RADAR PALU – Di tengah gempuran teknologi dan kecerdasan buatan, tantangan pendidikan bukan lagi sekadar mengajarkan cara menggunakan mesin. Yang lebih penting adalah membentuk mental berani berpikir, mencoba, dan tampil. Itulah pendekatan yang diterapkan SMP Labscool Untad Palu.
Sekolah ini menjadikan Robotik sebagai mata pelajaran wajib sejak siswa duduk di kelas satu. Bukan sekadar mengenal teori, para siswa ditantang merangkai dan menciptakan produk nyata, mulai dari tong sampah otomatis hingga mobil-mobilan elektrik.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Labscool Untad Palu, Mariana, menyebut Robotik memang dirancang sebagai identitas sekolah sejak awal berdiri.
“Anak-anak diajarkan untuk merangkai, membuat misalnya tong sampah otomatis. Kita memang punya mata pelajaran Robotik,” ujar Mariana saat ditemui di sekolah, Jumat (23/1/2026).
Namun, inovasi di Labscool Untad tak berhenti pada teknologi. Sekolah ini juga mengubah cara siswa berinteraksi dengan literasi. Alih-alih hanya membaca buku lalu mempresentasikan ringkasan, siswa justru diajak mendiskusikan isu nyata yang dekat dengan kehidupan mereka.
Wali kelas menyiapkan satu bahan riset, misalnya isu penyalahgunaan narkoba. Materi tersebut kemudian dipresentasikan oleh siswa di depan kelas lain dan dibuka untuk sesi diskusi serta tanya jawab.
Menurut Mariana, metode ini memberi pengalaman emosional dan intelektual yang lebih kuat bagi siswa.
“Kalau mereka diskusi, tanya-jawab, itu akan ada kesan tersendiri. Anak-anak jadi berani berbicara di depan, kita latih juga keberanian untuk tampil,” tegasnya.
Pendekatan tersebut dinilai mampu melatih lebih dari sekadar kemampuan akademik. Siswa belajar menyampaikan gagasan, mempertahankan argumen, sekaligus menghargai pandangan orang lain—keterampilan yang dibutuhkan di era kompetisi global.
Dengan memadukan Robotik dan diskusi isu, SMP Labscool Untad Palu membangun ekosistem belajar yang tidak hanya mencetak siswa cakap teknologi, tetapi juga siap menjadi inovator yang percaya diri dan kritis menghadapi masa depan.***
Editor : Muhammad Awaludin