Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

100 Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu Dijemput Orang Tua Usai Gempa, Tinggal 85 di Asrama

Ade Safitri • Rabu, 17 Juni 2026 | 15:06 WIB
KEPALA SEKOLAH: Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu, Anita, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (17/6/2026). Pihak sekolah mencatat sekitar 100 siswa telah dijemput orang tua pascagempa yang mengguncang Sulawesi Tengah. (Ade Safitri/Radar Palu.)
KEPALA SEKOLAH: Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu, Anita, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (17/6/2026). Pihak sekolah mencatat sekitar 100 siswa telah dijemput orang tua pascagempa yang mengguncang Sulawesi Tengah. (Ade Safitri/Radar Palu.)

RADAR PALU – Gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Tengah memicu kekhawatiran para orang tua siswa yang anaknya tinggal di asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu. Dalam dua hari terakhir, sekitar 100 siswa dijemput pulang oleh keluarga mereka karena khawatir terjadi gempa susulan.

Fenomena tersebut membuat jumlah penghuni asrama berkurang drastis. Dari total siswa yang sebelumnya menetap di lingkungan sekolah, kini hanya tersisa 85 orang yang masih bertahan.

Mayoritas siswa yang dijemput merupakan anak-anak yang berasal dari Kota Palu dan wilayah sekitar yang masih memungkinkan untuk kembali ke rumah bersama keluarganya. 

Baca Juga: Trauma Gempa 2018 Kembali Menghantui, Siswa Sekolah Rakyat Palu Pilih Mengungsi di Tenda

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 20 Palu, Anita, mengatakan gelombang penjemputan mulai terjadi sesaat setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026).

"Jadi setelah gempa itu, banyak orang tua datang ke sini meminta izin untuk menjemput anak-anak. Siswa yang tinggal di Kota Palu memang sebagian besar sudah dijemput orang tuanya," kata Anita saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, pihak sekolah memahami kecemasan yang dirasakan para wali murid. Karena itu, sekolah tidak membatasi maupun melarang siswa yang ingin pulang bersama keluarganya.

Anita menegaskan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan faktor psikologis anak-anak yang masih diliputi ketakutan akibat gempa dan rentetan gempa susulan. 

Baca Juga: Plafon Runtuh dan Dinding Retak, Siswa MAN 2 Palu Belajar Online Pasca-Gempa M 6,7

"Kami menghargai kekhawatiran orang tua. Bukan berarti anak-anak tidak aman di sini, tetapi mungkin mereka akan merasa lebih tenang jika bersama keluarganya. Kalau kami menahan mereka semua di sini, kemudian terjadi gempa lagi yang lebih besar, tentu akan lebih sulit mengontrol situasi," ujarnya.

Sementara itu, sebanyak 85 siswa yang masih berada di lingkungan sekolah untuk sementara tinggal di tenda darurat yang didirikan di halaman sekolah.

Mereka sebagian besar berasal dari daerah yang cukup jauh dari Kota Palu, seperti Kabupaten Banggai Kepulauan, Buol, Donggala, wilayah Kulawi, hingga Napu.

"Kebanyakan yang belum pulang itu karena rumah mereka jauh. Ada juga yang berasal dari daerah yang terdampak gempa sehingga belum memungkinkan untuk dijemput keluarganya," jelas Anita.

Ia mengungkapkan pihak sekolah telah memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menghubungi keluarga masing-masing. Namun, tidak semua siswa berhasil berkomunikasi dengan orang tua mereka karena berbagai kendala.

Di tengah situasi tersebut, pihak sekolah tetap berupaya memastikan kebutuhan para siswa yang masih bertahan di asrama terpenuhi. Aktivitas belajar sementara dialihkan ke ruang terbuka untuk memberikan rasa aman dan mengurangi kecemasan akibat gempa susulan.

Wali Asuh Siswa, Yacob, mengatakan momen libur semester yang akan dimulai pada 20 Juni mendatang diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi para siswa untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus memulihkan kondisi psikologis mereka. 

Baca Juga: Pasca Gempa Palu, Siswa Belajar Daring dari Rumah, Guru Tetap Masuk Sekolah

"Tanggal 20 nanti mereka mulai libur sekitar dua minggu. Mudah-mudahan itu bisa menjadi waktu bagi anak-anak untuk bersama keluarga dan mengurangi trauma yang mereka rasakan," katanya.

Yacob menambahkan, pihak sekolah juga masih menunggu hasil pemeriksaan dari tim teknis terkait kondisi bangunan sekolah dan asrama pascagempa.

Apabila hasil penilaian menunjukkan bangunan dinyatakan aman dan layak digunakan, para siswa diharapkan dapat kembali menempati asrama dan menjalani aktivitas belajar seperti biasa setelah masa liburan berakhir.***

Editor : Muhammad Awaludin
#korban gempa Sulteng #Eksodus Siswa Palu #Orang Tua Jemput Anak #Asrama Sekolah Rakyat Palu #Libur Sekolah Darurat