. Menyalakan lampu, menggerakan pabrik hingga menyalurkan harapan tentang masa depan yang lebih bersih.

SYAHRIL : Radar Palu-Jawa Pos Grup

Dari balik deru mesin dan dinginnya dinding beton milik Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso Energy di Desa Sulewana, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah ada denyut kehidupan baru, tentang manusia yang berdamai dengan alam sambil memanen energi baru dan terbarukan (EBT) yang dihasilkan oleh air yang tak pernah lelah mengalir.

Pagi-pagi sekali, saat kabut masih pekat, para pegawai di PT Poso Energy mulai bekerja, setiap divisi memastikan bahwa semua berjalan sesuai dengan prosedur agar listrik mengalir dengan baik hingga ke perkampungan. Mereka adalah putra-putra bangsa dengan pengetahuan kelistrikan mumpuni.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahaan Paris Agreement, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 - 41 persen pada 2030.

Pada 2021, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat itu menyampaikan, sektor energi diharapkan dapat berkontribusi menurunkan emisi sebesar 314 - 398 juta ton CO2e, melalui pengembangan energi terbarukan, pelaksanaan efisiensi energi, konservasi energi serta melakukan penerapan teknologi energi bersih.

PLTA Poso Energy yang beroperasi dari jantung Pulau Sulawesi, merupakan wujud nyata sebuah upaya akselerasi energi terbarukan di Tanah Air. Perusahaan sepenuhnya berkomitmen menjalankan program pemerintah untuk mengejar target net zero emission pada tahun 2060.

Pembangunan PLTA ini merupakan karya anak bangsa dengan sistem pengambilan air run-of-river dengan saluran penghantar penstock.

Air yang ditampung dialirkan ke dalam sebuah saluran melalui pipa bertekanan yang disebut penstock. Setelah melalui kelokan-kelokan penstock dengan kemiringan atau elevasi yang tinggi, air akan jatuh dengan kecepatan tinggi lalu digunakan untuk memutar bilah-bilah turbin yang terhubung dengan generator dan mengubahnya menjadi energi listrik.

Energi listrik yang dihasilkan pun tak main-main, mencapai 515 Megawatt (MW) dengan exclusive committed energy 1.669 Gigawatt Hours (GWh) per tahun. PLTA Poso ini merupakan gabungan dari PLTA eksisting yang memiliki kapasitas sebesar 3 x 65 MW dan telah beroperasi selama 10 tahun. Kemudian PLTA Poso ekstension tahap 1 dengan kapasitas 4 x 30 MW serta PLTA Poso ekstension tahap 2 yang memiliki kapasitas 4 x 60 MW.

Pembangkit ramah lingkungan ini telah terinterkoneksi dengan saluran transmisi 275 kilo volt (kV) ke Provinsi Sulawesi Selatan. Tak hanya itu, PLTA Poso juga telah tersambung dengan saluran transmisi 150 kV dari pembangkit Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Baca Juga: Agar Perjalanan Tetap Nyaman, Honda Sulteng Berbagi Tips Gaya Berkendara Happy

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam keterangan tertulisnya saat peresmian PLTA Poso menjelaskan pengoperasian EBT ini menjadi bukti kolaborasi strategis antara PLN dengan produsen listrik swasta (IPP) dalam akselerasi transisi energi di Tanah Air. “Dalam mengakselerasi pembangunan EBT, PLN tak bisa sendiri. Perlu adanya kolaborasi dan sinergi baik bersama BUMN maupun swasta,” ungkap Darmawan. 

PLTA Poso Energy merupakan anak perusahaan PT Kalla Group. PLTA ini dirintis sejak tahun 2003 dengan persiapan proyek di bawah koordinator PT Hadji Kalla dan persiapan studi kelayakan internal dibantu konsultan PT Bukaka Hydropower Engineering and consulting, anak perusahaan PT Bukaka Teknik Utama.

Pada 31 Mei 2005 PT Poso Energy sebagai pelaksana proyek PLTA Poso-2 resmi dibentuk. Tahun 2006 mengalami perubahan anggaran dasar dan jajaran direksi.

Tahun 2007 PLTA Poso menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dan 2012 resmi beroperasi dengan PLTA eksisting saat itu berkapasitas 3 x 65 MW. Tak sampai disitu, pada 2017, perusahaan menandatangani PJBL ekspansi dengan total kapasitas naik menjadi 515 MW, fungsinya beralih sebagai PLTA Peaker, yang memasok kebutuhan sistem saat beban puncak.

Namun, dibalik gemuruh turbin yang menjadi simbol akselerasi energi hijau ini, tantangan terus mengalir. Kabag Humas PT Poso Energy, Syafri kepada Radar Palu menyebut kondisi perubahan iklim yang menyebabkan ketidakpastian pasokan air menjadi musuh alami perusahaan.

Selain itu sedimentasi sedikit banyak mengurangi kapasitas sungai. Namun, karyawan terus menjaga lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan melakukan pemeliharaan sedimen juga melakukan pemeliharaan peralatan pembangkit dan jaringan agar tetap berfungsi dalam kondisi baik.

“Untuk menghadapi musim kemarau pada bulan September dan Oktober, kami lebih dulu sudah menabung air pada musim hujan sebelumnya untuk memenuhi produksi pada musim kemarau sebagai langkah antisipasi dan memastikan listrik tetap tersalurkan,” kata Syafri, Kamis (23/10/2025).

Salah seorang guru SD di Desa Panjoka, Pamona Utara, Poso mengatakan hadirnya PLTA Poso memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran di sekolah, mereka tak lagi meminjam genset saat akan melaksanakan kegiatan sekolah dengan biaya BBM cukup mahal. “Terimakasih PLTA Poso sudah membantu kami,” pungkasnya. (*)

Editor : Syahril.
#ebt #PLTA Poso #PT Poso Energy