RADAR PALU – Guncangan gempa berkekuatan magnitudo 6,7 yang melanda Kota Palu dan sekitarnya pada Selasa (16/6) kemarin menyisakan kerusakan fisik di sejumlah fasilitas pendidikan. Salah satu yang terdampak cukup parah adalah gedung MAN 2 Kota Palu, di mana sejumlah plafon runtuh hingga dinding bangunan dilaporkan retak-retak.
Kondisi ini memicu kepanikan luar biasa di kalangan orang tua siswa. Merespons situasi psikologis dan kelayakan bangunan yang belum stabil, pihak sekolah bergerak cepat mengambil kebijakan darurat dengan meniadakan aktivitas fisik di madrasah per hari ini, Rabu (17/6/2026).
"Yang terjadi kemarin hari Selasa, 16 Juni 2022, maka setelah kami memperhatikan kondisi, kepanikan orang tua, kekhawatiran orang tua, maka kami kemarin langsung rapat dengan wakil-wakil kepala sekolah. Maka kami memutuskan bahwa hari ini, hari Rabu, siswa tidak ke sekolah, tetapi pembimbingan dilakukan secara online,” ungkap ungkap Kepala Sekolah MAN 2 Kota Palu, Dr. H. Taufik, S.Ag. M.Ag saat dikonfirmasi via WhatsApp, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Pasca Gempa Palu, Siswa Belajar Daring dari Rumah, Guru Tetap Masuk Sekolah
“Yang ikut Olimpiade dibimbing secara online. Kemudian yang lain semua berada di rumah. Jadi, siswa tidak ada yang beraktivitas di sekolah hari ini. Jadi, siswa kami tidak ada kegiatan apa pun dilaksanakan di sekolah," lanjutnya.
Keputusan merumahkan siswa dinilai sangat tepat mengingat ruang kerja kepala sekolah dan wakil kepala sekolah berada di lantai dua yang rawan guncangan jika terjadi gempa susulan. Taufik membeberkan secara rinci kerusakan properti sekolah yang cukup mengkhawatirkan akibat gempa tektonik tersebut.
"Pertama, kerusakan plafon. Peafon kantor, plafon kelas ada yang jatuh. Kemudian ada dinding yang retak. Kemudian ada lantai tegel yang turun, turun timbunannya. Jadi, itu kerusakan-kerusakan. Pintu kantor rusak, yang sempat tidak bisa dibuka, terjepit," bebernya gamblang.
Beruntung, saat gempa hebat itu mengguncang, wilayah Palu sedang menikmati hari libur nasional memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Alhasil, area madrasah kosong dari aktivitas, sehingga tidak ada korban luka maupun korban jiwa.
Baca Juga: Gempa Sigi: 550 KK Terdampak, Air Bersih dan Tenda Jadi Kebutuhan Mendesak Warga Nokilalaki
"Alhamdulillah suasana libur, libur kemarin. Tanggal merah, satu Muharram. Jadi semua tidak ada yang di sekolah," kenang Taufik bersyukur.
Pintu kantor yang sempat macet total akibat pergeseran struktur dinding pun kini sudah berhasil direnovasi. "Sudah, sudah bisa diperbaiki. Awalnya tidak bisa dibuka, terjepit, sekarang sudah bisa. Hanya satu pintu terjepit. Pengaruh dinding yang retak, geser sedikit pintunya, tapi sudah bisa," tambahnya.
Meski siswa dilarang ke sekolah, beban berat justru ada di pundak para guru dan tenaga operator. Pasalnya, jadwal pembagian rapor semester sudah di depan mata, yakni antara Kamis esok dan Jumat lusa. Beberapa guru terpaksa tetap datang ke sekolah demi merampungkan tugas administrasi.
"Kecuali guru, kalau guru karena masih mengelola nilai, ada yang datang, ada yang tidak. Tidak ada imbauan untuk harus datang, tidak ada. Cuma ada juga yang datang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, karena penerimaan rapor akan dilaksanakan hari Jumat, hari Kamis dan Jumat besok. Jadi, ada yang menyelesaikan tugas-tugas rapor. Satpam tetap ada, menjaga. Tenaga operator, bagi yang mau kerja di rumah, silakan. Tapi, ada juga yang harus mengambil ada keperluan di sekolah, tapi kami tetap berhati-hati," jelas Taufik.
Masalah lain yang membuat pihak madrasah pening adalah pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang dijadwalkan mulai bergulir besok, Kamis (18/6/2026). Pihak sekolah mengaku dilema karena persiapan anak didiknya sudah dilakukan berbulan-bulan, tetapi kondisi di Palu tidak mendukung akibat rentetan gempa susulan yang masih terasa.
Baca Juga: Gempa Berpusat di Sigi, Relawan PKS Langsung Terjun Asessment dan Salurkan Bantuan
"Hari ini kami melakukan zoom saja untuk persiapan kegiatan OSN. OSN mulai besok. Makanya kami menentukan sikap dulu ini, Bu. OSN ini Bu, karena ini dilaksanakan secara nasional. Sementara ini bukan bencana yang terjadi secara nasional. Sampai kami tidak ikut OSN, rugilah persiapan selama berbulan-bulan anak-anak dibimbel ini. Kami menunggu juga ini, menunggu dari dinas pendidikan," keluhnya.
Sampai saat ini, MAN 2 Kota Palu terus memantau situasi terkini serta imbauan terbaru dari Kementerian Agama (Kemenag) untuk menentukan kapan siswa bisa kembali belajar tatap muka.
"Kami ini melihat situasi, apabila situasi kondusif dan memungkinkan, maka kita cepat untuk mengambil sikap untuk kondusif seperti biasa. Iya, jadi kita untuk melihat mengambil sikap yang tidak beresiko," pungkas Taufik menutup pembicaraan.***
Editor : Muhammad Awaludin