Sore itu Sekretariat Madamba Rara tampak sepi. Rumah Singgah Madamba yang terletak di Jalan Anoa II Jembatan Lalove, Palu Selatan itu menjadi tempat di mana para disabilitas bernanung. Ada banyak denyut kehidupan berlanjut di bawah atapnya.
LAPORAN: Ade Safitri, Radar Palu
SALAH satunya adalah Muhammad Risky. Pemuda tunanetra yang punya mimpi besar mengubah nasibnya dengan meraih gelar sarjana. Namun saat ini Risky, begitu dia akrab disapa, lebih punya banyak waktu luang. Dia sedang berstatus cuti dari perkuliahan
“Kita di sini bernaung, sekaligus forum kita menyuarakan pendapat, menyuarakan hak-hak atau aspirasi dari penyandang disabilitas itu sendiri,” ujar Risky kepada Radar Palu Jawa Pos Group saat ditemui pada Jumat (24/10/2025).
Saat ditemui di rumah singgah, Risky mengaku kini lebih banyak mengabadikan waktunya untuk mengurus komunitas disabilitas. Tempat itu bukan hanya menjadi rumah yang memberikannya atap dan ruang nyaman untuk tidur, tapi juga menjadi dunianya saat ini.
Pemuda berambut ikal dengan kulit sawo matang itu memang terlihat sebagai seorang aktivis mahasiswa. Dari cara bicara dan pandangannya terhadap sesuatu. Tajam dan penuh analisa. Apalagi bila tahu dirinya punya segudang aktivitas, bakat dan tentunya prestasi.
Bila bertemu pertama kali dengannya, orang bisa salah paham. Risky bisa terlihat seperti mahasiswa tanpa disabilitas. Ini dikarenakan Risky tergolong sebagai low vision.
Orang awam akan menganggap seorang tunanetra adalah buta total. Namun seseorang dengan keterbatasan dan gangguan penglihatan low vision seperti Risky, juga termasuk dalam golongan disabilitas. Kesalahpahaman ini secara tidak langsung membuatnya terkadang diperlakukan tidak tepat.
“Kondisi kesehatan mata sebenarnya, dibilang sakit, tidak sakit, sih. Cuman, karena memang ini sudah dari Yang Di Atas yang kasih,” ujar Risky saat ditanya soal kondisi matanya.
Risky bercerita tahu tentang kondisi matanya dari dokter yang memeriksanya. Dulu saat di bangku sekolah, dia suka ikut berbagai lomba. Mulai dari kesenian (menyanyi) hingga atletik (lari). Dari situ dia harus memeriksakan matanya.
Dari hasil pemeriksaan dokter memvonisnya dengan low vision. Jarak pandang mata kiri Risky 6/12 atau 6 meter. Sementara, radius pandang mata kanan 4/12.
Uniknya, kedua mata Risky berfungsi di waktu yang berbeda. Mata kiri berfungsi di waktu siang hari, sedangkan mata kanan dominan di waktu malam. Anehnya, saat harus berlari, justru mata kanan yang bisa diandalkan.
Ketika masih bersekolah di SD umum, para guru berinisiasi memakaikan Risky kacamata minus. Namun, nihil. Dia menduga, kondisinya genetik dari sang Ibu yang juga tunanetra low vision. Sebab kedua adiknya punya kondisi yang sama.
“Justru kalau mau dipaksakan (pakai kacamata) malah dampaknya besar untuk mata saya,” ungkapnya.
Sejak kelas dua SMA, laki-laki kelahiran Palu itu sudah memilih berpisah dari keluarganya. Bagi dia sebagai anak laki-laki tertua, dia harus mengambil jalan hidupnya sendiri.
Akhirnya Risky meninggalkan gedung Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Tempat Ayah, Ibu, dan kedua adik laki-lakinya bertumpu. Dia tidak ingin bergantung lagi. Terlebih, ayah kandungnya telah meninggalkan dia dan sang ibu sejak usianya 5 tahun. Sementara, Ayah tirinya berprofesi sebagai buruh tukang dan ibunya buruh cuci sekaligus tukang pijat.
Selama 13 tahun dia menempuh pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) Muhammadiyah Palu. Hal yang wajar sebenarnya bagi anak disabilitas. Namun, bagi Risky, dia sudah tertinggal jauh dari kawan lainnya.
Hal itu mendorong Risky untuk berjejaring dengan berbagai orang yang ditemui. Dia aktif berorganisasi di forum-forum disabilitas. Berbagai lomba diembat. Rekam jejaknya di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) cabang olahraga lompat jauh diukir dari Bandung tahun 2015, Solo 2017 dia membawa pulang medali perak untuk Sulawesi Tengah. Lanjut 2019 pertandingan di Jakarta dan Solo 2024.
Sebelumnya, Risky memulai petualangan hidupnya di Rumah Merah Putih Difabel Berkarya empat tahun lamanya. Di sana, dia memimpin komunitas disabilitas sebagai wakil ketua. Selepas masa jabatan, Risky diminta tinggal di Sekretariat Madamba Rara.
Bercita-cita Raih Gelar Sarjana
Setelah lulus SMA, Risky menempa pengalamannya bekerja di Alfamidi selama 5 bulan. Lanjut selama 7 bulan lagi menjadi Sales Motor Honda. Dengan sisa tabungannya, dia memberanikan diri mendaftar ke perguruan tinggi.
“Kalau tidak ada gelar, saya bakal selamanya stuck (buntu, red) begini. Motivasi saya kuliah karena satu, saya memang ingin belajar dan ada cita-cita ke sana (kuliah). Dan saya pikir, saya juga sudah lumayan tertinggal dari teman-teman seangkatannya saya,” curhatnya.
Risky pun diterima masuk sebagai mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako (Untad). Dari titik ini, perjuangan Risky tidaklah mudah.
Saat itum Risky menghadapi tantangan uang kuliah tunggal (UKT) yang tidaklah sedikit baginya.
Namun, kegigihannya mendorong Pembina Rumah Merah Putih mengulurkan bantuan.
“Syukurnya juga, selama saya berorganisasi kinerjanya bagus, jadinya orang tidak ragu meembantu saya di awal. Walaupun memang ada kesepakatan mengembalikan UKT waktu itu,” ucapnya.
Hingga kini, Risky mengaku belum sanggup mengembalikan uang yang diutangnya itu. Tidak sampai di situ, kekurangan informasi membuat Risky masuk melalui jalur umum, bukan afirmasi. Namun, Risky sigap menjelaskan kondisinya pada panitia Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT). Risky pun ujian sendirian di hari yang berbeda dari calon peserta lainnya.
Untuk menopang kehidupannya, Risky ngamen di sela-sela kesibukan kampus. “Saya kuliahnya pagi. Sore itu, saya harus ngamen, cari uang untuk besok pagi,” ceritanya.
Dia juga giat ikut pelatihan dari instansi pemerintahan atau komunitas serta Bakti Sosial. Dari sana Risky mendapatkan uang transportasi. Uang itulah yang disisihkannya untuk kebutuhan sehari-hari.
“Selain itu, saya cari tempat untuk saya ngamennya itu lebih layak lagi,” ujarnya.
Kadang pula dia dan kelompok musisi disabilitas dipanggil manggung di festival atau event. Namun pendapatan ngamen tidak menentu. Kadang Risky harus izin atau absen dari kelas karena tidak sanggup membayar ongkos jalan ke kampus. Hal ini berimbas pada anjloknya IPK ke angka 1.3.
Minum Air Wudu Demi Tahan Lapar
Jaraknya Rumah Singgah Madamba Rara ke kampus Untad, mengharuskan Risky bolak-balik naik ojek online setiap harinya. Mobilitas tersebut merenggut Rp16 ribu sekali jalan. Katanya, terkadang biayanya bisa lebih dari itu.
“Ada satu momen saya harus ikut PEPARNAS, Paralimpik Nasional. Itu sekitar bulan Oktober kemarin, 2024. Kadang saya itu tidak makan. Jadi, dari pagi, kan saya latihannya sekitar jam 3 kan. Anggaplah saya itu selesai mata kuliahnya jam 12,” kenang Risky.
Demi mengakalinya, jam 13.00 - 14.00 WITA, Risky akan beristirahat sejenak di Musala FISIP Untad. Hal ini untuk menghemat ongkos jalan. Ketimbang dia bolak-balik antara rumah, kampus, dan SMANOR tempat latihanya.
Beruntungnya, Risky memiliki circle pertemanan yang saling mendukung. Mereka punya budaya “patungan”. Jika Risky sedang kehabisan uang, teman-temannya akan membantu membelikan makanan. Begitupun sebaliknya.
“Biasanya kalau misalnya saya ada uang lebih, gantian saya lagi yang patungan lebih besar porsinya sekitar Rp7 ribu, Rp10 ribu bahkan. Tapi, kalau misalnya tidak ada, mau diapa, saya paling patungan Rp2 ribu, sisanya mereka lagi yang tutupi,” ucapnya.
Terkadang bila sama sekali tidak bisa makan, Risky pergi ke Musala FISIP Untad. Bersama satu lagi kawannya tunanetra yang sayangnya kini sudah berhenti berkuliah.
“Kita akali, kita minum air wudu, minum air keran itu, di tengah hari tua itu. Terus kita baring-baring di Musala sampai jam setengah tiga atau jam tiga,” katanya.
Demi menghemat, meski sekitar Rp2 ribuan, biasanya Risky diantar Ojek sampai pintu gerbang kampus. Sisanya Risky berjalan kaki melalui Fakultas Teknik, Kedokteran, Perikanan, hingga akhirnya sampai di FISIP.
Selama proses pembelajaran, Risky merasa semua berjalan lancar. Dosen pun memahami kondisi mata Risky. Namun, medan jalan di FISIP yang penuh undakan tangga sering kali menyulitkannya. Terkadang dia merasa sudah mengingat rute, tapi tetap saja kakinya tersandung tangga. Risky juga kesulitan membaca tulisan ruang kelas yang terlalu kecil.
Tapi, Risky tetap menikmatinya. Dia merasa itu hal wajar bagi mahasiswa baru.
“Kadang-kadang kan kita pakai infocus di depan itu, kan. Itu di pampang di atasnya papan tulis. Nah, itu saya akali biasanya kalau ada slide, jadi kan saya punya HP, jadi HP ini saya pakai untuk foto,” katanya.
Meski masih bisa melihat, jarak pandang mata Risky ke ponsel hanya sejengkal. Terkadang pun bisa lebih dekat lagi tergantung pencahayaan di sekitarnya.
“Walaupun kadang-kadang juga tidak kelihatan karena silau. Tapi, setidaknya ada materi yang bisa saya tangkaplah. Di samaping itu kan juga dijelaskan sama pihak dosennya,” ujarnya.
Tersandung Birokrasi Kampus
Karena melalui jalur umum, Risky harus menanggung beban UKT setiap semesternya. Namun, semua keterbatasan tidak lantas padamkan semangatnya untuk berkuliah. Dia mencoba mengais informasi di akun media sosial kampus dan bertanya sesama kawan disabilitas mengenai beasiswa afirmasi.
Pada semester I Tahun 2024, dia mencoba mendaftar beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK). Didatanginya lah BAKP. Sayangnya, sebagai mahasiswa baru, data Riski belum terdaftar di PDDIKTI.
“Ketika saya cek, bukan cuman saya punya nama di situ belum terdaftar. Tapi, teman-teman yang lain di kelasku itu pun juga belum ada. Jadi, saya pikir oh, hal yang wajar,” pikirnya.
Tidak mau menyerah dengan keadaan, Risky pergi ke BAKP walau berakhir dioper ke Dekan FISIP Untad priode 2024, Muhammad Khairil. Kala itu, dekan dengan sigap menelepon pihak BAKP agar memprioritaskan dirinya.
Pada Rabu sore, Risky kembali mendatangi BAKP dan pulang membawa janji bahwa namanya akan muncul di PDDIKTI pada hari Jumat. Mirisnya, datanya terlacak selang 4 hari usai pendaftaran beasiswa ADIK ditutup tepatnya pada bulan Oktober 2024.
Dia pun belum bisa mendaftarkan diri dan memutuskan mengurus beasiswa Pemerintah Kota (Pemkot) Palu. Sayangnya, beasiswa Pemkot kandas karena belum ada kejelasan dari pihak penyelenggara.
Secercah harapan kembali datang di tahun 2025. Dari salah seorang kawan mahasiswa tunanetra mengabari bahwa beasiswa ADIK dibuka lagi dan ditutup tanggal 31 Mei 2025.
Pada 23 Mei, Risky lekas menghubungi admin di BAKP via WhatsApp, “Kak, bagaimana, ini sudah buka kayaknya (beasiswa ADIK), saya lihat di internet seperti itu,” tulisnya.
Sayangnya, pesan itu hanya dibaca. Pada bulan September 2025, tepat di hari penutupan pendaftaran, admin tersebut tiba-tiba meminta Risky mengurus pemberkasan beasiswa.
Meski gagal mendapatkan beasiswa ADIK, Risky masih punya kesempatan di beasiswa Pemkot Palu yang telah diurusnya sejak akhir 2024.
“Saya rasa kurang keseriusan mereka untuk menjaring yang baru-baru (mahassiswa baru) ini. Mungkin juga dari pihak mereka ini tidak saling koordinasi kalau di angkatan ini ada satu atau dua orang disabilitas yang baru masuk. Jadi, pihak BAKP-nya pun baru tahu, kecuali kita disabilitas yang mendatangi mereka,” asumsi Risky.
Perjuangan Risky berujung buntu ketika pembayaran UKT juga ditutup. Risky terpaksa dicutikan otomatis oleh kampus.
Meski berbagai kegagalan menghantamnya, dia masih mencoba peruntungan. Dia kembali mendatangi pengurus beasiswa Pemkot dari Kesejahteraan Rakyat (KESRA).
“Ketika saya tanyakan, dia bilang, sebaiknya mundur saja, Dek. Karena kau ini kan sudah cuti, jadi maksudnya mereka dari Pemkot, bayar saja UKT (semester 3) kamu kuliah saja dulu, tetap mau cair tahun 2025 ini, bulannya berapa belum pasti sebenarnya,” pilunya saat bercerita pada Tim Radar Palu.
Dia pun dipukul mundur oleh pernyataan pahit itu. Padahal besar harapannya bisa membayar UKT semester 3 dari uang beasiswa Pemkot. Namun, lagi-lagi Risky belum menyerah. Dia bernegosiasi.
Berharap kebijakan pihak KESRA untuk mengurus pemberkasannya dan mencairkan uang beasiswa untuk semester 4, sementara waktu dia akan cuti di semester 3. Sayangnya, ada regulasi yang harus didahului sebelum empati.
“Daripada kau disuruh mengembalikan nanti,” ucap Risky menirukan pernyataan pihak KESRA.
Sudah kalah telak. Risky juga dibuat kecewa sebab regulasi beasiswa Pemkot memaksanya menyertakan foto rumah yang dia pun tidak punya. Rumahnya beserta sertifikat tanah tenggelam ditelan bencana likuefaksi 2018.
Di sisa upayanya, Risky tidak sanggup memanjat tembok SOP untuk mengetuk simpati Panitia dengan cerita keluarganya yang hidup di LKS. Kebisuan panitia pun mengakhiri perjuangannya.
“Itu tidak masuk persyaratan. Karena itu bukan rumah pribadi. Segubuk-gubuknya rumahnya orang, kalau misalnya itu difoto ya, itu tetap rumahnya. Tapi, kalau saya ini kan LKS,” kesahnya.
Dia pun melanjutkan hidupnya ngamen di jalanan. Pada setiap petikan gitar, diam-diam Risky masih menghibur diri, bahwa kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya akan datang kembali.
Akan Diperjuangkan Dekan dan Wadek
Dikonfirmasi terpisah soal birokasi kampus berbelit yang melilit Risky, Dekan FISIP Untad, Muh. Nawawi dan Wakil Dekan Akademik (Wadek) Moh. Irfan Mufti mengaku terkejut. Keduanya mengaku tidak mengetahui apa yang dialami Risky kepada Radar Palu.
“Saya menjadi Dekan itu di bulan Maret (2025) kasus ini tidak ada sampai (di) kami. Sehingga ini betul-betul di luar sepengetahuan kami baik saya Dekan maupun apalagi misalnya Wadek I yang menangani masalah ini,” ungkap Dekan Nawawi pada Jumat (31/10/2025).
Dia juga menambahkan bahwa kebijakan Universitas mencutikan mahasiswa yang terlambat bayar UKT agar tidak ada penunggakan pada semester yang akan berjalan.
“Nah, dia ini (Risky) jalur umum. (Tidak masuk) jalur afirmasi (saat mendaftar),” ujar Nawawi mengetahui data Risky sebagai mahasiswa disabilitas tidak terbaca oleh sistem kampus.
“Kalau dia masuk di jalur afirmasi, banyak program yang di afirmasi mungkin dia (bisa dapat),” tambah Wadek Irfan.
Keduanya pun meminta audiensi bersama Risky yang akan dilakukan pada Selasa besok (4/11/2025).
Melalui pesan WhatsApp, Wadek Akademik Irfan mengabari hasil diskusi mereka dengan Kepala Bagian Akademik dan Manager Wakil Pusat Pengembangan dan Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran (PMPP) bahwa pihak kampus akan melaporkan kondisi Rizky pada Wasbang PPAPT yang mengurus program ADIK di Kemendikti.
“Hasil diskusi dengan Kabag Akademik di BAK, semoga ada jalan untuk afirmasi,” tulis Irfan pada Sabtu (1/11/2025).
Dia pun menambahkan statmen akan memperjuangkan Risky. “Intinya kami perjuangkan semampu kami,” tegasnya pada Minggu (2/10/2025).(**)
Editor : Nur Soima Ulfa