RADAR PALU – Berdiri di tengah kawasan hunian tetap (Huntap) dengan keterbatasan fasilitas dan kondisi ekonomi orang tua siswa yang mayoritas pas-pasan, SDN 2 Talise memilih menolak menyerah pada keadaan.
Sekolah kecil itu justru perlahan membangun kepercayaan diri untuk bersaing dengan sekolah-sekolah besar di Palu lewat jalur prestasi dan penguatan mental siswa.
Kepala SDN 2 Talise, Rosni mengatakan tantangan terbesar sekolah bukan hanya soal keterbatasan dana, tetapi bagaimana membangun mental anak-anak agar percaya diri dan tidak merasa rendah dibanding sekolah lain.
Baca Juga: BRI Morowali Meriahkan Hari Pendidikan Nasional 2026 Lewat Jalan Santai dan Senam Bersama
“Walaupun disampaikan oleh Pak Kadis dengan keadaan sekolah kami ini kan sekolah kecil, tentunya dananya yang sedikit. Tetapi berusahalah kita, yang penting bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain,” ujar Rosni saat ditemui Radar Palu, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga siswa di kawasan Huntap cukup memengaruhi perkembangan psikologis anak. Banyak siswa yang cenderung minder dan takut tampil di depan umum.
Karena itu, pihak sekolah memilih fokus membangun keberanian siswa melalui berbagai kegiatan lomba dan penguatan literasi.
Baca Juga: Jaksa Agung Tekankan Penguatan Penegakan Hukum di Sulteng, Program MBG Ikut Diawasi
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi SDN 2 Talise. Untuk pertama kalinya sekolah tersebut mulai menunjukkan hasil dalam ajang FLS2N 2026 tingkat Kota Palu.
Meski belum meraih juara utama, sekolah ini berhasil menyabet Juara Harapan 2 cabang Menulis Cerita serta masuk 10 besar kategori Nyanyi Solo.
Bagi Rosni, capaian itu bukan sekadar trofi lomba, tetapi kemenangan besar bagi mental siswa yang sebelumnya kurang percaya diri.
“Di sekolah kami ini rata-rata anak-anak itu dari segi mentalnya yang agak kurang,” ungkapnya.
Untuk mengubah kondisi tersebut, sekolah rutin mengadakan lomba antarkelas setiap peringatan 17 Agustus maupun hari besar keagamaan.
Strategi itu dilakukan agar siswa terbiasa tampil di depan umum sekaligus melatih keberanian mereka sejak dini.
“Kami biasakan mereka tampil. Walaupun sederhana, yang penting anak-anak berani dulu,” katanya.
Tak hanya fokus pada prestasi akademik dan seni, SDN 2 Talise juga dikenal terbuka terhadap anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.
Rosni menegaskan sekolah berupaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman bagi seluruh siswa tanpa membedakan kondisi mereka.
Pendekatan yang dilakukan bukan hanya lewat pembelajaran di kelas, tetapi juga perhatian terhadap minat dan karakter masing-masing anak.
Ada siswa berkebutuhan khusus yang difasilitasi buku gambar karena memiliki minat besar di bidang menggambar. Sekolah juga aktif memberikan edukasi anti-perundungan kepada seluruh siswa.
“Supaya anak-anak yang berkebutuhan khusus ini tidak merasa dibully. Alhamdulillah tidak ada terjadi perundungan,” tuturnya.
Di balik keterbatasan fasilitas dan anggaran, SDN 2 Talise perlahan membuktikan bahwa sekolah kecil di kawasan Huntap pun mampu tumbuh dan bersaing.
Bagi Rosni, prestasi terbesar bukan hanya soal piala, melainkan ketika anak-anak mulai percaya bahwa mereka juga punya masa depan yang sama dengan siswa di sekolah mana pun.***
Editor : Muhammad Awaludin