RADAR PALU - Di balik banyak prestasi olahraga tingkat sekolah dasar di Palu Timur, ada kerja panjang yang jarang disorot. Kerja yang dimulai dari lapangan sederhana, jam latihan sore, dan mata guru yang jeli membaca potensi murid.
Nama Hartati Karto Rifai berada di balik proses itu. Konsisten, tenang, dan nyaris selalu ada di garis awal pembinaan atlet usia dini.
Bagi dunia pendidikan olahraga di Kota Palu, Hartati Karto Rifai bukan nama asing. Perempuan 56 tahun ini dikenal sebagai penggerak pembinaan atlet usia dini, khususnya di Kecamatan Mantikulore.
Selain menjabat Wakil Kepala Sekolah di SD Negeri Model Terpadu Madani Palu, Hartati juga memegang amanah sebagai Ketua Kelompok Kerja Guru Olahraga (KKGO) Palu Timur. Ia membina guru olahraga dari 12 sekolah dasar.
Misinya sederhana, tapi panjang napasnya: memastikan bakat anak-anak tidak berhenti di bangku SD.
“Saya selalu bilang ke teman-teman guru olahraga, ayo lihat potensi anak sesuai lingkungan sekolahnya. Atlet-atlet ini aset daerah, dan semuanya berawal dari SD,” kata Hartati.
Baginya, pembinaan prestasi bukan pekerjaan instan. Ia percaya fondasi atlet daerah, termasuk untuk ajang besar seperti PON, harus disiapkan sejak usia dini.
Dunia olahraga bukan hal baru bagi Hartati. Ia dan suami sama-sama berlatar belakang olahraga. Ketiga anaknya pun tumbuh di jalur serupa—ada yang menjadi dosen olahraga di Universitas Tadulako, guru olahraga, hingga PNS melalui jalur prestasi.
Dedikasinya pernah berbuah prestasi nasional. Klub binaannya, Nabelo, menembus juara dua tingkat nasional pada 2012.
Kini, Hartati kembali bergerak. Ia aktif memperkenalkan olahraga baru, pickleball, kepada para guru olahraga. Semangatnya tetap sama: membangkitkan gairah berolahraga di sekolah.
Menurutnya, sekolah bisa dikenal luas bukan hanya lewat akademik, tapi juga prestasi olahraga. Kuncinya ada pada kepekaan guru membaca karakter murid.
Ia mengamati kebiasaan siswa di kelas, mencatat secara diam-diam, lalu mencocokkannya dengan cabang olahraga yang sesuai.
“Anak yang lincah, hiperaktif, itu cocok ke senam. Karena senam butuh kelincahan dan rasa gerak,” ujarnya.
Bagi Hartati, olahraga juga menjadi cara efektif mengurangi ketergantungan siswa pada gawai, sekaligus menjaga kesehatan para guru.
Namun satu hal tak bisa ditawar: keseriusan.
“Kalau tidak serius, lebih baik berhenti. Kasihan orang tua sudah antar. Olahraga itu tidak bisa setengah-setengah,” pungkas Ketua Klub Nabelo tersebut.***
Editor : Muhammad Awaludin