RADAR PALU - Keterbatasan guru justru melahirkan kisah pengabdian di SLB ABCD Muhammadiyah Palu, Sulawesi Tengah. Sejumlah alumni memilih kembali ke sekolah lamanya, bukan sebagai murid, tetapi sebagai guru.
Langkah ini tak hanya membantu sekolah, tetapi juga menjadi inspirasi tentang keberlanjutan pendidikan inklusif dari generasi ke generasi.
Salah satu alumni yang kembali mengabdi adalah Sidik, lulusan SLB Muhammadiyah Palu dari jenjang SD hingga SMA.
Sidik kini telah menyelesaikan studi S2 di Surabaya dan aktif sebagai pemateri kegiatan sosial disabilitas.
Pengalaman tersebut dibawanya pulang untuk mengajar siswa di sekolah tempat ia tumbuh.
Alumni lainnya, Khairunnis, juga terlibat aktif melatih adik-adik kelasnya di bidang tilawah dan seni menyanyi.
Kepala SLB Muhammadiyah Palu, Rini Kurniaini, menyebut keterlibatan alumni memberi dampak positif bagi siswa.
“Anak-anak lebih termotivasi karena melihat contoh langsung dari kakak kelas mereka,” ujar Rini.
Menurutnya, alumni memahami karakter dan kebutuhan siswa disabilitas karena pernah melalui proses yang sama.
Kepercayaan orang tua pun meningkat, ditandai dengan laporan positif dan bertambahnya jumlah siswa baru.
Partisipasi alumni dalam dunia pendidikan menjadi salah satu model penguatan pendidikan inklusif, terutama di daerah dengan keterbatasan tenaga pendidik khusus.***
Editor : Muhammad Awaludin