Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Kelas Terbatas, Peminat Membludak: Strategi Kepala Sekolah Ini Jadi Kunci

Ade Safitri • Rabu, 29 April 2026 | 10:27 WIB
Kepala SD Inpres 1 Tanamodindi, Elfian ungkap sekolahnya yang diserbu pendaftar jelang SPMB 2026, kuota hanya 56 siswa. (Ade Safitri/Radar Palu)
Kepala SD Inpres 1 Tanamodindi, Elfian ungkap sekolahnya yang diserbu pendaftar jelang SPMB 2026, kuota hanya 56 siswa. (Ade Safitri/Radar Palu)

RADAR PALU – Menjelang pembukaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), SD Inpres 1 Tanamodindi, Palu mendadak diserbu pendaftar. Kuota yang terbatas membuat pihak sekolah tak punya banyak pilihan selain menolak sebagian besar calon siswa, meski minat masyarakat terus melonjak.

Kepala sekolah Elfian mengungkapkan, daya tampung tahun ini hanya dua rombongan belajar dengan total 56 siswa. Angka itu jauh dari jumlah pendaftar yang diprediksi kembali membludak, seperti tahun sebelumnya.

“Pendaftar bisa lebih dari 100 orang. Tapi kami harus disiplin, satu kelas maksimal 28 siswa supaya sistem Dapodik tetap aman,” ujar Elfian, Selasa (29/4/2026). 

Baca Juga: Belajar Tanpa “Sekat” di SD Negeri 5 Palu, Anak-Anak Disabilitas Tumbuh Setara, Tak Ada Tes Calistung untuk Mendaftar

Lonjakan minat ini bukan tanpa sebab. Banyak orang tua tertarik dengan pendekatan pendidikan yang diterapkan sekolah tersebut. Elfian menegaskan, pihaknya tidak menerapkan tes baca, tulis, dan hitung (calistung) dalam proses penerimaan siswa baru.

“Tidak ada tes-tesan. Semua anak punya hak yang sama untuk belajar. Kami prioritaskan jalur domisili, yang memang tinggal di sekitar sekolah,” jelasnya.

Pendekatan ini dinilai lebih ramah anak, sekaligus menghindari tekanan psikologis sejak dini. Bahkan, sekolah juga dikenal terbuka bagi anak berkebutuhan khusus. 

Baca Juga: SDN 5 Palu Hapus Tes Calistung, Seleksi Murid Baru Kini Fokus Usia

Menurut Elfian, anak inklusif justru membutuhkan perhatian dan pendekatan emosional yang lebih dalam. Ia mencontohkan pengalaman menangani siswa yang hanya mau belajar jika merasa dekat secara emosional dengan gurunya.

“Anak-anak punya porsi masing-masing. Ada yang kemampuan rendah, sedang, hingga tinggi. Kita tidak bisa memaksa, tapi harus memahami psikologi mereka,” tuturnya.

Nilai “budaya positif” yang diterapkan juga menjadi fondasi utama. Guru didorong untuk hadir tepat waktu dan memperlakukan siswa layaknya anak sendiri. Sekolah, kata dia, harus menjadi ruang yang aman dan nyaman.

Dengan persiapan dua ruang kelas yang sudah matang, SD Inpres 1 Tanamodindi, Palu kini bersiap menyambut siswa baru. Meski tak semua pendaftar bisa diterima, sekolah ini tetap menjadi salah satu tujuan favorit orang tua di kawasan tersebut.***

Editor : Muhammad Awaludin
#SD Inpres Tanamodindi #Tanpa Tes Calistung #SPMB 2026 #Sekolah Inklusif #Pendidikan Palu