RADAR PALU — Siswa Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam SMKN 6 Palu berhasil melakukan restorasi kursi sekolah dengan memanfaatkan material bekas dan anggaran terbatas. Dalam proyek tersebut, sebanyak 64 kursi rusak diperbaiki hanya dengan dana sekitar Rp3 juta dan pengerjaan selama 10 hari.
Plt Kepala SMKN 6 Palu, Asri Djagorante, mengatakan proyek itu menjadi bagian dari pembelajaran praktik yang diarahkan menghasilkan produk bernilai guna. Ide tersebut muncul saat sekolah menghadapi keterbatasan anggaran pengadaan sarana belajar.
“Sehingga saya sekarang mengarahkan teknik pengelasan silahkan buat yang mempunyai nilai jual,” kata Asri, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga: LDK SMKN 6 Palu Jadi Syarat Wajib Masuk OSIS dan PKS
Menurutnya, siswa teknik pengelasan diminta mencari solusi atas kebutuhan kursi dan meja kelas yang rusak. Proses perbaikan dilakukan dengan memanfaatkan rangka besi, kayu bekas, dan sisa material praktik di lingkungan sekolah.
Puluhan kursi yang sebelumnya rusak parah kemudian diperkuat menggunakan rangka besi hasil pengelasan siswa bersama guru produktif.
Teknik Pengelasan SMKN 6 Palu Perbaiki 64 Kursi
Asri menjelaskan proyek restorasi kursi sekolah tersebut dikerjakan saat jeda libur puasa. Siswa kelas 11 dan alumni kelas 12 terlibat langsung bersama guru produktif untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat.
Baca Juga: Prestasi SMKN 6 Palu Moncer, Raih Medali hingga Nasional
“Mereka buat kursi-kursi yang sudah rusak diperbaiki dengan rangka dari besi dan mereka las. Itu lebih kuat. Dan Alhamdulillah 64 kursi itu bisa dihasilkan,” ujarnya.
Ia menyebut kolaborasi siswa dan guru menjadi faktor utama proyek dapat selesai dalam waktu sekitar 10 hari. Selain memperbaiki fasilitas sekolah, kegiatan itu juga menjadi sarana pembelajaran praktik industri bagi siswa.
“Saat jeda libur itu, anak-anak kita yang bersama dengan guru matematika produktifnya, itu bekerja. Alhamdulillah. Bisa selesai kurang lebih hanya 10 hari,” tambahnya.
Inovasi Barang Bekas Jadi Solusi Keterbatasan Anggaran
Menurut Asri, biaya proyek restorasi tersebut jauh lebih hemat dibanding membeli kursi baru dalam jumlah besar. Sekolah hanya mengeluarkan sekitar Rp3 juta untuk menghasilkan puluhan kursi siap pakai.
“Kalau tidak salah itu dana yang kita gunakan hanya Rp3 juta. Menghasilkan itu,” jelasnya.
Baca Juga: SMKN 6 Palu Putar Strategi Hadapi Keterbatasan Dana
Keberhasilan proyek itu membuat pihak sekolah mulai mendorong pemanfaatan hasil karya siswa untuk kebutuhan internal sekolah. Asri bahkan menginstruksikan agar pengadaan kursi belajar selanjutnya memprioritaskan produk buatan jurusan teknik pengelasan.
Langkah tersebut dinilai dapat menjadi solusi efisiensi anggaran sekaligus meningkatkan keterampilan praktik siswa di bidang pengelasan dan fabrikasi logam.***
Editor : Muhammad Awaludin