RADAR PALU - BMKG melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri (SPAGLLB) berperan penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana akibat perubahan iklim.
Peran ini mencakup pemantauan, analisis, dan penyebaran informasi terkait cuaca dan iklim ekstrem, gempa bumi, tsunami, serta gelombang tinggi, yang disampaikan melalui koordinasi dengan BNPB, BPBD, TNI/Polri, dan media.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala SPAGLLB Asep Firman Ilahi S Stat M Si saat berkesempatan hadir sebagai narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Asesmen Kesenjangan dan Kebutuhan Sistem Peringatan Dini Partisipatif Berbasis Lanskap” yang diadakan oleh Yayasan SHEEP di Universitas Al-Khairaat Palu, Kamis (26/6/2025).
Untuk mendukung segala pemantauan cuaca dan iklim ekstrem, menurut Asep, BMKG mengoperasikan sedikitnya 128 pos hujan manual, 14 Automatic Rain Gauge (ARG), 7 Automatic Weather Station (AWS), dan 4 Automatic Agroclimate Weather Station (AAWS) di Sulawesi Tengah.
BMKG juga menerapkan sistem peringatan dini berbasis prinsip 4D, yakni diterima, dipahami, dipercaya, dan ditindaklanjuti. Peringatan dini tersebut sebut Asep dapat diakses oleh masyarakat melalui aplikasi Multi Hazard Early Warning System (MHEWS).
Upaya ini bertujuan membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Baca Juga: Tabrak Pohon, Truk Kontainer Lagi-lagi Buat Macet Jalan di Kota Palu
“Hal ini penting mengingat banjir menjadi bencana paling dominan di Sulawesi Tengah, dengan wilayah rawan seperti Banggai dan Morowali Utara,” tutupnya.(acm)
Editor : Mugni Supardi