RADAR PALU - Nama SMA Karunadipa kerap dipersepsikan sebagai sekolah untuk kalangan tertentu. Label itu muncul lama, dan tak selalu datang dari dalam.
Pihak sekolah memilih menjawabnya dengan cara sederhana: membuka ruang, merawat keberagaman, dan membiarkan fakta berbicara.
Di bawah kepemimpinan Jusmin, SMA Karunadipa menegaskan diri sebagai sekolah yang terbuka untuk semua latar belakang. Tidak ada batas keyakinan, etnis, maupun identitas budaya.
“Pandangan orang di luar kadang menganggap Karunadipa sekolah khusus Buddhis atau khusus Chinese. Tapi itu terbantahkan dengan jargon kami: Karunadipa untuk semua,” kata Jusmin, Selasa (3/2/2026).
Keberagaman itu tercermin jelas di dalam sekolah. Sekitar 80 persen tenaga pendidik tercatat beragama Islam. Sementara siswa berasal dari latar belakang yang beragam dan diberi kebebasan menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
Menurut Jusmin, tidak ada dikotomi dalam keseharian sekolah. Aktivitas belajar, pembinaan karakter, hingga kegiatan non-akademik berjalan dalam suasana yang cair dan saling menghormati.
Di sisi prestasi, SMA Karunadipa mencatat capaian yang melampaui batas lokal. Sejumlah alumni bahkan melanjutkan pendidikan hingga ke Tiongkok.
Prestasi non-akademik pun ikut menguat. Mulai dari juara lomba membaca Paritta tingkat nasional hingga juara dua nasional lomba membatik.
Namun bagi Jusmin, capaian bukan tujuan akhir. Pendidikan karakter tetap menjadi fondasi utama.
“Buat apa semua prestasi kalau akhlak moral tidak bagus. Motto kami jelas, berakhlak mulia,” ujarnya.***
Editor : Muhammad Awaludin