RADAR PALU – Bagi banyak anak di wilayah terpencil Sulawesi Tengah, akses terhadap pendidikan berkualitas masih menjadi tantangan. Jarak yang jauh, keterbatasan ekonomi keluarga, hingga minimnya fasilitas pendidikan kerap menjadi penghalang untuk meraih pendidikan yang layak.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Tadulako Nambaso 20 Palu mulai menghadirkan harapan baru. Program yang merupakan bagian dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto itu dirancang untuk memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga miskin dan sangat miskin di berbagai daerah Sulawesi Tengah.
Kepala SRT Tadulako Nambaso 20 Palu, Anita, mengatakan program Sekolah Rakyat menyasar kelompok masyarakat yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 atau keluarga miskin dan sangat miskin.
Baca Juga: Gubernur Anwar Hafid Gandeng Radar Palu Kawal Program Berani Cerdas hingga Pelosok Sulteng
"Target utama program ini adalah siswa dari kategori desil 1 dan desil 2 atau kategori miskin dan sangat miskin, yang sesuai dengan arahan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi pelaksanaan pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem," kata Anita dalam podcast kolaborasi Kantor Berita ANTARA Biro Sulawesi Tengah dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Sulawesi Tengah.
Menjangkau Anak-anak dari Daerah Terjauh
Sejak mulai beroperasi pada Agustus 2025, Sekolah Rakyat di Palu telah menerima peserta didik dari berbagai wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
Baca Juga: Gubernur Anwar Hafid Targetkan 3.000 Mahasiswa Morowali Utara Terima Beasiswa Berani Cerdas
Tidak hanya berasal dari Kota Palu dan daerah sekitarnya, siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut juga datang dari Kabupaten Banggai Laut, Kabupaten Buol yang berbatasan dengan Provinsi Gorontalo, wilayah Napu di Kabupaten Poso, hingga Kecamatan Kulawi di Kabupaten Sigi.
Keberagaman asal peserta didik tersebut menunjukkan bahwa program ini mampu menjangkau anak-anak dari wilayah pedalaman maupun kepulauan yang sebelumnya memiliki keterbatasan untuk mengakses pendidikan berkualitas.
"Saat ini terdapat 186 peserta didik, untuk tingkatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA)," ungkap Anita.
Saat ini, kegiatan belajar mengajar berlangsung di delapan ruang kelas yang terdiri dari tiga ruang SMP dan lima ruang SMA. Proses pendidikan didukung oleh 15 tenaga pengajar yang bertugas mendampingi para siswa.
Seluruh Kebutuhan Ditanggung Pemerintah
Salah satu keunggulan Sekolah Rakyat adalah dukungan yang diberikan secara menyeluruh kepada peserta didik. Pemerintah tidak hanya menyediakan pendidikan gratis, tetapi juga memenuhi berbagai kebutuhan dasar siswa selama menempuh pendidikan.
Sekolah ini menerapkan sistem asrama sehingga peserta didik dari daerah yang jauh dapat tinggal dan belajar dalam lingkungan yang terintegrasi.
Baca Juga: Anwar Hafid Buka Akses Pendidikan Global untuk Generasi Sulteng di Hainan Tiongkok
"Semua kebutuhan siswa ditanggung oleh pemerintah, mulai dari pendidikan, kesehatan, pangan, hingga kebutuhan pribadi," jelas Anita.
Dengan sistem tersebut, siswa dari keluarga kurang mampu dapat lebih fokus belajar tanpa harus dibebani persoalan biaya pendidikan maupun kebutuhan sehari-hari.
Menjadi Bagian dari Upaya Pengentasan Kemiskinan
Sekolah Rakyat tidak hanya bertujuan meningkatkan akses pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan.
Untuk menjaring peserta didik, sekolah bekerja sama dengan Dinas Sosial melalui data Program Keluarga Harapan (PKH) yang tersedia di masing-masing daerah. Mekanisme ini memungkinkan pemerintah menjangkau secara aktif anak-anak yang berasal dari keluarga penerima bantuan sosial.
Berbeda dengan sistem penerimaan siswa pada umumnya, pendekatan tersebut memastikan program benar-benar menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Anita menegaskan bahwa seluruh unsur sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan para siswa mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang optimal.
"Anak-anak kami adalah titipan orang tua sekaligus titipan negara. Oleh karena itu, seluruh tim dari guru, wali asuh, dan wali asrama harus memastikan mereka mendapatkan layanan pendidikan yang optimal," tegasnya.
Kehadiran Sekolah Rakyat di Palu menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi dan hambatan geografis tidak boleh menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar. Bagi puluhan siswa dari berbagai pelosok Sulawesi Tengah, program ini kini menjadi pintu menuju masa depan yang lebih baik melalui pendidikan yang layak dan berkualitas.***
Editor : Muhammad Awaludin