RADAR PALU – Minat masyarakat menyekolahkan anak di Boarding School Al-Azhar Mandiri Palu terus meningkat. Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah berbasis asrama itu menerima sekitar 130 pendaftar, namun hanya 66 calon santri yang dinyatakan lolos setelah melalui proses seleksi.
Momentum penerimaan santri baru ditutup dengan kegiatan silaturahmi antara manajemen boarding school dan orang tua santri yang digelar di lingkungan sekolah, Minggu (12/7/2026).
Kepala Sekolah sekaligus Kepala Pondok Boarding School Al-Azhar Mandiri Palu, Agil Gifari A. Potabuga, Lc., mengatakan rangkaian kegiatan penerimaan santri berlangsung selama dua hari.
Baca Juga: Nobar Piala Dunia 2026 di Palu, Muhidin M. Said Sebut Prancis Paling Layak Angkat Trofi
"Sabtu kemarin agendanya check-in santri lama, hari ini check-in santri baru sekaligus silaturahmi dengan orang tua santri," ujarnya.
Agil menjelaskan, kuota penerimaan tahun ini sebenarnya dibuka untuk 72 orang. Namun, hasil seleksi menunjukkan hanya 66 peserta yang memenuhi standar kelulusan sehingga seluruhnya resmi diterima sebagai santri baru.
"Tahun ini kami membuka pendaftaran, yang mendaftar kurang lebih 130, dan kami hanya menerima kuotanya itu 72 tapi yang lolos tes hanya 66 orang, jadi yang kami terima 66 orang itu," katanya.
Baca Juga: Guru Pilar Masa Depan Bangsa, PT Sawit Jaya Abadi 2 Wujudkan Dukungan Melalui Honor Eksternal
Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun pertama berdirinya boarding school. Saat itu, jumlah pendaftar sekitar 70 orang dengan 50 santri yang diterima.
Sebanyak 66 santri baru tahun ini terdiri dari 33 santri putra dan 33 santri putri. Agil mengungkapkan, beberapa peserta bahkan mengikuti tes hingga tiga kali, namun tetap belum berhasil memenuhi standar yang ditetapkan sekolah.
Sementara itu, Direktur Yayasan Al-Azhar Mandiri Palu, Abdul Basit Arsyad, menegaskan konsep pendidikan di Boarding School Al-Azhar Mandiri tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembinaan karakter dan keagamaan.
"Di sini anak-anak belajar dunia akhirat. Kita perkuat sainsnya, kita perkuat sains teknologinya, kita perkuat juga agamanya," ujarnya.
Menurut Basit, penguatan pendidikan agama dilakukan melalui pembiasaan salat berjamaah lima waktu. Santri yang terlambat mengikuti salat akan mendapatkan pembinaan sebagai bagian dari pembentukan karakter disiplin.
Ia mengaku kedisiplinan santri mengalami peningkatan signifikan selama setahun terakhir.
"Alhamdulillah satu tahun ini terakhir saya salat di sini, tidak pernah ada lagi saya lihat yang lambat, luar biasa anak-anak santri," katanya.
Basit menambahkan, proses belajar mengajar didukung tenaga pendidik dari berbagai latar belakang, termasuk alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, lulusan Yaman, serta guru-guru SMA Al-Azhar Mandiri Palu. Kombinasi tersebut diharapkan mampu mencetak lulusan yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, sekaligus memiliki fondasi keagamaan yang kuat.***
Editor : Muhammad Awaludin