Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Haji Nanang Jadi Sorotan, Kisah Bertahan dari Keterbatasan

Annisa Wibdy • Minggu, 17 Mei 2026 | 15:52 WIB
Haji Nanang saat berbincang dalam podcast Radar Palu Jawa Pos tentang perjalanan politik dan kehidupan sederhananya.(Annisa Wibdy/Radar Palu)
Haji Nanang saat berbincang dalam podcast Radar Palu Jawa Pos tentang perjalanan politik dan kehidupan sederhananya.(Annisa Wibdy/Radar Palu)

 

RADAR PALU - Haji Nanang kembali jadi perbincangan setelah membagikan perjalanan hidup dan politiknya dalam podcast Radar Palu Jawa Pos. Anggota DPRD Kota Palu itu mengaku tak pernah membayangkan bisa bertahan hingga dua periode, bahkan kini disebut berpeluang menuju kontestasi Pilkada Palu. 

Di balik posisinya saat ini, Haji Nanang menyimpan cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari berkebun di Layana hingga memancing saat waktu luang, ia mengaku tetap menjaga kebiasaan lama yang sudah dijalani sejak kecil. 

“Kalau ada waktu luang biasa ke kebun. Ada kebun rica sedikit di Layana. Kadang juga memancing,” ujarnya, Jumat (15/5/2026). 

Baca Juga: Nama Haji Nanang Menguat di Muscab PKB Sulteng

Ia mengatakan aktivitas tersebut menjadi cara menjaga hubungan dengan masyarakat dan lingkungan tempat dirinya tumbuh. Kehidupan sederhana itu juga disebut membentuk cara pandangnya dalam berpolitik. 

Mengapa Haji Nanang Jadi Sorotan? 

Perjalanan politik Haji Nanang menarik perhatian karena dimulai dari kondisi yang penuh keterbatasan. Sebelum menjadi anggota DPRD Kota Palu, ia diketahui bekerja sebagai tenaga honorer di bidang penyuluhan pertanian. 

Keputusan maju sebagai calon legislatif pun bukan rencana besar yang disusun sejak awal. Menurutnya, dorongan datang dari teman-teman dan tokoh pemuda di wilayah Tondo. 

Baca Juga: SWx AI BRIN Dipakai Prediksi Cuaca Antariksa Lebih Cepat

“Waktu itu teman-teman rembuk bersama. Akhirnya disepakati saya yang maju,” katanya.B

Namun langkah tersebut tidak mudah. Persoalan biaya politik menjadi tantangan utama. Haji Nanang mengaku tidak memiliki modal besar seperti kandidat lain saat itu. 

Kampanye dilakukan dengan cara sederhana. Tim hanya mengandalkan bantuan sukarela dari relasi dan sahabat dekat. 

“Ada yang bantu spanduk, ada yang bantu stiker, ada senior Pramuka yang bantu,” ujarnya. 

Tidak ada mesin politik besar ataupun strategi mahal. Tim pemenangan bergerak secara manual dengan mengandalkan komunikasi dan jaringan sosial yang sudah lama terbangun di masyarakat. 

Baca Juga: Dua Tahun Memimpin, Anwar Hafid Pilih Fokus Urus Kemiskinan Sulteng Ketimbang Pilkada 2031

Bahkan, sebagian rekan kerjanya saat itu tidak mengetahui dirinya maju sebagai calon legislatif. 

“Siang tetap kerja seperti biasa. Malam baru komunikasi dengan tim,” katanya. 

Respons dan Dukungan dari Lingkungan Sekitar 

Haji Nanang menilai keberhasilannya bertahan di dunia politik tidak lepas dari hubungan sosial yang dibangun keluarganya sejak lama. Ia menyebut banyak warga mengenalnya melalui sosok orang tuanya. 

Menurutnya, nilai gotong royong dan silaturahmi menjadi modal terbesar dibanding kekuatan finansial. 

“Kalau kita mengandalkan finansial langsung gugur. Jadi modal kami komunikasi dan silaturahmi,” ujarnya. 

Pendekatan itu ternyata membuahkan hasil. Tim awalnya memperkirakan hanya memperoleh sekitar 750 suara. Namun hasil akhir mencapai sekitar 865 suara dan mengantarkannya terpilih sebagai anggota DPRD Kota Palu. 

Usai ditetapkan oleh KPU, Haji Nanang memilih mundur dari pekerjaannya sebagai tenaga honorer. Keputusan itu sempat membuat pimpinan tempat kerjanya terkejut karena hubungan mereka sudah seperti keluarga. 

Di tengah aktivitas politiknya, Haji Nanang mengaku tetap mempertahankan kebiasaan membantu warga. Mulai dari membantu saat pesta hingga datang ketika ada warga berduka. 

“Kalau ada pesta bantu pasang tenda. Kalau ada duka tengah malam juga datang. Itu bukan pencitraan,” katanya. 

Baca Juga: Koperasi Merah Putih Sulteng Dikebut, Ini Targetnya

Menurutnya, budaya gotong royong di Tondo harus terus dijaga di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk. 

Dalam podcast tersebut, pembahasan juga menyinggung peluang dirinya maju pada Pemilihan Wali Kota Palu mendatang. Haji Nanang mengaku tidak menutup kemungkinan itu, meski tetap mempertimbangkan kemampuan finansial. 

“Sebagai politisi pasti punya cita-cita seperti itu,” ujarnya. 

Meski begitu, ia menegaskan politik adalah arena yang dinamis dan semua kemungkinan masih bisa berubah. Karena itu, dirinya memilih tetap menjaga komunikasi dengan berbagai pihak sambil melihat perkembangan situasi politik ke depan. 

“Yang penting ikhtiar dan silaturahmi tetap dijaga,” tutupnya.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Haji Nanang #podcast Radar Palu #DPRD Palu #Politik Lokal #Pilkada Palu