RADAR PALU – SD Negeri 22 Palu menghadirkan inovasi dalam kegiatan Pesantren Kilat dengan memadukan pembelajaran agama, praktik ibadah, serta evaluasi berbasis teknologi digital. Program tersebut diikuti sebanyak 336 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
Kepala SDN 22 Palu, Nasrin M. Otolua, mengatakan kegiatan Pesantren Kilat dirancang tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi harus memberikan dampak nyata bagi peningkatan pemahaman agama siswa.
“Jangan sampai Pesantren Kilat ini hanya seremonial. Harus ada tujuan yang jelas, yaitu menambah pemahaman pelajaran agama yang juga dipelajari setiap hari di kelas,” kata Nasrin, Jumat (6/3/2026).
Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Siswa kelas 4 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan yang dipusatkan di masjid sekolah, sedangkan siswa kelas 1 hingga kelas 3 mengikuti kegiatan di ruang kelas.
Untuk menunjang pembelajaran, pihak sekolah memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID). Melalui teknologi tersebut, siswa diperlihatkan materi visual seperti tata cara berwudu yang benar sebelum kemudian mempraktikkannya secara langsung.
“Di hari pertama anak-anak melihat materi di PID tentang tata cara wudu yang benar, kemudian di hari berikutnya mereka langsung mempraktikkannya,” jelas Nasrin.
Metode evaluasi yang digunakan juga berbeda dari biasanya. Sekolah memanfaatkan platform pembelajaran digital sehingga siswa dapat mengikuti kuis dan asesmen secara interaktif.
Menurut Nasrin, pendekatan tersebut bertujuan membuat proses pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan bagi siswa.
Selain kegiatan pembelajaran, rangkaian Pesantren Kilat juga diisi dengan kegiatan buka puasa bersama yang akan digelar pada penutupan kegiatan. Acara tersebut turut diramaikan dengan dongeng bernuansa Islami menggunakan media boneka untuk menarik perhatian siswa.
SDN 22 Palu juga tetap memberikan perhatian terhadap siswa non-muslim. Karena saat ini terjadi kekosongan guru agama Kristen, sekolah mengambil inisiatif bekerja sama dengan sekolah terdekat agar proses pembelajaran tetap berjalan.
“Kami titipkan siswa untuk belajar agama Kristen di SDN 15 Palu saat jam pelajaran agama. Begitu juga dengan siswa yang beragama Hindu di sekolah terdekat,” ungkapnya.
Nasrin berharap berbagai inovasi pembelajaran yang diterapkan di SDN 22 Palu dapat meningkatkan kualitas pendidikan serta membuat sekolah semakin diminati masyarakat.
Ia menilai keberhasilan program sekolah sangat bergantung pada kolaborasi antara kepala sekolah dan para guru.
“Intinya kolaborasi dengan guru-guru sebagai motor penggerak. Tanpa itu, program sekolah tidak akan berhasil,” pungkasnya.***
Editor : Muhammad Awaludin