RADAR PALU – Daftar SMP terbaik Sulteng 2026 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendadak menjadi sorotan publik. SMP Negeri 1 Palu keluar sebagai sekolah dengan nilai tertinggi di Sulawesi Tengah, namun hasil tersebut justru memicu polemik di media sosial.
Dalam daftar SMP terbaik Sulteng 2026 itu, SMPN 1 Palu memimpin dengan skor 90,50 dan predikat akademik unggul. Posisi kedua ditempati SMPN 2 Palu dengan nilai 90,10, sementara SMPN 3 Palu berada di urutan ketiga dengan skor 89,70 sebagai sekolah favorit. Di sisi lain, SMP Al-Azhar Palu yang dikenal aktif menorehkan prestasi nasional hingga internasional berada di posisi keempat dengan nilai 89,20.
Euforia daftar sekolah terbaik itu awalnya dibagikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palu, Hardi, melalui akun media sosial pribadinya. Namun unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar netizen yang mempertanyakan hasil penilaian.
Baca Juga: FGD LS-ADI Bahas Pendidikan Berkarakter untuk Hadapi Tantangan Lingkungan
Akun Nde An Andre menyoroti posisi SMP Al-Azhar Palu yang selama ini dikenal aktif mengikuti kompetisi nasional maupun internasional.
“Tapi, aneh juga datanya yang sering ikut kompetisi nasional maupun internasional SMP Al-Azhar,” tulisnya.
Komentar serupa juga disampaikan akun Shepia Calista.
Baca Juga: Konser Nadhif Basalamah di Palu Digelar 17 Mei 2026, Semusim Fest Target 3.000 Penonton
“Bener. Di mana-mana itu yang ikut kompetisi SMP Al-Azhar nasional bahkan internasional, kenapa datanya ini?” tulisnya.
Meski menuai perdebatan, tidak sedikit warga yang justru menyambut positif daftar tersebut dan mulai menanyakan jadwal penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah favorit Kota Palu.
Menanggapi polemik yang berkembang, Hardi akhirnya buka suara saat ditemui di sela-sela Workshop Journalist Generasi Z yang digelar Radar Palu, Sabtu (9/5/2026).
Menurut Hardi, indikator penilaian Kemendikdasmen jauh lebih kompleks dibanding sekadar jumlah trofi atau prestasi lomba.
"Saya kira ini indikator kan banyak sebenarnya. Tapi, kalau kita mengacu pada indikator rapor pendidikan itu banyak indikator yang dinilai," ujar Hardi kepada wartawan.
Ia menegaskan bahwa prestasi akademik seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN) hanya menjadi salah satu komponen kecil dalam penilaian sekolah.
Baca Juga: Tiga Putri Sigi Lolos DA 8 Nasional, Bupati Beri Dukungan Langsung dan Ajak Warga Bersatu
"Bukan cuma satu segi. Jadi bukan hanya mewakili OSN itu sudah satu itu. Bukan. Banyak indikator-indikator lain yang harus menilai satuan pendidikan itu, bahwa sekolah ini berprestasi," tegasnya.
Hardi menjelaskan, penilaian tersebut bersumber dari hasil Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) 2025 yang mengukur capaian literasi, numerasi, kualitas pembelajaran, hingga lingkungan belajar sekolah.
Selain itu, pemerintah juga menggunakan Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIM Talenta) yang mengkurasi berbagai prestasi siswa dan sekolah secara otomatis.
"Kalau misalnya prestasi itu yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, maka itu secara sendirinya terkurasi dan terbaca di SIM Talenta. Kemudian ada prestasi yang dikurasi dari Kemenag atau Kemsos," jelasnya.
Menurut Hardi, ada banyak variabel lain yang turut menjadi penilaian, mulai dari penguatan karakter siswa, inklusivitas pendidikan, hingga keamanan lingkungan sekolah.
Meski Kota Palu mendominasi daftar sekolah negeri terbaik di Sulawesi Tengah, Hardi menegaskan pihaknya tidak ingin cepat puas.
Ia mengaku Pemerintah Kota Palu masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk meningkatkan kualitas ratusan sekolah lainnya agar lebih merata.
Saat ini, Disdikbud Kota Palu terus melakukan pemetaan terhadap sekolah-sekolah dengan rapor pendidikan rendah. Jika ditemukan kelemahan, tim akan langsung melakukan intervensi melalui peningkatan kompetensi guru dan penguatan Komunitas Belajar seperti MGMP dan KKG.
"Artinya kita intervensi sekolah terendah itu sehingga apa yang rendah dan kita berikan perlakuan pada sekolah itu. Sehingga nanti akan mengikuti sekolah yang sudah bagus," tutup Hardi optimistis.***
Editor : Muhammad Awaludin