Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Sekolah Swasta Jadi Benteng Terakhir Siswa Tertinggal

Ade Safitri • Rabu, 15 April 2026 | 20:46 WIB
Suasana lingkungan SMAS GKST Imanuel Palu (Ade Safitri/Radar Palu)
Suasana lingkungan SMAS GKST Imanuel Palu (Ade Safitri/Radar Palu)

RADAR PALU - SMAS GKST Imanuel Palu mengambil peran yang jarang disorot: menjadi “benteng terakhir” bagi siswa yang tertinggal, termasuk yang belum lancar membaca saat sudah duduk di bangku SMA.

Realita ini terjadi setiap tahun ajaran baru. Kepala sekolah Rita Christi L. mengungkap, masih ada siswa kelas 10 yang belum mampu membedakan huruf dasar saat pertama masuk sekolah.

“Masih ada yang bingung huruf D dan B. Itu kenyataan yang kami hadapi tiap tahun,” kata Rita, Rabu (15/4/2026). 

Baca Juga: SMAS Imanuel Palu Ubah Mindset ASN, Siswa Wajib Jualan

Menampung yang Tersisih

Berbeda dengan sekolah unggulan yang menyeleksi ketat, SMAS GKST Imanuel Palu justru membuka pintu bagi siswa dengan kemampuan akademik rendah.

Sebagian besar dari mereka merupakan siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri atau unggulan. Kondisi ini membuat sekolah harus bekerja dua kali lebih keras sejak awal. 

Baca Juga: Skor TKA SMP 2026 Diprediksi Serendah SMA, Alarm Literasi

Namun bagi Rita, pilihan itu bukan beban, melainkan tanggung jawab sosial.

“Kalau bukan kami yang terima, mereka mau ke mana lagi?” ujarnya.

Beban Ganda Guru

Konsekuensinya, guru tidak hanya mengajar materi SMA, tetapi juga mengulang pelajaran dasar seperti membaca. Proses ini menuntut kesabaran ekstra dan metode pembelajaran yang berbeda.

Guru harus membagi fokus antara mengejar kurikulum dan membangun kemampuan literasi dari nol. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas pembelajaran.

Meski demikian, sekolah tetap menargetkan perubahan nyata pada siswa, bukan sekadar kelulusan administratif.

Lebih dari Sekadar Sekolah

Peran sekolah juga meluas hingga ke ranah kemanusiaan. Rita menceritakan momen ketika seorang siswa harus menjalani operasi darurat, namun orang tuanya tidak mampu hadir karena kendala biaya.

Sekolah akhirnya turun tangan, menanggung kebutuhan agar siswa bisa segera mendapat penanganan medis. 

Baca Juga: Dorong Smart Education, Lebih Dari 40 Sekolah di Palu Sudah Terapkan Pembelajaran Digital

“Kalau kita sudah berusaha maksimal, pasti ada jalan. Yang penting anak itu tertolong,” jelasnya. 

Bagi SMAS GKST Imanuel Palu, pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang memastikan tidak ada anak yang tertinggal sendirian.

Ke depan, sekolah ini berkomitmen tetap menjadi ruang aman bagi siswa dengan berbagai latar belakang, sambil memperkuat pembinaan dasar agar mereka bisa mengejar ketertinggalan dan bersaing di masa depan.***

Editor : Muhammad Awaludin
#SMAS Imanuel Palu #literasi SMA #kisah pendidikan #sekolah swasta Palu #Pendidikan inklusif