RADAR PALU – Berada di kawasan pesisir tepatnya di Kampung Nelayan, Tondo, kota Palu tidak membuat SMK Negeri 7 Palu sekadar menjadi tempat belajar teori kelautan.
Di bawah nakhoda Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah, Sunarto, sekolah ini kian mempertegas identitasnya sebagai pencetak taruna yang disiplin dan religius.Sunarto menjelaskan, pendidikan karakter menjadi menu utama di sekolahnya.
Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas, seluruh siswa muslim diarahkan ke masjid.
"Itu semua siswa yang muslim setelah apel pagi, itu kita arahkan ke masjid untuk salat duha. Kemudian yang berikutnya dan itu tidak terlepas kontrol dari guru pendidikan agama," ujarnya saat ditemui, Selasa (6/12/2026).
Tidak hanya waktu Duha, aktivitas ibadah berlanjut hingga Zuhur dan Asar sebelum para siswa diperbolehkan pulang melalui apel sore.
Pola ini sengaja diterapkan untuk menjaga kontrol dan kedisiplinan siswa yang menyandang status taruna. Menariknya, SMKN 7 Palu juga menerapkan pola pembinaan fisik yang bekerja sama dengan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Palu.
Sunarto tak menampik adanya kesan "semi-militer" dalam keseharian siswa. Namun, ia meluruskan bahwa latihan fisik seperti push-up dan squat jump bukanlah hukuman.
"Adalah sedikit disiplin-disiplin seperti mereka bilang itu, SMK 7 itu ada sedikit semi-militernya. Ada sedikit-sedikit saja, karena kita kerjasama dengan Lanal Palu," tuturnya. Ia menambahkan, fisik yang kuat adalah keharusan di dunia maritim.
"Jangan sampai baru satu langkah di kapal sudah muntah, nah itu kan semua yang sudah mabuk laut," selorohnya.
Bahkan, tradisi unik seperti squat jump bagi siswi dan push-up bagi siswa saat apel sore dipandang sebagai upaya menjaga kebugaran para taruna dan taruni.
"Begitu saya pelajari itu bukan hukuman, tetapi itu salah satu untuk latihan fisiknya mereka. Mereka juga senang supaya untuk kebugaran mereka," pungkas Sunarto.(cr1)
Editor : Talib