RADAR PALU – Di sebuah bangunan huntara berdinding tripleks yang mulai retak, suara tawa anak-anak tetap menggema. Di sanalah TK Alkhairaat 2 Palu bertahan, menjaga nyala pendidikan meski bangunan sekolah mereka telah lama runtuh akibat bencana.
Saat Tim Radar Palu Jawa Pos Group berkunjung, Kamis (22/1/2026), kehangatan langsung menyergap. Anak-anak kecil berlarian, menyalami tangan, lalu memeluk hangat. Pemandangan yang kontras dengan kondisi ruang belajar yang rawan pencurian, minim fasilitas, dan dikelilingi barang-barang bekas sekolah.
Pembelajaran berlangsung sederhana namun penuh semangat. Anak-anak diajari berhitung menggunakan tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia. Proses belajar tetap berjalan layaknya taman kanak-kanak pada umumnya, meski dilakukan di bangunan hunian sementara.
Di balik ketegaran itu, tersimpan pilu panjang. Kepala TK Alkhairaat 2 Palu, Nadiawati Pakawaru, tak kuasa menahan emosi saat mengenang perjalanan sekolah yang telah ia rawat selama 14 tahun. Sekolah dua lantai yang dulu menjadi kebanggaan kini tinggal puing.
“Sekarang kami cuma bisa menunggu,” ujarnya lirih, suaranya bergetar.
Sejak gempa meluluhlantakkan gedung sekolah, aktivitas belajar terpaksa berpindah ke lahan pinjaman dengan bangunan huntara bantuan Yayasan Sayangi Tunas Cilik. Hingga kini, belum ada kepastian pembangunan kembali.
Kondisi ini berdampak langsung pada jumlah murid. Dari semula sekitar 40 anak, kini hanya tersisa 21 siswa. Ironisnya, hanya empat wali murid yang rutin membayar SPP. Namun keterbatasan ekonomi tak menjadi penghalang bagi pihak sekolah untuk tetap menerima dan bahkan menjemput anak-anak yang seharusnya sudah bersekolah.
“Anak-anak tidak mampu tetap kita jemput. Kasihan kalau mereka tidak sekolah,” tutur Nadiawati.
Demi keberlangsungan pendidikan, Nadiawati bahkan merelakan sebagian gaji dan tunjangan sertifikasinya untuk membayar honor dua guru honorer. Sebagai PNS angkatan 2022, ia merasa memiliki tanggung jawab moral agar sekolah tidak berhenti beroperasi.
“Satu juta rupiah tiap bulan saya keluarkan untuk dua guru. Dari gaji saya sendiri,” katanya.
Upaya mencari bantuan sudah dilakukan berulang kali. Proposal ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu hingga surat permohonan ke PU dan BPBD telah diajukan. Namun, sebagian besar berujung tanpa hasil. Bahkan untuk sekadar merobohkan bangunan lama yang membahayakan, ia harus mengandalkan bantuan pribadi dari anggota DPRD.
Masalah lain pun datang silih berganti. Sekolah tak memiliki akses air bersih, fasilitas belajar dicuri, dinding beberapa kali dibobol, hingga bangunan huntara yang ringkih tersenggol kendaraan warga. Namun semua itu tak memadamkan tekad.
Meski sempat terlintas untuk menutup sekolah, Nadiawati memilih bertahan.
“Kita tetap jalankan tugas. Sampai ada orang yang terbuka hatinya untuk melihat sekolah kita,” ucapnya penuh harap.
Hingga berita ini diterbitkan, Radar Palu masih berupaya mengonfirmasi pihak Yayasan Alkhairaat terkait kondisi TK Alkhairaat 2 Palu dan rencana penanganannya ke depan.***
Editor : Muhammad Awaludin