RADAR PALU – Tujuh tahun setelah gempa merusak bangunan sekolah dan menyisakan kekhawatiran akan keselamatan siswa, SDN Tondo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, kini menunjukkan wajah baru. Gedung yang dulu retak dan rawan, telah direkonstruksi menjadi bangunan dua lantai dengan struktur yang lebih kokoh dan aman.
Transformasi ini tidak hanya menjadi simbol pemulihan fisik pascagempa, tetapi juga penanda kebangkitan kualitas pendidikan dan lingkungan sekolah. Di bawah kepemimpinan Kepala SDN Tondo, Leni Anggraeni, sekolah ini kembali menatap target besar: merebut kembali predikat Adiwiyata Nasional yang pernah diraih pada 2015.
Leni bukan sekadar pemimpin administratif. Ia merupakan alumni SDN Tondo yang merasakan langsung bagaimana sekolah itu tetap digunakan siswa meski bangunan dalam kondisi mengkhawatirkan selama bertahun-tahun.
“Gedung kami itu gedung yang dirusak gempa. Saya orang sini, sekolah di SDN Tondo waktu kecil. Alhamdulillah, saat saya memimpin di sini, akhirnya bisa direhab,” ujar Leni mengenang, saat di temui Selasa (6/1/2026) pekan lalu.
Proses rekonstruksi gedung tidak berjalan mulus. Leni mengungkapkan, terdapat penyesuaian anggaran karena penguatan struktur bangunan harus dilakukan lebih dalam dari perencanaan awal demi menjamin keselamatan jangka panjang.
Tak berhenti pada pembangunan gedung, perubahan juga menyasar fasilitas pendukung sekolah. Melalui pola swadaya dan kemitraan dengan orang tua murid, SDN Tondo membangun pagar baru dan panggung kreasi siswa. Pagar lama berbahan besi dengan ujung runcing dinilai berbahaya, terutama di area tempat siswa beristirahat dan makan siang.
“Pagar itu tidak boleh dibiayai dana BOS. Jadi kami musyawarah dengan orang tua. Tidak ada paksaan. Kami perlihatkan kondisinya, kalau mampu silakan, kalau tidak juga tidak apa-apa,” tegas Leni.
Hasilnya, pagar sekolah kini lebih aman, ramah anak, dan estetik. Upaya tersebut memperkuat SDN Tondo sebagai ruang belajar yang nyaman sekaligus aman bagi siswa.
Dengan bangunan yang sudah direkonstruksi dan lingkungan yang kembali ditata hijau setelah sempat tertutup material proyek, SDN Tondo kini melangkah ke fase berikutnya. Leni menargetkan bukan hanya mengulang prestasi Adiwiyata Nasional, tetapi juga menembus tingkat Mandiri hingga Internasional.
Kebangkitan SDN Tondo menjadi bukti bahwa sekolah pascagempa tidak hanya bisa pulih, tetapi juga melompat lebih jauh—berkat kepemimpinan, gotong royong, dan kepedulian terhadap keselamatan serta masa depan generasi muda.***
Editor : Muhammad Awaludin