RADAR PALU - Di tengah derasnya arus informasi digital, sebagian lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Palu justru masih kesulitan mencari jalan ke bangku kuliah.
Sejumlah guru menilai akses beasiswa dan informasi pendidikan lanjutan bagi penyandang disabilitas belum tersambung dengan baik.
Kasmiati, guru SLB di Palu, mengaku selama tiga tahun mengajar ia jarang melihat siswanya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Isu minimnya akses beasiswa atau jaminan pendidikan lanjutan itu memang terasa sekali,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, mayoritas siswa di sekolahnya berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Sejak sekolah itu berdiri pada 2020, baru dua alumni yang tercatat lulus.
Satu di antaranya penyandang daksa dan satu dengan down syndrome. Namun, peluang untuk melanjutkan kuliah dinilai tetap tidak mudah.
“Yang memungkinkan melanjutkan sebenarnya ada. Tapi akses ke perguruan tingginya yang sulit,” katanya.
Kasmiati juga menyoroti kekhawatiran orang tua terkait potensi perundungan di lingkungan kampus. Ia menilai perlu ada pendampingan khusus dan komunikasi aktif dengan pihak perguruan tinggi.
Selain itu, ia menyebut beberapa guru SLB sendiri masih berlatar pendidikan SMA dan membutuhkan akses beasiswa untuk meningkatkan kompetensi.
Hal serupa disampaikan kepala SLB di Palu yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai bukan berarti akses tidak ada, tetapi sosialisasinya belum menyentuh sekolah.
“Belum ada informasi langsung dari perguruan tinggi atau pemerintah. Jadi alumni kami belum tahu harus mulai dari mana,” katanya.
Guru lain berinisial SM juga menyoroti persoalan data alumni. Menurutnya, database yang ada hanya mencatat jumlah tanpa memetakan kondisi lanjutan pendidikan.
Akibatnya, sekolah kesulitan melacak alumni yang berpotensi melanjutkan studi atau yang membutuhkan pendampingan.
“Kadang ada missing link. Harus cari sendiri informasinya karena belum ada sistem terpadu,” jelasnya.
Para guru berharap ada sinergi antara sekolah, perguruan tinggi, penyedia beasiswa, dan pemerintah daerah agar lulusan SLB maupun sekolah inklusi tidak terputus setelah lulus.***
Editor : Muhammad Awaludin