RADAR PALU — Trauma mendalam akibat gempa dahsyat 2018 silam ternyata masih membekas kuat di ingatan warga Palu. Hal ini membuat Syawaluddin Laduan (33), seorang security sekaligus cleaning service di SMK Bina Potensi (Bipo) Palu, nekat meloncat dari jendela lantai dua saat gempa mengguncang.
Peristiwa menegangkan itu terjadi saat Syawaluddin sedang tertidur lelap di area asrama sekolah lantai dua. Begitu merasakan goncangan hebat, kepanikan luar biasa langsung melanda dirinya hingga kehilangan arah untuk mencari pintu keluar.
Kepala Sekolah SMK Bipo Palu, Asrul Nagaula menceritakan bahwa dirinya sempat kaget melihat rekaman video dan foto kondisi sang penjaga sekolah pasca-kejadian. Punggung bawah stafnya tersebut tampak memerah akibat hantaman keras.
Baca Juga: Trauma Gempa Palu Bikin Siswa Pilih Mudik Duluan, Kepsek SMK Bina Potensi Buka Suara
"Cuma saya punya teman ini kemarin loncat dari lantai 2. Katanya kaki duluan, itu yang berbahaya," ungkap Asrul saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (18/6/2026).
Asrul menambahkan, saat kejadian sekolah tengah libur sehingga area sekolah cenderung sepi. Beruntung, meski mengalami cedera di bagian kaki dan punggung, kondisi satpam tersebut berangsur membaik dan kini dirawat secara mandiri di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Syawaluddin Laduan yang ditemui langsung di tempat yang sama menceritakan detik-detik mencekam saat dirinya memutuskan melompat dari ketinggian. Ia mengaku suasana saat gempa terjadi sangat menakutkan karena plafon bangunan sudah bergoyang ekstrem dan sekat kaca bergemuruh kencang.
Baca Juga: Trauma Gempa 2018 Kembali Menghantui, Siswa Sekolah Rakyat Palu Pilih Mengungsi di Tenda
"Kayak pasca trauma 2018 gempa itu, kan saya ada di sini juga. Jadi, trauma itu masih ada sama saya. Jadi pas saya dapat posisi begitu, flashback ke belakang. Jadi saya langsung panik, cari jendela, jatuh," tutur Syawaluddin dengan mata menerawang.
Bagi Syawaluddin, saat itu tidak ada waktu lagi untuk berpikir jernih. Pintu keluar yang berjarak sekitar tujuh langkah terasa sangat jauh digapai karena keseimbangannya goyah akibat guncangan vertikal dan horizontal.
"Menjatuhkan diri, saya tidak mau ambil pusing lagi. Mau patah kaki, mau apa yang penting, selamat. Dengan jendela sekecil itu, panik yang namanya panik, mau di apa tetap. Namanya nyali sudah seribu persen kalau sudah panik," tegas pria berusia 33 tahun ini.
Sebelum tubuhnya meluncur ke bawah, Syawaluddin sempat bergelantung sejenak di bingkai jendela untuk memosisikan kakinya agar mendarat terlebih dahulu. Namun karena refleks yang terlambat, tumit kaki menghantam siku anak tangga dengan keras hingga menyebabkan tulangnya bergeser dan bengkak. Tak hanya itu, dada dan punggungnya juga ikut baret akibat gesekan material batu alam bangunan.
Hingga dua hari pasca-gempa, Syawaluddin mengaku kondisi psikologisnya belum sepenuhnya pulih. Efek trauma masa lalu membuatnya selalu waspada, bahkan ia memilih untuk tidak lagi mengunci rapat akses pintu tempatnya menginap.
"Psikisnya belum. Masih ada sedikit goyangan sedikit. Langsung teringat flashback bagaimana keadaan itu hari. Cuman posisi sekarang saya sudah tidak berani tutup pintu saat lagi tidur. Saya sudah buka semua. Saya sudah lebarkan supaya posisi evakuasi diri saya sendiri," jelasnya.
Baca Juga: 100 Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu Dijemput Orang Tua Usai Gempa, Tinggal 85 di Asrama
Saking kuatnya trauma yang dirasakan, ia bahkan mengaku kesulitan membedakan antara getaran gempa nyata atau sekadar halusinasi akibat rasa takut yang tertinggal.
"Iya, saya rasa masih ada sedikit goyangan. Tadi malam juga masih goyangan. Masih gempa sedikit. Antara sulit untuk membedakan mana yang masih imajinasi, mana yang merasa gempa. Mana masih trauma, mana kenyataan. Saya sudah tidak pusing. Yang goyang sedikit langsung berdiri, standby. Kalau sudah ada getaran kaca, kabur," ujar Syawaluddin.
Mendengar kondisi Syawaluddin ini, Kepsek Asrul Nagaula sigap mengajak sang Penjaga Sekolah ke rumah sakit atau tukang urut. Namun, Syawaluddin lebih memilih pengobatan tradisional dengan pijat mandiri. Keduanya pun berharap usai kejadian ini, Palu kembali aman serta gempa susulan tidak terjadi.***
Editor : Muhammad Awaludin