RADAR PALU - Bupati Morowali Utara (Morut) Delis Julkarson Hehi mengingatkan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di daerahnya untuk tetap memegang nilai BerAKHLAK dan bekerja dengan syukur, saat menyerahkan 1.584 Surat Keputusan (SK) PPPK 2024 di pelataran Kantor Bupati, Selasa (07/10/2025).
Dalam sambutannya, Bupati Delis mengucapkan selamat kepada seluruh penerima SK. Prosesi ini menandai berakhirnya masa panjang penantian mereka untuk menjadi bagian dari Aparatur Sipil Negara (ASN).
Berdasarkan data Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM (BKPSDM) terdapat 4 orang yang masih menunggu penyelesaian administrasi, sementara selebihnya dinyatakan resmi diterima.
"Doa penantian panjang, pengorbanan air mata, dan lelah yang selama ini dialami akhirnya terbayar sudah," ujar Delis.
Bupati menegaskan bahwa pengangkatan ribuan tenaga honorer ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah daerah atas dedikasi dan loyalitas mereka.
Ia mengajak seluruh penerima SK untuk bersyukur atas kesempatan menjadi ASN PPPK, mengingat tidak semua daerah di Indonesia mampu melanjutkan proses seleksi karena kendala anggaran.
Menurut Delis, banyak daerah yang menunda atau membatalkan pengangkatan PPPK akibat keterbatasan fiskal. Namun, Morowali Utara tetap berkomitmen melanjutkan proses ini meski menghadapi efisiensi anggaran nasional hingga Rp 300 miliar.
"Tahun depan seluruh daerah akan terkena efisiensi besar-besaran. Tapi kita di Morowali Utara tetap melanjutkan pengangkatan ini karena bentuk penghargaan atas pengabdian tenaga honorer," jelasnya.
Delis juga menyebut bahwa Pemprov Sulawesi Tengah mengalami pemangkasan anggaran hingga Rp1,2 triliun, sedangkan Pemda DKI Jakarta mencapai Rp16 triliun.
Baca Juga: Ditabrak Siswa SMP, Pengacara Korban Nilai Pihak Sekolah Lalai Awasi Siswa
"Namun kami memilih tetap menghormati perjuangan mereka yang telah lama mengabdi," tegasnya.
Dalam pidatonya, Bupati berpesan agar ASN baru menjadikan core value "BerAKHLAK" sebagai pedoman hidup dan etos kerja sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa ASN sejati harus berorientasi pada pelayanan publik, memiliki akuntabilitas, serta kompeten dan adaptif terhadap perubahan zaman.
"Kalau kita singgah di rumah makan, kita berharap pelayannya ramah, cepat, dan bersih. Nah, masyarakat juga berharap hal yang sama dari kita sebagai pelayan publik," katanya disambut tawa dan tepuk tangan.
Bupati menegaskan, ASN adalah wajah pemerintah. Karena itu, setiap pegawai harus ramah, cepat, dan rapi dalam pelayanan.
Ia mencontohkan dirinya yang selalu menandatangani dokumen di mana pun berada demi mempercepat pelayanan publik.
"Kalau bisa cepat, kenapa harus dibuat lama?" tegas Delis.
Selain pelayanan, Bupati menyoroti nilai akuntabilitas sebagai dasar tanggung jawab moral dan hukum ASN. Ia menegaskan bahwa ASN harus mampu mempertanggungjawabkan pekerjaan dari segi proses dan hasil.
Bupati juga mengingatkan ASN agar tidak terjebak dalam zona nyaman. Ia menyebut, keberhasilan seseorang bergantung pada kemauannya untuk beradaptasi dan terus belajar.
"Jangan takut belajar hal baru. Musuh terbesar keberhasilan adalah zona nyaman," ujarnya.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Bupati mencontohkan dua perusahaan besar dunia -Nokia dan BlackBerry-- yang gagal beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
"Yang tidak bisa beradaptasi akan punah. Tapi yang mampu menyesuaikan diri akan terus maju," tegasnya.
Delis juga menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi. ASN diminta bekerja sebagai tim, bukan individu yang merasa paling mampu.
"Jangan jadi superman atau superwoman, tapi mari jadi super team. Kalau tim kuat, tantangan sebesar apa pun bisa diatasi," ujarnya.
Sebagai bukti kolaborasi nyata, Bupati menyinggung inovasi digital Pemkab Morowali Utara melalui aplikasi layanan publik "Dia Saja", hasil kerja sama Disdukcapil, Dinas Kominfo, dan BPJS Ketenagakerjaan. Aplikasi ini bahkan diakui lebih maju dibandingkan layanan serupa di ibu kota.
Dalam pesan moralnya, Bupati dengan tegas mengingatkan ASN agar tidak menjadikan jabatan sebagai sumber kekayaan.
"Hilangkan cita-citamu untuk jadi kaya ketika kau menjadi ASN," ujarnya.
Meski begitu, ia mendorong ASN untuk produktif secara kreatif di luar tugasnya. Ia mencontohkan menanam sawit sebagai investasi jangka panjang yang halal dan mandiri.
"Kalau mau kaya, tanam 10 pohon sawit tiap bulan. Dalam 10 tahun, hasilnya bisa Rp40–50 juta per bulan," katanya disambut tawa peserta.
Pesan ini menjadi refleksi agar ASN memahami esensi tugasnya sebagai pengabdian kepada negara dan masyarakat, bukan sarana mencari keuntungan pribadi.
Menutup sambutannya, Bupati mengingatkan ASN PPPK agar selalu bekerja dengan rasa syukur, keikhlasan, dan disiplin tinggi.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan melakukan penilaian kinerja rutin setiap tahun sebagai dasar perpanjangan kontrak.
"Kami punya kewenangan penuh untuk menilai dan memutuskan apakah kontrak diperpanjang atau tidak. Karena itu, keluarkan potensi terbaik yang Bapak Ibu miliki," pesannya.
Bupati juga mengungkapkan prediksinya bahwa di masa depan, setelah seluruh sistem ASN tertata rapi dan tenaga honorer dihapus, maka PPPK berpeluang dipermanenkan menjadi PNS.
"Itu prediksi saya, bukan janji. Tapi saya yakin, ketika semua sudah tertib, status PPPK dan PNS akan disamakan," ujarnya optimistis.
Bupati Morowali Utara menutup pidatonya dengan tiga pesan kunci bagi seluruh ASN yakni bersyukur atas amanah dan kesempatan mengabdi, menanamkan nilai-nilai "BerAKHLAK" dalam setiap tugas, serta menjalankan tanggung jawab dengan komitmen dan disiplin sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat.
"Percayalah, ketika kau memberikan yang terbaik dalam tugas dan tanggung jawabmu, maka kau juga akan meraih yang terbaik untuk masa depanmu. Selamat melayani dan mengabdi untuk Morowali Utara yang kita cintai," sebut Delis.(ham)
Editor : Muchsin Siradjudin