RADAR PALU - Setiap pagi, ratusan siswa harus bergantian melewati lorong sempit untuk masuk sekolah di Kelurahan Besusu Barat, Kota Palu. Tidak ada gerbang luas atau jalur evakuasi memadai, hanya akses selebar sekitar 1,2 meter yang dipakai bersama dua sekolah dasar.
Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan setelah Palu berkali-kali menegaskan pentingnya mitigasi bencana pascatsunami 2018.
Sebanyak 123 siswa SDN 26 Palu berbagi akses masuk dengan 145 siswa SD Inpres 2 Besusu. Kedua sekolah berdiri berdampingan di Lorong Bakso, kawasan padat yang tak jauh dari pesisir Pantai Talise.
Lorong sempit itu menjadi satu-satunya pintu keluar masuk bagi ratusan siswa, guru, dan orang tua setiap hari.
Kepala SDN 26 Palu, Maryam, mengatakan kondisi tersebut menjadi kekhawatiran utama, terutama jika terjadi keadaan darurat.
“Akses jalan masuk hanya 1,20 meter. Rawan untuk bencana. Harapan kami yang utama sekarang perbaikan sarana, terutama akses jalan,” ujarnya.
Upaya perbaikan sebenarnya sudah mulai dibahas sejak 2024. Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) bahkan sempat melakukan pengukuran lahan dengan rencana membuka akses lebih lebar, termasuk kemungkinan membongkar sebagian bangunan.
Namun hingga Februari 2026, rencana itu belum terealisasi.
“Sudah diukur semua, tapi sampai sekarang tidak ada kabar,” kata Maryam.
Selain akses jalan, keterbatasan sarana juga terlihat dari tidak adanya perpustakaan sejak 2019. Buku pelajaran disimpan di sudut kelas, sementara ruang UKS belum tersedia.
Menurut Maryam, pihak sekolah telah berulang kali mengajukan permohonan ke Dinas Pendidikan dan instansi terkait. Jawaban yang diterima umumnya masih terkait keterbatasan anggaran.
Kini, sekolah hanya berharap ada kepastian, mengingat lokasi sekolah berada di pusat kota dan dekat kawasan pesisir yang masuk zona rawan bencana.***
Editor : Muhammad Awaludin