RADAR PALU — Di tengah persaingan pendidikan yang kerap menekan siswa dengan target akademik, Sekolah Otak Kanan Palu justru mengambil jalan berbeda. Sekolah ini membuktikan bahwa prestasi dapat diraih tanpa tekanan, dengan menjadikan kenyamanan hati siswa sebagai fondasi utama proses belajar.
Pendekatan tersebut mulai membuahkan hasil. Siswa-siswi Sekolah Otak Kanan Palu sukses meraih medali pada ajang Indonesia International Student Competition (IKSC) 2025 dan kini tengah menanti hasil babak provinsi Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR).
Kepala SMA Otak Kanan Palu, Kartika, menyebut kunci keberhasilan tersebut terletak pada pendekatan emosional yang sehat antara guru dan siswa.
“Strateginya sederhana, buat anak nyaman. Kalau hatinya menerima, materi yang sulit sekalipun akan lebih mudah dipahami,” ujar Kartika, Rabu (28/1/2026).
Sekolah Otak Kanan Palu memadukan Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum Fitrah, sebuah pendekatan yang menempatkan karakter dan kesiapan mental siswa sejajar dengan capaian akademik. Konsep ini diterjemahkan melalui berbagai program unggulan yang dirancang menyentuh aspek kognitif, emosional, dan spiritual.
Salah satu program andalan adalah Life Skill, di mana siswa dibekali keterampilan dasar kehidupan sehari-hari, seperti menyetrika, mencuci peralatan makan, melipat pakaian, hingga memasak. Program ini dinilai penting untuk membentuk kemandirian sejak dini.
Selain itu, terdapat program Muhadoro bagi jenjang SMP yang melatih keberanian tampil dan berdakwah, serta Safari Ramadan khusus jenjang SMA yang mengasah kepemimpinan dan kepedulian sosial siswa di bulan suci.
Yang tak kalah menarik, sekolah ini menerapkan Program Karakter Building untuk siswa SMP dan SMA. Program ini menghadirkan sesi konseling rutin yang dilakukan usai salat Zuhur berjamaah, dengan jadwal kelas yang telah ditentukan.
“Di sesi itu anak-anak didengarkan. Mereka bebas bercerita tentang keresahan atau masalah yang dirasakan. Guru benar-benar memasang telinga,” ungkap Kartika.
Dalam aspek dakwah, Sekolah Otak Kanan Palu juga menerapkan standar ketat. Penilaian tidak hanya berfokus pada kemampuan berbicara, tetapi juga penerapan adab dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau tampilnya bagus tapi adabnya belum mencerminkan, kami minta belajar dulu. Kami tidak ingin anak hanya kuat di teori tapi lemah di praktik,” jelasnya.
Bagi siswa yang tinggal di asrama, pembinaan dilakukan selama 24 jam dengan pendampingan mushrif. Mereka dibekali kajian fikih ibadah, bahasa Arab, hingga pembiasaan puasa sunah sebagai bagian dari pembentukan karakter.
“Guru di sini bukan hanya menyampaikan materi, tapi juga hadir sebagai pendengar. Itu yang membuat anak merasa dipedulikan,” tutup Kartika.
Dengan pendekatan holistik tersebut, Sekolah Otak Kanan Palu perlahan menunjukkan bahwa pendidikan yang humanis bukan hanya membentuk karakter, tetapi juga mampu melahirkan prestasi akademik yang membanggakan.***
Editor : Muhammad Awaludin